Merajut Komunikasi yang Baik dan Santun bagi Guru dan Dosen Agar Tidak Memantik Kekerasan di Sekolah dan Kampus dalam Perspektif Pragmatik


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.


    "Kawan, cerita menjadi kenangan yang tidak akan lekang oleh waktu kala senja menuju ke peraduannya tanpa sua dalam selimut kabut yang indah memesona sepanjang masa”


           Peristiwa pengeroyokan siswa terhadap salah satu guru bahasa Inggris di SMKN Tanjung Jabung Jambi merupakan berita yang sangat mengejutkan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Peristiwa ini sangat memalukan sekaligus sebagai bahan refkleksi bagi semua pihak, siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dinas pendidikan, dosen, perguruan tinggi, pengambil kebijakan, Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, dan seluruh masyarakat Indonesia. Salah siapakah peristiwa ini? Guru, siswa, kepala sekolah, orang tua, masyarakat, atau bahkan dosennya waktu kuliah di kampus dahulu? Hal ini menjadi topik yang harus didiskusikan dan dibahas auntuk menemukan solusi terbaik untuk mengatasi darurat kekerasan di sekolah dan kampus yang terjadi selama ini. Evaluasi semua aspek perangkat pendidikan pada jenjang sekolah dasar, menengah, dan tinggi menjadi sangat penting untuk dilaksanakan sebagai langkah praktis yang dapat dilakukan untuk segera menentukan tindak lanjutnya.

           Ujaran yang dilontarkan oleh salah satu siswa SMK N di Jambi, sesuai pengakuannya pada salah satu media online “Woi, diam!” ternyata memiliki daya lokusi dan perlokusi yang sangat kuat bagi lawan tutur yang mendengarnya. Berdasarkan konteks situasi saat itu, sesuai pengakuan penutur yang berada dalam satu kelas setelah selesai pembelajaran. Namun demikian ternyata kekuatan ujaran tersebut berdampak sampai ke luar kelas yang menjadi pemantik salah satu guru (yang dalam ceritanya terus dikeroyok oleh siswa SMKN tersebut) masuk kelas dan melakukan aksi penamparan (sesuai pengakuan siswa yang ditampar). Terlepas siapa yang benar dan yang salah sebenarnya, konteks tuturan dan peristiwa ini tentu tidak hanya ada pada satu konteks peristiwa saat itu saja. Peristiwa ujaran yang disampaiakn siswa tersebut kemudian meyulut lawan tutur (salah satu guru yang masuk kelas) tentu memiliki kekuatan tutur yang sangat luar biasa sehingga dapat mendorongnya untuk masuk kelas menemui si penutur siswa ini dan kemudian terjadilah peristiwa pengeroyokan siswa terhadap guru tersebut. Merujuk peristiwa tutur tersebut berarti ada konteks pengalaman Bersama antara penutur dengan lawan tutur sehingga terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan tersebut. Dalam perspektif pragmatik, ujaran “Wou diam!” ini memiliki implikatur yang ingin disampaikan oleh siswa kepada yang dituju, apakah teman-temannya di kelas atau salah satu gurunya yang di dalam kelas atau luar kelas, atau partisipan lain. Hal ini hanya penutur dan guru yang tahu dengan segala kejujuran di dalam hatinya. Namun demikian, dalam perspektif pragmatik bahwa peristiwa ini terjadi pasti ada sebab akibat sebagai konteks yang melatarbelakanginya dan seharusnya tidak perlu terjadi apabila semua pihak, yakni guru dan siswa dapat menahan kesabaran dan dapat mengendalikan emosi dan hawa nafsunya.

           Peran penting guru di dalam kelas dan luar kelas untuk mendidik, membimbing, dan menjadi teman pembelajaran dan diskusi menjadi sangat penting untuk dapat membentuk karakter siswa yang baik dan berkarakter. Guru memiliki kekuatan ujaran yang sangat berarti di telinga siswanya. Setiap kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan bahkan wacana akan didengarkan dan dipatuhi oleh seluruh siswanya. Dalam konteks pembelajaran, guru sebagai manajer pembelajaran di kelas memiliki kekuasaan penuh untuk dapat menyiapkan, merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi, dan menindaklanjuti kegiatan belajar dan membelajarkan diri seluruh siswanya. Proses belajar dan membelajarkan diri bagi siswa dengan menggunakan media apa, metode apa, sarana dan prasarana apa tentu akan dapat diputuskan dan dieksekusi oleh gurunya. Oleh karena itu, guru memiliki kekuatan yang sangat luar biasa di dalam mendidik, membimbing, dan mengarahkan siswanya seperti orang tuanya. Hanya pada kasus-kasus tertentu, guru harus memilih dan memilah teknik dan cara tertentu karena siswa yang dihadapinya berbeda karakter dan perilakunya.

           Dosen sebagai pendidik di perguruan tinggi yang menyiapkan calon guru pada pendidikan dasar, menengah, dan tinggi juga harus dapat menjadi teladan dalam proses belajar dan membelajarkan diri bagi mahasiswanya. Proses pembentukan karakter mahasiswa FKIP, STKIP, Tarbiyah, Institut Pendidikan, dan sejenisnya yang menyiapkan calon guru dan dosen harus benar-benar memilih dan memilah teknik dan strategi yang tepat. Hal ini sebagai modal dasar untuk dapat menyiapkan calon guru dan dosen abad XXI yang tangguh, berkarakter, cerdas, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratif. Komitmen dosen abad xxi untuk dapat menyiapkan guru-guru dan dosen abad xxi harus dimulai dengan memberikan pondasi dasar 5M: (1) meluruskan niat untuk ibadah sebagai guru dan dosen, (2) mengenali hakikat guru dan dosen yang sesungguhnya, (3) membelajarkan diri dengan literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) dan belajar Bersama komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa dan Sastra) sepanjang hayat sebagai guru dan dosen, (4) mengembangkan kompetensi diri sebagai guru dan dosen abad XXI terus-menerus sesuai perkembangan zaman, (5) mendoakan peserta didik dan mahasiswa sepanjang hayat. Kelima M tersebut akan menjadi landasan dasar untuk dapat menguatkan kompetensi hardskill dan softskill mahasiswa sebagai calon guru dan dosen abad xxi yang hebat luar biasa dengan segala keunggulnnya.

           Berdasarkan peran dan fungsi guru dan dosen abad XXI di atas tentu harus ada kolaborasi antara guru dan dosen abad xxi untuk dapat menyiapkan calon guru dan dosen abad XXI. Hal ini sebagai langkah nyata dan praktis agar tidak terulang lagi peristiwa darurat kekerasan di sekolah dan kampus seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Peristiwa darurat kekerasan di sekolah dan kampus harus dihentikan dan bahkan dihilangkan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Proses penyembuhan darurat kekerasan di sekolah dan kampus tidak dapat dilakukan sepihak. Oleh karena itu diperlukan kerja kolaboratif dan gotong royong semua pihak. Kolaborasi antara orang tua, guru, siswa, kepala sekolah, dinas pendidikan, pemangku kepentingan, dan seluruh masyarakat Indonesia sangat penting untuk dapat merealisasikannya. Hal ini sebagai bentuk kepedulian dan upaya kita untuk dapat memahami semua aspek konteks dalam komunikasi pragmatik anatara lain: penutur, lawan tutur, konteks tuturan, sarana tutur, tujuan tuturan, dan situasi tutur yang menyertai tuturan yang terjadi. Dengan proses pembelajaran dan pemahaman konteks tuturan dalam berkomunikasi, baik individu dengan individu atau individu dengan kelompok, atau bahkan kelompok dengan kelompok di dalam masyarakat pastilah akan terjadi kedamian dan kenyamanan. Semua proses komunikasi yang baik, snatun, damai, nyaman, dan menyenangkan sebagai bukti tidak terjadi kegagalan pragmatik dalam berkomunikasi sehai-hari.

           Guru, siswa, dosen, mahasiswa, kepala sekolah, dekan, rektor, kepala dinas, dirjen GTK, orang tua, menteri, bupati, gubernur, dan masyarakat harus dapat mengambil kebijakan dan menanamkan kembali pilar-pilar berkomunikasi yang baik dan santun dalam segala konteks tuturannya. Kekuatan tuturan memiliki ketajaman seperti mata pisau yang siap mengiris dan merobek-robek objeknya apabila tidak digunakan secara tepat. Oleh karena itu, seluruh masyarakat NKRI harus belajar dan membelajarkan pragmatik serta implementasinya secara bertahap dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terjadi kegagalan pragmatik dalam berkomunikasi kepada siapa pun di mana saja dan kapan saja. Selamat belajar dan mencoba dalam multikonteks kehidupan kebhinekaan di NKRI.

    “Mimpi dan imajinasi lebih kuat dari pengetahuan kita maka wujudkan mimpi dan imajinasimu dengan menuliskan, meyakini, memperjuangkan, dan bertawakan kepada pemiliki semesta yang maha segalanya”

    Istana Arfuzh Ratulisa dan DIKLISA Surakarta, 20 Januri 2026

    Urip Iku Urup dalam Perspektif Pragmatik


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


    "Kawan, hidup sekali mati sekali maka harus dapat berbagi kemaslahatan untuk umat sepanjang hayat "

          Urip iku urup berasal dari kata urip (Jawa) berarti hidup; iku (Jawa) berarti itu, dan urup (Jawa) berarti menyala. Kalimat urip iku urup (bahasa Jawa) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “Hidup itu Menyala” memiliki implikatur pragmatik bahwa hidup itu harus menyala atau bersinar atau menyinari atau bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan. Maksud hidup harus menyala ini merupakan tindak tutur motivatif dan persuasif yang dapat memantik semangat hidup seluruh masyarakat Indonesia agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Artinya hidup bukan sekadar memikirkan diri sendiri tanpa peduli dan tanpa memiliki rasa empati kepada orang lain. Komitmen untuk hidup bermanfaat untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat harus ditanamkan dan dilatihkan kepada seluruh masyarkat NKRI sehingga akan menjadi virus-virus positif bagi seluruh masyarakat Indonesia.

           Hal ini dapat dilihat dalam berbagai konteks kasus bencana yang dialami oleh Saudara-saudara kita di Sumatra Barat, Sumatra Utara, Aceh, Lumajang Jawa Timur, Karawang Jawa Barat, dan masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang terdampak bencana alam. Kondisi kontekstual geografis tersebut memiliki deiksis tempat dan situasi yang dapat memantik kepedulian dan gotong-royong seluruh masyarakat Indonesia untuk iktu peduli membantu dan berbagi semampunya atau sesuai kemampuannya masing-masing. Semua bantuan dan dukungan yang diberikan akan dapat menjadi kekuatan untuk bangkit dan membangkitkan seluruh masyarakat yang terkena dampak bencana secara bertahap dan berkelanjutan di daerahnya masing-masing. Inilah wujud nyata kepedulian dan empati sesama masyarakat Indonesia dalam kebhinekaan.

           Apabila belum dapat membantu dalam bentuk bantuan uang atau harta benda ya tentu saja dapat membantu motivasi, semangat, dan doa kepada Saudara-saudara kita yang sedang mengalami dampak bencana alam di wilayahnya masing-masing. Justru tidak boleh menyampaikan komentar-komentar negatif yang dapat memantik perpecahan antarmasyarakat di seluruh wilayah NKRI. Kita semua bersaudara maka harus saling membantu, peduli, dan simpati kepada seluruh masyarakat NKRI. Dengan demikian tampak betul implikatur pragmatik dari kalimat urip iku urup atau hidup itu harus menyala atau bermanfaat bagi orang lain.

          Komunitas Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra (DIKLISA), Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa, Yuma Perkasa Group juga berusaha memahami dan mengimplementasikan implikatur pragmatik dalam kalimat urip iku urup secara bertahap dan berkelanjutan bersama komunitasnya yang tersebar di 38 provinsi. Upaya Diklisa, Arfuzh Ratulisa, dan Yuma Perkasa Group untuk terus ikut bergerak dan menggerakkan semua sektor dengan mengumpulkan dan mengirimkan bantuan kepada masyarakat yang terkena dampak bencana. Semua giat tersebut merupakan gerakan yang dilakukan sebagai upaya untuk memantik multigenerasi muda memiliki rasa peduli dan empati bersama-sama dalam multikonteks kehidupan. Komitmen untuk saling membantu dalam kebhinekaan tentu akan dapat menjadi semangat dan motivasi untuk bergandeng tangan dan bergotong royong bagi seluruh masyarakat NKRI untuk saling membantu dan berbagi. 

          Implikatur pragmatik dalam kalimat urup iku urup dapat menjadi pemantik gerakan moral dan karakter bagi seluruh masyarakat NKRI. Hal ini dapat dimulai dari tindak tutur yang diucapkan atau dituliskan oleh seluruh masyarakat NKRI harus memiliki implikatur motivatif dan persuasif. Implikatur motivatif dan persuasif ini dapat memantik semangat hidup dan bergotong-royong bagi seluruh masyarakat NKRI. Upaya bertutur yang baik, sopan, dan persuasif akan menguatkan semangat seluruh masyarakat Indonesia. Misalnya: (1) “Semoga Saudara-saudara kita yang sedang mengalami bencana tetap kuat, tabah, sabar, dan segera pulih kembali”; (2) “Terima kasih atas bantuan dan motivasinya dari seluruh masyarakat Indonesia, baik langsung maupun tidak langsung”; (3) ”Mohon maaf, apabila belum semua masyarakat dapat membantu Saudara-saudara kita yang terdampak bencana, semoga segera mendapatkan solusi terbaik dan pulih kembali”. Contoh-contoh kalimat di atas menjadi pemantik semangat dan mengandung implikatur pragmatik yang sopan, positif, persuasif, dan motivatif bagi seluruh masyarakat Indonesia, baik yang terdampak bencana maupun tidak.

          Merujuk kalimat-kalimat persuasif dan motivatif di atas seharusnya dapat dijadikan contoh bagi seluruh pejabat publik dan masyarakat yang ingin ikut ambil bagian dalam berbagai situasi sesuai peran dan partisipasinya masing-masing. Komitmen untuk saling menjaga, menghargai, menghormati, dan saling menjaga perasaan satu dengan yang lain merupakan implikatur dalam filsafat hidup urip iku urup. Komitmen setiap masyarakat untuk saling menjaga semangat, saling memantik rasa empati, rasa peduli, rasa gotong royong, dan rasa memiliki sesama Saudara di seluruh Indonesia harus terus dibangkitkan. Hal ini sebagai bukti bahwa seluruh masyarakat NKRI memiliki rasa cinta dan kasih sayang kepada seluruh Saudaranya yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.

           Dalam pragmatik dikenal istilah implikatur dan pranggapan dalam tindak tutur yang diucapkan oleh seorang penutur dan lawan tutur. Apabila penutur menuturkan tindak tutur berati tuturan tersebut mengandung implikatur. Kemudian lawan tutur dapat mempraanggapkan implikatur yang dituturkan oleh penutur tersebut secara langsung maupun tidak langsung. Seorang penutur pastilah memiliki maksud atau tujuan tuturan dibalik ujarannya. Hal ini dapat diuraikan dan dianalisis dengan melibatkan konteks tuturannya. Oleh karena itu, setiap penutur harus berhati-hati ketika bertutur kepada orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Tindak tutur yang salah saat menuturkan dapat memiliki praanggapan yang berbeda antara yang dimaksud oleh seorang penutur dengan lawan tutur atau masyarakat. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam bertutur dan bertindak, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada seluruh masyarakat NKRI. Apalagi era media sosial dan era digital yang begitu lengkap, setiap individu harus berhati-hati karena diibaratkan dahulu mulutmu harimaumu dan sekarang jemarimu harimaumu.

           Manusia itu merupakan makhluk individu dan sosial yang memiliki kepekaan rasa, cipta, dan karsa. Oleh karena itu, sebagai sesama manusia yang hidup di bumi dalam konteks bermasyarakat dan berkehidupan sosial harus dapat saling asih, asah, asuh. Tidak boleh hidup bermasyarakat dengan pola adigang, adigung, dan adiguna yang akan merugikan masyarakat lain. Apabila tidak berhati-hati dalam bertutur dan bertindak tentu akan dapat berdampak negatif bagi penuturnya. Hal ini sebagai bentuk ungkapan dalam bahasa Jawa “Wong nandur bakale ngunduh” kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “Orang yang menanam atau berbuat ya tentu akan memetik hasilnya”. Dengan demikian, seluruh masyarakat NKRI harus berhati-hati dalam bertutur dan bertindak sesama manusia dan masyarakat di seluruh wilayah NKRI. Salah kata atau salah ucap tentu implikaturnya akan berdampak besar kepada dirinya dan masyarakat lain. 

           Semangat untuk hidup bersama, bermasyarakat, bertetangga yang benar sesuai aturan, baik sesuai kebutuhan, dan santun sesuai norma kehidupan tentu akan dapat menjadikan masyarakat yang bahagia, bersatu, sejahtera, dan saling menguatkan satu dengan yang lain. Oleh karena itu, seluruh masyarakat NKRI harus terus belajar bertutur yang benar, baik, dan santun, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Tidak ada satu orang pun manusia di bumi ini yang mau disakiti maka jangan pernah menyakiti orang lain apabila tidak ingin tersakiti oleh orang lain. Meskipun hanya dengan kata tetapi rasa sakit dan lukanya akan sulit disembuhkan. Dengan demikian, jadilah manusia yang selalu dapat menyenangkan diri sendiri dan orang lain sehingga tidak menyakiti hati orang lain.

         Solusi terbaik agar tetap hidup damai dan sejahtera saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain yaitu jangan sampai gagal pragamtik dalam berkomunikasi. Urip iku urup maka hidup harus terus menyala dan menyinari dunia seperti bintang, bulan, dan matahari yang selalu menyinari bumi, baik tampak, maupun tidak tampak oleh manusia. Teruslah berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa. Membacalah untuk menulis dan menulislah untuk dibaca umat sepanjang hayat. Di situlah letak kebermanfaatan, keberkahan hidup, dan aktivitas yang dilakukan di mana pun dan kapan pun kita berada.

    “Belajar hidup seperti anak yang baru belajar berjalan, berlatih, jatuh, berjalan lagi, jatuh lagi, dan berjalan lagi sampai akhirnya dapat melihat jalan lempang untuk terus berjalan dan berlari sesuai dengan konteks kehidupan yang dihadapinya sepanjang masa”

    Surakarta, 13 Desember 2025

    ERA INTERNET : RADIO TANPA STUDIO

    Oleh: Yudhi Benedict

    Peminat Masalah Komunikasi  


    Siaran dengan menggunakan Laptop tanpa perlu hadir ke studio secara fisik.


    Perkembangan teknologi informasi (internet) telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia penyiaran radio. Jika dahulu radio identik dengan studio besar, mikrofon mahal, dan pemancar tinggi, kini semua itu sudah bergeser dengan hadirnya radio tanpa studio. Inovasi ini tidak hanya mengubah cara penyiar bekerja, tetapi juga cara masyarakat mendengarkan dan menikmati siaran radio.

    Perubahan dari Konvensional ke Digital

    Perubahan besar dimulai saat siaran radio mulai berpindah ke platform digital. Pendengar tidak lagi hanya mendengarkan siaran radio melalui gelombang frekuensi (AM/FM), tetapi bisa mengakses siaran langsung lewat internet. Radio tidak lagi terikat tempat, waktu, serta batas wilayah. Siaran lokal kini bisa didengarkan oleh pendengar belahan dunia lain, sepanjang terhubung dengan internet. Dimasa lalu orang mendengarkan siaran radio melalui perangkat radio analog, namun kini mendengarkan radio dapat melalui berbagai alat digital, seperti Laptop, Personal Computer, Tablet, Smart Phone.


    Apa Itu Radio Tanpa Studio?

    Radio tanpa studio adalah konsep siaran radio yang tidak lagi bergantung pada ruang siaran fisik (studio konvensional), tetapi memanfaatkan teknologi internet dan perangkat digital. Siaran bisa dilakukan dimana saja sepanjang ada/terhubung dengan internet. Siaran bisa dilakukan dari rumah, sekolah, tempat kerja, dari tempat yang berjauhan, bahkan dari perjalanan sekalipun, hanya dengan peralatan sederhana seperti laptop, mikrofon, aplikasi siaran.

    Konsep ini memungkinkan penyiar untuk bekerja dari lokasi manapun, serta membuka peluang luas bagi siapa saja untuk menjadi broadcaster tanpa harus memiliki infrastruktur besar seperti stasiun radio konvensional (terestrial). Siaran tanpa studio ini bisa menjadi pilihan untuk kegiatan pembelajaran atau ekstrakulikuler broadcasting murid-murid disekolah tanpa harus memiliki studio dan ini merupakan kegiatan yang positif

    Kesimpulan

    Radio telah mengalami perjalanan panjang, dari siaran konvensional (terestrial) sampai dengan siaran digital (internet). Perkembangan zaman dan teknologi membawa orang juga berubah cara membuat dan mendengar siaran radio, namun semua esensinya tidak berubah! radio sebagai pembawa pesan ke publik, dan fungsi sebagai media hiburan dan informasi (edukasi) tetap dibutuhkan. Namun demikian tantangan dan peluang akan menyertainya agar radio tetap relevan dan eksis dalam perubahan zaman sehingga tetap dapat merebut perhatian publik yang setia mendengar siaran radio. (*)

    Sarung Batik dan Semangat Tri Sakti Bung Karno


    Oleh: Wahid Abdulrahman

    Alumni Program Doktoral Kajian Asia Tenggara Goethe University Jerman


    Wahid Abdulrahman


           Kritik keras atas kebijakan pemakaian “sarung batik“ setiap hari jumat untuk ASN di lingkungan Pemprov Jawa Tengah patut disyukuri. Sebagai jamu yang “pahit” namun menyehatkan. Juga sebagai cermin bahwa demokrasi masih tumbuh, dimana setiap warga bebas memberikan penilaian atas kebijakan pemerintah. Tinggal kemudian bagaimana pemerintah meresponnya.

           Dalam sudut pandang hukum, berangkat dari Surat Edaran No : B/800.1.12.5/843/2025, kebijakan tersebut nampaknya tidak ada yang keliru. Terlebih ada “cantolan” regulasi dari Kementerian Dalam Negeri yakni Permendagri No 10 Tahun 2024 tentang Pakaian Dinas ASN di lingkungan Kemendagri dan Pemerintah Daerah. Kalaupun ada yang menilai tidak tepat, sangat mungkin regulasi tersebut ditinjau ulang.

           Kritik kemudian muncul ketika coba dibangun dalam sudut pandang budaya, religi, bahkan sebagian menghubungkannya dengan “politik identitas” dan ketidakpekaan terhadap situasi sosial masyarakat Jawa Tengah dewasa ini. Sekali lagi tafsir tersebut wajar.

           Tidakkah kita ingat satu dari “Tri Sakti” yang disampaikan Bung Karno menyangkut “berkepribadian dalam budaya”. “Sarung Batik” adalah bagian dari budaya yang memiliki akar kuat dalam tradisi masyarakat di Jawa. Maka dengan memakai sarung batik setidaknya sekali dalam seminggu, sebuah harapan untuk membangun kepribadian dalam budaya bisa diletakkan.

           Harus diakui memang ada nuansa religi dalam sarung yang selama ini erat dengan santri. Namun demikian perlu kita melihat bahwa tradisi sarung tidak saja tumbuh di kalangan santri di Jawa, di Malaysia, bahkan di India pun sudah lama tumbuh. Tentu dengan berbagai corak dan motifnya. Apalagi dalam perspektif nasionalisme keindonesiaan, sarung adalah salah satu simbol perlawanan atas kolonialisme.

           Tidak jauh berbeda dengan “peci” sebagai identitas kebangsaan yang telah melampaui sekat-sekat suku dan agama. Pada tataran itulah kemudian “batik” menjadi penanda sekaligus pembeda, tidak sekedar sarung tetapi “sarung batik”.

          Sekedar informasi, bahwa batik Indonesia sudah tetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO sejak 2009.

           Selanjutnya Tri Sakti Bung Karno menyebut "berdikari bidang ekonomi” yang kemudian banyak ditafsirkan sebagai ekonomi kerakyatan. Membangun kemandirian ekonomi dengan pondasi kekuatan rakyat “wong cilik”. Tugas pemerintah sudah tentu menciptakan kebijakan yang berpihak atau setidaknya merangsang tumbuhnya ekonomi kerakyatan. Sederhananya pro terhadap UMKM.

           Data ASN Pemprov Jawa Tengah baik PNS maupun PPPK per 10 September 2025 mencapai 49.877, dimana laki-laki sebanyak 26.270 orang. Kalau saja 90 persen dari ASN laki-laki tersebut membeli sarung batik masing-masing dua buah dengan harga setiap sarung batik Rp.300.000, maka nilainya mencapai Rp 14,1 milliar. Angka tersebut tentu akan semakin berlipat apabila jumlah sarung batik yang dibeli semakin banyak, dan diikuti oleh ASN di tingkat kabupaten/kota di seluruh Jawa Tengah.

           Mayoritas pelaku industri sarung batik di Jawa Tengah adalah pengusaha UMKM. Dengan demikian jika skenario ini lancar bukan mustahil dari Jawa Tengah kebangkitan industri sarung batik akan dimulai. Dengan catatan belilah produk UMKM, bukan sarung batik impor!. 


    Radio di Era Internet: Dari Gelombang Udara ke Streaming

    Oleh: Yudhi Benedict

    Peminat masalah komunikasi



           Dulu, radio itu jadi teman setia banyak orang. Dia menjadi “teman” aktivitas pagi hari dalam menyiapkan agenda hari itu, pagi-pagi sebelum berangkat kerja, orang nyetel radio sambil ngopi. Di dapur, suara penyiar radio menyapa ibu-ibu yang lagi masak. Di angkot atau bus, radio jadi hiburan penghilang bosan. Semua itu disiarkan lewat gelombang udara, teknologi yang pada masanya luar biasa canggih. Sekarang? Radio nggak hilang, hanya ganti baju. Dari yang dulu disebarkan luaskan melalui gelombang udara, sekarang disambungkan lewat internet. Jadilah radio streaming. Jadi, bukan hanya kota tempat kita tinggal saja yang bisa mendengarkan, tapi orang seberang pulau atau bahkan seberang benua juga bisa nyimak. Sekarang kita hidup di era yang beda. Banyak orang dengerin musik atau berita lewat ponsel, sambil mengakses media sosial, atau sambil nonton YouTube. Ini menggambarkan radio tidak punah. Justru radio sedang berubah wujud. Dari yang dulu hanya lewat frekuensi AM atau FM, kini hadir radio streaming, atau radio on line, atau yang dikenal dengan nama web casting yang bisa didengar dari mana saja, kapan saja, tanpa batas wilayah asal terhubung dengan internet.

    Radio Konvensional: Sederhana tapi Dekat dengan Pendengar

           Radio konvensional punya daya tarik yang unik: kedekatan/intimacy. Penyiar dan pendengar seperti bertatap muka, meski sebenarnya hanya terhubung lewat suara. Siaran ini bisa dinikmati tanpa internet, cukup pakai radio kecil, bahkan di pelosok desa sekalipun.

         Kelebihan radio konvensional adalah jangkauan lokal yang kuat. Berita kampung, info pasar, info harga cabai, informasi hargai bawang kerap lewat di telinga kita, atau kabar lalu lintas bisa disampaikan cepat ke warga sekitar. Namun, keterbatasannya jelas: sinyalnya hanya menjangkau area tertentu, dan kualitas suaranya tergantung kondisi cuaca atau geografis.



    Radio Streaming: Siaran Tanpa Batas

          Berbeda dengan radio konvensional, radio streaming memanfaatkan internet. Pendengar bisa mengakses siaran dari smartphone, laptop, personal komputer. Mau dengerin stasiun radio dari Semarang, Jakarta, atau Tokyo? Tinggal klik saja.

           Kualitas suaranya pun stabil selama koneksi internet bagus. Banyak radio streaming juga menambahkan fitur interaktif: pendengar bisa kirim pesan lewat chat (chatroom), request lagu via WhatsApp, atau ikut polling secara langsung. Rasanya seperti gabungan antara radio dan media sosial. Kalau radio konvensional kita hanya bisa mendengar suara penyiarnya saja, maka kalau radio internet kita “melihat” radio, karena bukan hanya audio saja kita juga dapat melihat penyiarnya juga, dari radio internet kita juga bisa membaca/melihat teks, gambar.

    Bukan Pengganti, tapi Pendamping

           Banyak orang mengira radio streaming akan mematikan radio konvensional. Nyatanya, dua-duanya bisa berjalan beriringan. Di daerah yang akses internetnya terbatas, radio konvensional tetap jadi primadona. Sementara di kota besar dengan internet melimpah, radio streaming jadi pilihan karena praktis dan bisa diakses kapan saja.

           Bahkan, beberapa stasiun radio kini menggabungkan keduanya: siaran tetap lewat frekuensi FM, tapi juga disiarkan secara live lewat internet. Hasilnya, pendengar lokal tetap terlayani, sementara pendengar di luar daerah pun bisa ikut menikmati.

    Penutup

           Radio sudah melewati banyak zaman: dari era gelombang udara, kaset rekaman, CD, sampai sekarang era digital. Perubahan ini bukan tanda radio akan hilang, tapi bukti bahwa radio bisa beradaptasi. Entah lewat antena atau jaringan internet, tujuan radio tetap sama: menyampaikan informasi, hiburan, dan cerita, sambil menemani pendengarnya di setiap langkah kehidupan. Yang membedakan adalah coverage areanya, kalau dulu hanya bisa didengarkan satu wilayah tertentu/kota saja, sekarang bisa secara global/nagara lain bisa dengarkan. Jadi, nggak ada alasan bilang radio itu “barang jadul”. Faktanya, radio hanya pindah rumah: radio “raganya” dari antena ke server internet, dan “rohnya” adalah berfungsi untuk menyampaikan pesan. Yang penting, suaranya tetap nyampe… dan kita tetap setia mendengarkan.


    Analisis Karya Sastra Semiotika Ferdinand De Saussure Pada Novel Manjali Karya Ayu Utami

    Oleh: Salma Nur Jannah

    Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa Seni dan Budaya, Universitas Negeri Yogyakarta

    salma210fbsb.2023@student.uny.ac.id


          Novel tidak hanya bercerita. Ia juga menyimpan banyak tanda yang berbicara lebih dalam daripada sekadar konflik antar tokoh atau alur perjalanan. Begitu pula yang terlihat dalam Manjali, salah satu karya penting Ayu Utami yang sarat simbol, sejarah Jawa, spiritualitas, dan kritik terhadap relasi manusia alam. Jika novel ini dibaca dengan kacamata semiotika Ferdinand de Saussure teori yang memandang bahasa sebagai sistem tanda maka kita akan menemukan lapisan pesan yang begitu kaya dan relevan untuk percakapan budaya hari ini.

          Saussure menyebut bahwa setiap tanda terdiri dari dua sisi: penanda (bentuk fisik berupa kata, gambar, atau objek), dan petanda (makna yang tersimpan di baliknya). Hubungan keduanya bersifat arbitrer, tetapi dipahami melalui kesepakatan budaya. Dalam karya sastra, tanda hadir dalam diksi, dialog, objek, ruang, bahkan gerak tubuh. Semua itu saling terhubung membentuk makna utuh dalam cerita.

           Dengan pendekatan ini, Manjali tidak hanya menjadi kisah perjalanan Marja dan Parang Jati. Novel tersebut berubah menjadi jaringan simbol yang mencerminkan identitas, spiritualitas, sejarah, dan ekofeminisme.

         Salah satu penanda paling kuat dalam novel adalah Candi Calwanarang. Ia bukan sekadar lokasi, melainkan simbol sejarah Jawa dan spiritualitas Hindu-Siwa. Kehadiran candi itu membuat Marja seperti terhubung dengan masa silam: seolah hidup kembali seribu tahun lalu sebagai Ratna Manjali, putri Calwanarang.

           Sebagai penanda fisik, candi menampilkan relief, arca, dan ruang arkeologis. Namun sebagai petanda, ia memuat makna tentang kekuasaan, magi, kesedihan, dan kekuatan perempuan dalam sejarah Jawa. Ayu Utami menghadirkan Calwanarang bukan sebagai sosok jahat yang sering muncul dalam cerita rakyat, melainkan simbol perempuan yang direpresi struktur patriarki.

          Melalui candi, pembaca diajak merenungkan bagaimana narasi sejarah dibangun dan siapa yang berhak menafsirkan masa lalu.

          Gunung Lawu, Trowulan, dan situs-situs arkeologi lain juga menjadi penanda penting. Pada permukaan, ruang tersebut hanyalah lokasi pendakian dan penelitian arkeologi. Namun dalam pembacaan semiotik, gunung menjelma menjadi petanda spiritualitas, proses pencarian diri, bahkan kritik ekologis.

          Ayu Utami menggunakan alam sebagai simbol kehadiran energi yang lebih besar dari manusia. Ketika tanah digambarkan retak, angin bergerak tidak biasa, atau langit menampilkan warna tertentu, semua itu menjadi tanda yang merekam emosi tokoh dan kondisi lingkungan.

         Novel ini seolah berkata bahwa merusak alam sama dengan merusak tubuh perempuan sebuah gagasan inti dalam ekofeminisme.

          Manjali menampilkan banyak benda arkeologis: arca Bhairawa, relief erotis, prabhamandala, terowongan candi, dan struktur batu purbakala. Dalam semiotika, benda-benda ini bukan dekorasi cerita, tetapi penanda visual yang mengandung makna konseptual.

          Relief erotis mengingatkan pembaca bahwa tubuh khususnya tubuh perempuan selalu menjadi medan perebutan makna antara moralitas, kekuasaan, dan spiritualitas.

          Terowongan menjadi simbol perjalanan menuju kesadaran baru; ruang gelap yang membawa tokoh pada transformasi.

          Ayu Utami berhasil membuat benda-benda kultural itu berbicara kembali, seolah menghidupkan percakapan antara masa lalu dan masa kini.

          Selain tanda fisik, novel ini penuh dengan tanda konseptual: konflik batin, cinta, kecemburuan, dan pencarian identitas. Marja mengalami guncangan emosional ketika kedekatannya dengan Parang Jati tumbuh, sementara ia masih menjalin hubungan dengan Yuda. Konflik itu menjadi penanda tentang dilema moral, pencarian diri, dan kerentanan manusia.

          Ketiga tokoh utama juga menjadi tanda yang saling melengkapi yaitu Parang Jati: penanda kearifan Jawa, spiritualitas, dan kedekatan dengan alam. Yuda: penanda modernitas, rasionalitas, dan kebebasan. Jacques: penanda perspektif Barat, ilmiah, dan objektif.

          Ketiganya membawa petanda yang berbeda tentang cara melihat dunia, menciptakan dialektika budaya dalam novel.

    Nama “Manjali”: Jejak Identitas yang Tersimpan

    Nama Manjali sendiri merupakan tanda konseptual yang kuat. Ia menghubungkan Marja dengan Ratna Manjali, sekaligus membangun dimensi mitologis dan historis. Ayu Utami seakan membangun jembatan identitas antara perempuan masa kini dan masa lalu.

          Dengan demikian, identitas dalam novel tidak statis. Ia cair, terbentuk oleh memori, ruang, dan sejarah yang mempengaruhi tokoh.

          Dalam banyak bagian, Marja melihat warna langit berubah, merasakan angin tertentu, atau mengalami sensasi fisik yang tidak biasa. Tanda-tanda ini menggambarkan kondisi psikis tokoh. Saussure menegaskan bahwa penanda tidak selalu berupa kata; gambar, warna, dan gerak bisa menjadi tanda yang sangat kuat.

         Ayu Utami memanfaatkan alam dan tubuh sebagai bahasa ketiga yang berada di antara kata-kata dan pikiran untuk menggambarkan pergolakan batin tokoh.

    Jika seluruh tanda dalam Manjali dirangkai, kita menemukan tiga tema besar:

    1. Sejarah Jawa bukan hanya masa lalu, tetapi ruang interpretasi. Melalui Calwanarang dan situs-situs kuno, novel ini mempertanyakan bagaimana sejarah ditulis dan siapa yang memiliki kuasa mengisahkannya.

    2. Spiritualitas adalah perjalanan personal. Gunung Lawu, terowongan candi, hingga pengalaman intuitif Marja menunjukkan bahwa spiritualitas bukan doktrin, melainkan proses menyelami diri melalui tanda-tanda alam dan budaya.

    3. Alam dan perempuan berada dalam satu garis perlawanan. Ayu Utami menggunakan simbol-simbol alam dan tubuh untuk menyampaikan kritik ekofeminisme: kerusakan lingkungan dan ketidakadilan gender adalah persoalan yang saling terkait.

         Dari pemaparan itu dapat disimpulkan Analisis semiotika terhadap Manjali memperlihatkan bahwa novel ini tidak hanya menyajikan kisah perjalanan tokoh, tetapi juga mengajak pembaca memahami dunia melalui simbol-simbol yang menghubungkan masa lalu–kini, tubuh–alam, dan perempuan–kekuasaan.

         Melalui tanda-tanda itu, Ayu Utami menghadirkan kritik sosial, spiritualitas, dan refleksi budaya yang tetap relevan bagi pembaca modern. Pada akhirnya, membaca Manjali adalah membaca bahasa tanda—dan pada saat yang sama, membaca diri kita sendiri di tengah pergulatan sejarah dan zaman.


    REFERENSI

    Abror, M., Subahtiar, D. (2024). Kode Semiotika Roland Barthes pada Antologi Puisi Duka Mu Abadi Karya Sapardi Djoko Damono. AKSARA: Jurnal Bahasa dan Sastra. 25 (1) 42-56. http://dx.doi.org/10.23960/aksara/v25i1.pp42-56. 

    Cercle Ferdinand de Saussure. (2023, 13 Desember). Language and Semiotic Studies, Vol. 8, No. 1: Special Issue – Ferdinand de Saussure in Contemporary Semiotics (B. Sørensen & T. Thellefsen, Eds.). https://www.cercleferdinanddesaussure.org/2023/12/13/language-and-semiotic-studies-vol-8-n-1-2023-special-issue-ferdinand-de-saussure-in-contemporary-semiotics-ed-b-sorensen-and-t-thellefsen/.

    Patriansyah, M. (2014). Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Karya Patung Rajudin Berjudul Manyeso Diri. Ekspresi Seni, 16(2), 239. https://doi.org/10.26887/ekse.v16i2.76.

    Pitriansyah, M. (2014). Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Karya Patung Rajudin Berjudul Manyeso Diri. Ekspresi Seni, 16(2), 239. https://doi.org/10.26887/ekse.v16i2.76. 

    Sinaga, R. (2023) Analasis Semiotika Ferdinan De Saussure dalam Novel Garis Waktu Karya Fiersa Besari. Enggang: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya. 4 (1). 

    Utami, Ayu. (2023). Manjali. Gramedia Jakarta

     Wiyatmi, Wiyatmi., Suryaman, M., Swatikasari, E. (2016). Litera: Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan Penelitiannya. 15 (2) 281-291. https://doi.org/10.21831/ltr.v15i2.11829.

    Kekuatan Imajinasi untuk Wujudkan Sukses Berwirausaha Berbasis Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Pragmatik


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


    "Kawan, imajinasi jauh lebih kuat dari pengetahuan kita maka berimajinasilah untuk dapat mewujudkan mimpi dan cita-citamu untuk meraih sukses"


           Setiap manusia yang dilahirkan ke bumi berhak untuk sukses. Sukses bukan sekadar tercapai apa yang dicita-citakan sejak kecil hingga dewasa. Ada yang memaknai sukses merupakan capaian tertinggi dalam kariernya. Kemudian ada juga yang mengatakan sukses merupakan perwujudan nyata terhadap cita-cita untuk memiliki rumah yang bagus, harta benda melimpah, jabatan yang tinggi, pekerjaan sesuai bidang keahliannya, pedagang yang menjual dagangannya sampai habis. Semua pernyataan dan pendapat itu juga tidak salah. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa sukses merupakan rangkaian proses yang dilakuan oleh setiap orang yang meyakini dan memperjuangkan terus-menerus cita-cita untuk sukses dengan rasa syukur dan kekuatan imajinasi sebagai kekuatannya . Kesuksesan itu letaknya di hati dengan penuh rasa syukur dan diperjuangkan dengan kekuatan imajinasinya yang dilandasi dengan kesungguhan, kesabaran, dan doa secara terus menerus tanpa mengenal lelah dan putus asa.

           Berwirausaha itu memerlukan 5 modal dasar imajinasi untuk mewujudkan sukses dalam berwirausaha berbasis bahasa dan sastra dalam perspektif pragmatik, antara lain: (1) imajinasi untuk meniatkan usaha yang dirintis untuk ibadah, (2) imajinasi untuk menjadi wirausahawan yang sukses dan berkah, (3) imajinasi untuk memiliki produk yang ditawarkan atau dijual kepada konsumen laris manis, (4) imajinasi untuk dapat bekerja sama dengan kolegial dalam berwirausaha dan banyak membuka lapangan kerja bagi masyarakat, dan (5) imajinasi untuk terus berusaha, berdoa, dan bersedekah saat berwirausaha sepanjang masa. Dengan modal lima dasar imajinasi tersebut tentu akan dapat terwujud cita-cita menjadi wirausahwan yang sukses berbasis bahasa dan sastra dalam perspektif pragmatik. Hal ini dapat menjadi salah satu wujud nyata untuk mewujudkan imajinasai dalam bentuk kata, frasa, kalusa, kalimat, paragraf, wacana yang berbasis teks, koteks, dan konteks dalam perspektif pragmatik. Mengapa demikian? Semua produk yang akan dipasarkan atau dijual tentu harus ditawarkan dengan bahasa yang mengandung maksud tersurat dan tersirat untuk memengaruhi pelanggan atau konsumennya. Semua itu memerlukan pemahaman multikonteks yang dimiliki oleh para penjual dan konsumen agar tertarik untuk membeli produk-produk yang ditawarkan.

           Berwirausaha merupakan salah satu Solusi yang harus dimiliki oleh generasi muda NKRI saat ini. Mengapa demikian? Data BPJS pada Agustus 2025 dijelaskan bahwa jumlah pengangguran mencapai 7,46 juta orang atau 4,85 dari jumlah angkatan kerja di Indonesia. Kondisi ini harus diketahui sekolah kepala SMK dan rektor, dekan, kaprodi di semua perguruan tinggi di Indonesia sebagai jenjang manajer pengelolaan pendidikan menengah dan tinggi yang menyiapkan tenaga kerja Indonesia berbasis kompetensi hardskill dan softskill. Seluruh masyarakat NKRI sadar atau tidak sadar tentu semua lulusan SMK dan sarjana semua bidang di seluruh NKRI tidak akan dapat terserap ke dalam dunia kerja semua sesuai bidangnya. Oleh karena itu, harus ada solusi kreatif dan inovatif untuk para lulusan SMK dan sarjanaa yang siap kerja tersebut, yaitu bekerja atau berwirausaha. Apabila bekerja belum tentu semua tertampung sesuai bidnag keahliannya maka harus ada pelatihan dan pembekalan untuk dapat melahirkan para wirausahawan muda di seluruh wilayah NKRI.

           Kecakapan dan wirausaha untuk generasi muda dapat dilakukan dengan penuh keberanian yang rasional. Misalnya, kita latih untuk wirausaha bidang kuliner, berarti aneka makanan dapat dijual dengan berbagai model inovasi kreatif dan inovatif yang dapat menarik pembeli yang ada. Hal ini dapat memanfaatkan imajinasi bahasa dan sastra dan menggunakan konteks pragmatik untuk dapat memengaruhi para konsumennya. Merintis usaha cilok cinta, jilbab berantena, ceker judes, cireng asmara, bakso rindu, bakpau gemoy, roti maryam memesona, batik ratulisa, dawet diklisa, dan banyak lagi aneka kuliner yang dapat dikemas dengan imajinasi kata, frasa, kalusa, dan kalimat dalm perspektif pragmatic untuk dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas nilai jualnya. Sandaran dasar pragmtik yang memelajari maksud ujaran dibalik tuturan penutur dengan lawan tutur yang melibatkan konteks tentu akan mewarnai setiap kehiudpan masyarakat di sekelilingnya. Hal ini tentu akan menjadi modal dasar pengembangan imajinasi untuk dapat menyukseskan wirausaha yang dirintis oleh para pengusaha muda di seluruh wilayah NKRI sambil terus berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) dalam multikonteks kehidupan yang dijelajahinya serta ikut belajar Bersama melalui Komunitas Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra (DIKLISA) sepanjang masa.

         Kunci sukses berwirausaha bagi sarjana-sarjana yang baru lulus tentu harus disiapkan pendamping dan starup umkm yang dapat dijadikan rujukan dan konsultan dalam perintisan dan pengembangan usahanya. Oleh karena itu, SMK, kampus, dan seluruh elemen masyarakat terkait harus dapat memantik dan membuka aneka ruang usaha bidang digital dan nondigital sebagai bentuk ruang pengembangan skill wirausaha multigenerasi NKRI. Semangat menjadi wirausaha, teknik dan cara merintisnya, strategi dan pengembangan usahanya, teknik pemasaran digital dan nondigital, serta berbagi sedekah untuk keberkahan usahanya harus terus diusahakan, dilatih, didampingi, dan diupayakan dalam aneka Latihan, workshop, giat umkm, giat kuliah wirausaha, dan praktik wirausaha di kampus, masyarakat, dan aneka pendampingan perusahaan-perusahaan BUMN dan nonBUMN yang tersebar di seluruh wilayah NKRI. 

           Mari kita mulai buka starup wirausaha berbasis bahasa dan sastra dalam perspektif pragmatik, antara lain: (1)Nama produk: Jenang Rindu Sepanjang Masa ( JERISA), (2) Modal per bungkus: Rp 5.000,00. (3) Harga jual per bungkus; Rp 10.000,00. (4) Model pemasaran: luring dengan buka lapak di tempat strategis; pemasaran daring: stor WA, facebook, Instagram, tiktok, youtube, dll. (5) keuntungan per bungus Rp 5.000,00. Misal sehari belanja modal 100 bungkus x Rp 5.000,00 berarti: Rp 500.000,00 kemudian dijual laku semua 100 bungkus x 10.000,00 dengan hasil penjualan Rp 1.000.000,00. Kemudian dikurangi belanja modal Rp 500.000,00 berarti masih siasa Rp 500.000,00 kemudian dipotong zakat 2,5% berarti Rp 12.500,00 dan dikurangi operasional 10% berarti Rp 50.000,00. Dengan demikian keuntungan bersihnya Rp 500.000 dikurangi Rp 62.500 sama dengan RP 437.500,00. Jangan lupa sedekah setiap hari dari hasil yang diperoleh ya. Alhamdulillah, semoga usahanya berjalan lancar dan berkah selamanya. 

         Deskripsi di atas merupakan contoh nyata apabila akan mencoba membuka wirausaha, baik membuat produk secara mandiri maupun sebagai penjual kedua semua produk yang mau ditawarkan kepada pembelinya. Pemanfaatan aspek bahasa dan sastra sebagai basis wirausaha dalam perspektif pragmatik dapat dimanfaatkan dalam penamaan produk-produknya yang unik, mudah diingat, dan dikenang sepanjang hayat sebagai produk unggulan yang dipasarkan. Misalnya: Balisa (Batik Literasi Menulis & Membaca), Bakasa (Baju kangen sepanjang masa), Karia (Kaos Rindu Selamanya), Jelita (Jenang Literasi Sastra), Keripik (Kebab Rindu pada Pragmatik), Jemari (Jejak Makan Rindu), Comar (Coklat Asmara), Darima (Dawet Rindu Selamanya), Bamoy (Bala-Bala Gemoy), Romansa (Roti Manja Sepanjang Masa) dan sebagainya. Pemberian nama-nama produk tersebut secara leksikal hanya merupakan akronim gabungan frasa tetapi dalam perspektif pragmatik memiliki daya pragmatik yang sangat kuat bagi para pembeli dan konsumennya. Hal ini dilihat pada bentuk, fungsi, dan konteks nama-nama produk unggulan wirausaha berbasis bahasa dan sastra tersebut memiliki maksud tersirat yang sangat unik, menarik, dan memiliki imajinasi yang sangat kuat bagi para konsumen sepanjang masa. 

           Dalam perspektif pragmatik diksi-diksi di atas mengandung implikatur dan praanggapan. disebut dengan implikatur dan pranggapan. Implikatur dan praanggapan yang terikat konteks ini memiliki daya pragmatik untuk menyampaikan pesan tersirat kepada pembeli atau konsumennya bahwa ini produk memang akan selalu unik dan dirindukan umat sepanjang masa. Akhirnya, mari kita semua tetap berolahraga dan tersenyum 228 agar tetap sehat dan menyenangkan diri sendiri serta pembeli kita semua. Selanjutnya, wahai seluruh generasi muda Indonesia, selamat mencoba untuk merintis usaha sekecil apa pun yang penting jangan pernah takut untuk memulai dan terus-menerus berusaha serta jangan pernah putus asa untuk terus mencoba dengan kekuatan imajinasi bahasa dan sastra agar sukses ada ditangan kita.

    “Kehendak-Nya menjadi wewenangnya tetapi rencana, usaha, dan doa menjadi kewajiban manusia untuk terus menguapayakkanya sampai titik darah penghabisan”

    Istana Arfuzh Ratulisa dan DIKLISA Surakarta, 18 November 2025


Top