Jurusan Broadcasting SMK Negeri 1 Semarang Gelar Brofest 2.0

Print Friendly and PDF

Sesi presentasi feature. Sesi ini didedikasikan untuk menampilkan karya-karya sinematik yang lebih panjang dan mendalam. 


Jurusan Broadcasting SMK Negeri 1 Semarang Gelar Brofest 2.0 

Semarang- majalahlarise.com -Jurusan Broadcasting SMK Negeri 1 Semarang menggelar Broadcasting Festival 2.0 sebuah acara tahunan yang memfokuskan pada dunia penyiaran dan sinema. Festival ini berhasil menyatukan berbagai kalangan mulai dari pelajar, profesional industri hingga pecinta karya untuk merayakan serta mengapresiasi karya-karya terbaik di bidang film pendek, drama radio, dan feature. Minggu (19/5/2024).

Salah satu sorotan utama dari Brofest 2.0 adalah menampilkan berbagai karya film pendek. Film-film pendek yang diputar dalam festival ini beragam, mulai dari genre drama, komedi, horor, hingga dokumenter. Setiap karya menawarkan perspektif unik dan segar serta mencerminkan keanekaragaman budaya dan kehidupan di Indonesia.

Beberapa film pendek yang paling menarik perhatian penonton antara lain adalah “Lamaran Berdarah”, sebuah film yang menceritakan tentang dua sejoli yang memiliki niat untuk makan malam bersama namun berakhir berdarah ketika sang pria berubah wujud dan menghabisi keluarga, dan “Sacred Irony”, sebuah film komedi yang berhasil membuat penonton tegang dengan plot twist yang tak terduga.

Baca juga: Praktikum Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FISH Univet Bantara Produksi Acara Talkshow Televisi

Selain film pendek Brofest 2.0 juga menampilkan sesi presentasi feature. Sesi ini didedikasikan untuk menampilkan karya-karya sinematik yang lebih panjang dan mendalam. Hal ini memberikan kesempatan bagi penonton untuk mendapatkan pandangan yang lebih luas tentang perkembangan tren dan teknologi di dunia. 

Pada acara Brofest, menampilkan satu karya feature yang berjudul “Tugu Waseso” yang membahas sebuah bangunan tugu di Dusun Pandanan, Desa Soropaten, Kecamatan Karanganom, Klaten, sejak lama menjadi tetenger desa.

Karya dokumenter pun tak luput untuk ditayangkan. Salah satu dokumenter yang paling dinantikan adalah “Sinila 149”. Sebuah dokumenter radio yang membahas meledaknya 1 kawah vulkanik yang mampu merusak dan menghilangkan ribuan nyawa. Dokumenter Radio ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana keadaan pada saat bencana alam itu terjadi, tutur Yusuf Ansori editor Sinila 149.

Ketua Panitia Brofest 2.0 Mario Teguh Satria, S.Tr.Ikom menyampaikan di Brofest 2.0 ini juga menghidupkan kembali kejayaan drama radio. Penonton dapat merasakan langsung proses produksi drama radio dan menikmati pertunjukan yang menggetarkan melalui suara.

Drama radio “Teman Sebangku” yang juga mencuri perhatian para penonton Brofest 2.0 menceritakan dua orang murid yang bersaing untuk mendapatkan nilai terbaik. Dengan pengisi suara yang berbakat dan efek suara yang memukau, drama radio ini berhasil membawa pendengar masuk ke dalam alur cerita yang mendebarkan.

Broadcasting Festival 2.0 juga diisi dengan sharing bersama Tries Supardi  membahas “From Script To Screen”. Brofest 2.0 ditutup dengan sharing mengenai sebuah karya film pendek. Festival ini tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya tetapi juga tempat berkumpulnya para kreator untuk berbagi ide, berjejaring, dan menginspirasi satu sama lain.

Dengan berbagai acara dan karya yang dipamerkan, Brofest 2.0 berhasil menunjukkan potensi besar dan kreativitas tak terbatas dari industri penyiaran dan sinema di Indonesia. Festival ini diharapkan terus menjadi wadah yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan talenta-talenta baru di masa depan. (Konan/ Sofyan)

Baca juga: Kolaborasi Kementerian Luar Negeri BEM Tiga Kampus Lewat Studi Banding Antar Anggota BEM


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top