Pentingnya Pendidikan Gratis dan Lapangan Pekerjaan untuk Anak Indonesia: Harapan, Peluang, dan Tantangan Abad XXI

Print Friendly and PDF

Pentingnya Pendidikan Gratis dan Lapangan Pekerjaan untuk Anak Indonesia: Harapan, Peluang, dan Tantangan Abad XXI

Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.

Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & Komunitas DIKLISA

Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa

Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.


“Pendidikan menjadi dasar pembentukan, penguatan, dan pengembangan sumber daya manusia secara bertahap dan berkelanjutan agar memiliki daya saing dan sanding era digital”


       Belajar dan membelajarkan diri sepanjang hayat menjadi kebutuhan setiap manusia sebagai masyarakat Indonesia. Hal ini dikuatkan oleh semangat setiap anak Indonesia harus tahu dan lebih banyak tahu pengetahuan untuk dapat meningkatkan kualitas diri dengan berliterasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa. Setiap tanggal 2 Mei diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pertanyaannya. Bagaimana peran pendidikan untuk mengantarkan setiap masyarakat Indonesia menjadi literat. Kemauan dan kemampuan untuk membaca dan menulis secara kritis terhadap wawasan dan pengetahuan terkadang masih sangat terbatas. Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah bersama, pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa, dan keluarga. Pentingnya pendidikan sebagai pilar utama kompetensi hardskill dan softskill bagi seluruh masyarakat Indonesia.

       Mimpi dan imajinasi orang tua, pemerintah desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan pusat/istana yang ingin mencerdaskan kehidupan seluruh rakyat Indonesia sudahkah terwujud? Berdasarkan hasil evaluasi pendidikan tahun 2025 yang mefokuskan pada peningkatan kualitas pembelajaran yang mencakup: (1) hasil asesmen nasional, (2) literasi-numerasi, dan (3) lingkungan belajar. Hal ini menjadi dasar fokus bergesernya target nilai akhir menjadi proses berpikir siswa. Selain itu diperlukan partisipasi keluarga dan masyarakat untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk ke seluruh masyarakat Indonesia. Peran penting orang tua dan masyarakat untuk memeratakan akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pendidikan bagi seluruh masyarakat Indonesia harus terus ditingkatkan. Hal ini sebagai bentuk teknik kolaborasi dan komunikasi humanisme untuk meningkatkan daya saing dan daya sanding seluruh masyarakat Indonesia, baik secara formal maupun nonformal.

       Penguatan kompetensi hardskill dan softskill bagi seluruh masyarakat Indoensia harus menjadi prioritas pemerintah saat ini. Komitmen dan prioritas pemerataan akses pendidikan untuk semua melalui Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sain, dan Teknologi harus dapat duduk bersama untuk merumuskan garis-garis besar Haluan Pendidikan Indonesia (GBHPI). Berdasarkan GBHPI tersebut akan dirancang strategi jangka pendek, menengah, dan panjang sebagai roadmap pendidikan Indonesia untuk dapat membuka ruang akses pendidikan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Kondisi akses pendidikan yang tersebar pada 38 provinsi saat ini masih berbeda-beda, karena disebabkan banyak faktor, antara lain: (1) sumber daya guru dan dosen abad XXI; (2) saran dan prasarana yang beragam; (3) media pembelajaran yang belum memadai; (4) kebijakan pendidikan gratis dasar, menengah, dan tinggi yang belum berpihak pada rakyat; (5) implementasi kebijakan pendidikan yang belum merata ke seluruh wilayah nusantara. Hal ini sebagai harapan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat menikmati akses pendidikan yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.

       Harapan untuk belajar dan membelajarkan diri sepanjang hayat bagi seluruh masyarakat Indonesia harus dapat ditangkap sebagai peluang bagi pemerintah. Semangat untuk mau, ingin, dan berkomitmen belajar bagi seluruh anak Indonesia yang tersebar pada 38 provinsi tentu akan menjadi menarik dan menyenangkan apabila didukung sepenuhnya oleh orang tua, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat. Bagimana cara mendukung dan memotivasinya. Kehadiran pemerintah untuk menyiapkan pendidikan gratis sejak TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK, dan perguruan tinggi dan menyiapkan lapangan pekerjaan menjadi harapan, peluang, dan tantangan bagi pemerintah pusat dan daerah yang harus direalisasikan untuk memenuhi harapan, peluang, dan tantangan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Apabila pemerintah dapat menyiapkan pendidikan gratis dan lapangan pekerjaan bagi seluruh masyarakat Indoensia ini merupakan mimpi dan imajinasi yang terwujud dalam kenyataan hidup seluruh masyarakat Indoenesia. Bagaimana realisasi pendidikan gratis untuk semua. Pemerintah perlu memetakan kondisi perekonomian keluarga di seluruh Indonesia yang tidak mampu, sedang, dan tinggi. Dengan demikian dapat memetakan kebutuhan pendidikan gratis dan lapangan pekerjaan yang diperlukan.

      Keunggulan pemerintah untuk dapat merealisasikan akses pendidikan untuk semua tentu harus diikuti kebijakan nyata yang berpihak terhadap harapan, peluang, dan tantangan pendidikan abad XXI bagi seluruh masyarakat Indonesia. Komitmen Bapak Presiden Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka sebagai nahkoda pemerintahan Indonesia sangat diharapkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Perlu dilaksanakan koordinasi pada ruang lingkup terkecil pada tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan pusat untuk dapat merealisasikan pendidikan untuk semua yang berbasis pendidikan gratis dan penyiapan lapangan pekerjaan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Saat ini permasalahannya bukan mencari siapa yang salah terhadapa pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesai tetapi bagaimana mencari solusi terbaik untuk menyiapkan ruang pendidikan untuk seluruh masyarakat Indonesai yang terjangkau, terpenuhi, dan menyenangkan sampai lulus dan sekaligus mendapatkan peluang dan lapangan pekerjaan yang disesuaikan kompetensi sumber daya manusia.

“Pendidikan sangat penting untuk seluruh anak Indonesia secara bertahap dan berkelanjutan agar menjadi manusia yang baik, cerdas, berkarakter, tangguh, kreatif, kritis, komunikatif, kolaboratif, produktif, dan inspiratif”

Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surabaya, 2 Mei 2026


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top