Hakikat Berbahasa dalam Konteks Kehidupan Sehari-hari

Print Friendly and PDF

Hakikat Berbahasa dalam Konteks Kehidupan Sehari-hari


Oleh: Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

Dosen PBSI FKIP UNS, Ketua Umum ADOBSI, & Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa

Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube: M Rohmadi Ratulisa


Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum


"Kawan, indahnya semesta kala kita dapat menyampaikan ide dan gagasan dengan bahasa verbal dan nonverbal yang dapat diingat dan dikenang sepanjang masa dengan bahagia kala senja tiba"


       Bahasa sebagai alat komunikasi verbal dan nonverbal bagi seluruh umat manusia di bumi. Berbahasa dapat dilakukan dalam situasi formal dan non formal setiap saat dengan bahasa verbal dan nonverbal. Bahasa verbal berati mengunakan tuturan atau tulisan yang memanfaatkan fonem vokal dan konsonan, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan wacana dalam berbagai konteks kehidupan yang diucapkan secara lisan dan atau dituliskan dalam bentuk tulisan. Misalnya: Mas Mamad: “Grendis,  tahu tidak hari ini hari apa?” Grendis: “Tahu Mas Mamad, hari ini hari Jumat” Mas Mamad: “Mengapa, Grendis tidak memakai baju batik?” Grendis: “Mohon maaf Mas Mamad, kemarin kesepakatnya hari Jumat berpakaian bebas, rapi, sopan” Mas Mamad: “Baiklah, artinya Grendis memiliki alasan yang jelas dan dapat dijadikan alasan dan rasionalnya untuk teman-teman ya”. Merujuk dialog antara Mas Mamad dengan Grendis tersebut dapat dipahami penggunaan bahasa verbal dalam komunikasi yang dilakukan untuk mengetahui alasan Grendis tidak memakai baju batik pada hari Jumat.  Perwujudan bentuk kata yang digunakan dan makna yang tersurat dalam dialog tersebut menjadi penegas fungsi bahasa sebagai alat komunikasi verbal dalam kehidupan sehari-hari. 

       Bahasa nonverbal merupakan alat komunikasi yang memanfaatkan bahasa tubuh, baik dengan isyarat langsung maupun tidak langsung yang dilakukan oleh penutur (O1), lawan tutur (O2), dan partisipan (O3), baik terikat konteks maupun tidak. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari, baik situasi formal maupun non formal. Misalnya: Mas Mamad yang sedang mengendarai mobilnya melewati pos satpam kemudian memperlambat laju mobilnya sambil membuka kaca, menyapa Mas Putut, satpam yang sedang berjaga dengan tersenyum dan melambaikan tangannya. Dengan komunikasi nonverbal tersebut, sudah terjadi komunikasi nonverbal antara Mas Mamad dengan Mas Putut, sebagai satpam yang berjaga. Keduanya sudah memiliki pengalaman dengan konteks keseharian bahwa Mas Mamad yang memiliki si motu (mobil tua) merah yang dikendarainya sehingga itu sebagai tanda atau maksud tersirat nonverbal dalam komunikasi antara Mas Mamad dengan Mas Putut, satpam yang berjaga.  Komunikasi nonverbal dapat terjadi dalam berbagai konteks kehidupan di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu perlu dipahami aneka konteks pemakaian bahasa nonverbal pada ranah perdagangan di pasar, pendidikan formal dan nonformal, masyarakat, pemerintahan, perusahaan, industri kreatif, dan aneka konteks kehidupan sehari-hari.

       Semangat bersama untuk memahami pemakaian bahasa verbal dan nonverbal dalam komunikasi kehidupan perlu diketahui dan dikenali sejak dini. Hal ini sebagai wujud pemahaman fungsi bahasa sebagai alat komunikasi manusia dalam berbagai konteks kehidupan. Bahasa dapat menjadi alat komunikasi kepada lawan tutur dan partisipan untuk menyampaikan rasa senang, bahagia, sedih, gembira, haru, dan aneka perasaan yang dirasakan setiap manusia dalam pelukan semesta. Bagi seorang guru dan dosen dapat untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik dan mahasiswanya. Dalam bahasa tulis dapat digunakan untuk menyampaikan laporan penelitian, opini, ide gagasan tertulis pada media cetak, jurnal, buku, cerpen, novel, naskah drama dan lain sebagainya. Oleh karena itu, bahasa sebagai alat komunikasi merupakan media untuk terus berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) bagi seluruh multigenerasi NKRI di istana Arfuzh Ratulisa tercinta. Dengan demikian diperlukan kemauan dan kesungguhan bagi seluruh masyarakat untuk mengerti, memahami, dan mengamalkan bahasa sebagai alat menyampaikan ide dan gagasan kepada lawan tutur dan partisipan, baik secara verbal maupun nonverbal dalam berbagai konteks kehidupan.

       Bahagia dapat diciptakan melalui pikiran dan kata-kata yang diucapkan dalam segala konteks kehidupan sehari-hari. Apa yang dipikirkan akan keluar menjadi kata-kata, kemudian apa yang dikatakan akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan menjadi teladan bagi lawan tutur dan partisipan dalam kehidupan sehari-hari. Artinya apa yang dipikirkan setiap penutur akan dapat menjadi ilmu bermanfaat dan amal jariah yang baik apabila disampaikan dengan bahasa yang baik dan santun kepada lawan tutur dan partisipan dalam berbagai konteks kehidupan. Bahasa dapat menyehatkan dan menyakitkan hati lawan tutur dan partisipan bergantung pada penutur yang menyampaikannya. Oleh karena itu, bahasa yang baik dan santun akan dapat menyehatkan, menyenangkan, menyemangati, menguatkan, meyakinkan, mengubah, menggerakkan sayap-sayap kesemestaan pikiran lawan tutur dan partisipannya dalam berbagai konteks kehidupan. Sementara itu, bahasa yang disampaikan dengan pilihan kata yang kurang tepat apalagi bentuk makian atau yang melanggar kesantunan tentu juga akan dapat berdampak kurang sehat secara psikologis dan menyakitkan hati bagi para pendengar dan partisipannya. Oleh karena itu, sama-sama berbahasa dalam berbagai konteks kehidupan, pilihlah diksi yang dapat menyehatkan psikologis dan menyenangkan hati bagi pendengar atau lawan tutur dan partisipan lainnya.

       Akhirnya, dalam situasi apa pun, dengan siapa pun, dalam konteks kehidupan sehari-hari marilah menjadi contoh dan teladan berbahasa yang baik, benar, dan santun. Hal ini berlaku dalam komunikasi lisan dan tulis, secara langsung maupun melalui media sosial. Komitmen untuk dapat menjadi contoh dan teladan berbahasa verbal dan nonverbal secara baik ini dapat menjadi implementasi pemahaman linguistik, baik struktural maupun fungsional. Berbahasa yang didasarkan pada aspek bentuk dan fungsi tentu dapat dipahami dan dipelajari melalui linguistik struktural, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana tekstual dalam komunikasi penutur dengan lawan tutur dan partisipan. Sementara itu, komunikasi penutur dan lawan tutur yang didasarkan pada bentuk, fungsi, dan konteks tuturan ini merupakan implementasi linguistik fungsional, seperti: pragmatik, sosiolinguistik, psikolinguistik, analisis wacana kontekstual, analisis wacana kritis, psikopragmatik, neurolinguistic, etnolinguistik, dan lain sebagainya. 

       Dengan demikian, implementasi bahasa dalam kehidupan memiliki khasanah sumber literasi dengan Ratulisa yang luar biasa. Belum lagi sumber-sumber literasi Ratulisa yang ditelusuri melalui jelajah literasi digital era digital saat ini. Oleh karena itu, marilah secara bijak dapat memanfaatkan bahasa verbal dan nonverbal untuk menyampaikan ide dan gagasan positif, motivatif, dan inspiratif bagi multigenerasi NKRI secara santun dan bijak dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari. Selamat mengimplementasikan mulai sekarang untuk menjadi teladan berbahasa yang baik, benar, dan santun dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dalam pelukan semesta. 

“Cerita dan kenangan dalam kerinduan tanpa batas pada semesta akan selalu menjadi motivasi mewujudkan  mimpi dan imajinasi untuk menyinari dunia sepanjang masa”

Surakarta, 4 Januari 2024


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top