PEMBENTUKAN KARAKTER LEWAT KURIKULUM

Print Friendly and PDF

PEMBENTUKAN KARAKTER LEWAT KURIKULUM

Oleh: Sutarto, S.Pd

SD Negeri 2 Pidekso, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah


Sutarto, S.Pd


       Pemerintah Indonesia terus meningkatkan kualitas untuk mengembangkan sumber daya manusia yang ada, salah satunya melalui pendidikan. Hal yang dilakukan sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang beradab dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Pasal 3).

       Sesuai dengan undang-undang di atas, pemerintah telah mengembangkan Kurikulum 2013 yang diharapkan dapat membekali anak-anak Indonesia menuju persaingan yang semakin ketat. 

       Pengembangan kurikulum tidak hanya dari segi pengetahuan saja, namun juga ditekankan adanya karakter peserta didik. Upaya untuk mewujudkan karakter tersebut, dilakukan mulai dari pendidikan dasar yaitu jenjang pendidikan yang ditempuh selama 6 tahun sejak anak berusia 6 atau 7 tahun. Pendidikan Dasar yang dimaksud oleh UU Sisdiknas Bab VI, Pasal 17 ayat pertama bahwa pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pada ayat kedua ditegaskan, pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

        Setiap jenjang pendidikan mempunyai struktur kurikulum tertentu mulai dari tingkat yang paling sederhana di sekolah dasar hingga yang sangat kompleks di perguruan tinggi. Demikian pula dalam pelaksanaan kurikulum yang menekankan pada penggunaan scientific approach dan authentic assessment. Tessier (2003:25) menuliskan, “The scientific method provides an excellent framework for actively involving students in their own learning and scientific research has been promoted as a teaching model.” Scientific approach menyediakan kerangka kerja yang sangat baik untuk secara aktif melibatkan siswa dalam pembelajaran mereka sendiri. 

       Scientific approach memfasilitasi siswa untuk aktif mencari pengetahuan baru secara mandiri melalui proses melakukan pengamatan, bertanya, melakukan percobaan, mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan terakhir mencipta.

       Authentic assessment merupakan penilaian yang tidak hanya mengukur hasil, akan tetapi lebih menekankan untuk mengukur proses yang dilakukan siswa. Hal ini didukung oleh pendapat Usman (2011:159) bahwa authentic assessment adalah suatu asesmen hasil belajar yang menuntut peserta didik dapat menunjukkan hasil belajar berupa kemampuan dalam kehidupan nyata, bukan sesuatu yang dibuat-buat atau hanya diperoleh pada proses pembelajaran di kelas, tetapi juga yang terjadi pada kehidupan sehari-hari.

       Melalui kurikulum  diharapkan dapat terbentuk karakter yang kuat pada peserta didik. Karakter merupakan ciri khas seseorang yang membedakan kualitas antarindividu. Karakter tidak hanya apa yang terlihat di permukaan, melainkan lebih ke dalam, yakni kepribadian individu tersebut. Pernyataan ini didukung oleh Bohlin (2005: 159) yang menyatakan, “Character is that distinctive mark of our person; the combination of these distinguishing qualities that make us who we are. Character is deeper than appearance and reputation and constitutes more than our personality or temperament”.

      BNamun, kenyataannya karakter peserta didik saat ini masih kurang, terutama dalam hal kepedulian dan kedisiplinan. Hal ini terlihat dari kurangnya kepedulian peserta didik, khususnya kepedulian terhadap lingkungan. Ketidakpedulian terhadap lingkungan tersebut tercermin dari sikap peserta didik yang masih suka membuang sampah sembarangan, mencoret-coret tembok atau meja, dan tidak mau membersihkan lingkungan sekitar sekolah.

       Kepedulian seharusnya dikembangkan sedini mungkin karena kepedulian tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Hal ini didukung oleh pernyataan Lickona (1991:312), “To cultivate caring, as with any other moral quality, requires a learning-by-doing approach that develops all three aspect of character: knowing, feeling, and action.” Kepedulian membutuhkan proses untuk dapat tumbuh dalam kehidupan seseorang. Proses tersebut antara lain proses pengetahuan, perasaan dan tindakan.

       Kedisiplinan peserta didik juga masih terbilang kurang. Hal tersebut terlihat dari sikap perserta didik yang datang terlambat, enggan menaati tata tertib. Misalnya, tidak mau menjalankan piket kelas maupun kerja bakti. Setiap kali piket kelas, guru sering kali menegur dan bahkan memarahi hingga peserta didik tersebut mau menjalankan piket kelas. Begitu pula saat kerja bakti di sekolah. Beberapa siswa terlihat enggan melakukannya. Seharusnya disiplin menjadi dasar penting dalam membangun karakter. Seperti yang dijelaskan oleh Dwiningrum, dkk (2013:83) bahwa disiplin merupakan salah satu tujuan sosialisasi. Kegagalan dalam mencapai tujuan sosialisasi pada diri individu akan berpengaruh dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

      BPengembangan karakter kepedulian dan kedisiplinan dimulai dengan pembiasaan di sekolah yang dilakukan terintegrasi dengan pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu perangkat pembelajaran yang dapat mengakomodasi penerapan karakter tersebut.

       Perangkat pembelajaran akan sangat membantu guru dalam menyampaikan proses mencari pengetahuan kepada peserta didik. Borich (2007:112) menyatakan “Planning is the systematic process of deciding what and how your students should learn.” Perencanaan adalah proses yang sistematis untuk memutuskan apa dan bagaimana siswa harus belajar. Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran tersebut, belum mengakomodasi pengembangan karakter.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top