Pelatihan Tepache dari Limbah Kulit Nanas, UNDIP Dorong Kesadaran Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat Warga Padangsari

Print Friendly and PDF

Tim pengabdian kepada masyarakat dari Departemen Biologi Fakultas Sains dan Matematika (FSM) saat foto bersama peserta pelatihan.


Pelatihan Tepache dari Limbah Kulit Nanas, UNDIP Dorong Kesadaran Lingkungan dan Gaya Hidup Sehat Warga Padangsari

Semarang — majalahlarise.com - Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui tim pengabdian kepada masyarakat dari Departemen Biologi Fakultas Sains dan Matematika (FSM) menggelar pelatihan pembuatan tepache, minuman fermentasi berbahan dasar limbah kulit nanas, di Kelurahan Padangsari, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, tahun 2026.

Kegiatan ini menjadi upaya konkret dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah organik rumah tangga sekaligus mengenalkan alternatif minuman sehat yang mudah dibuat dan terjangkau.

Ketua tim pengabdian, Dwi Retno Fatmawati, M.Si., menyampaikan pelatihan ini dirancang tidak hanya sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

“Kami ingin masyarakat melihat limbah dapur, khususnya kulit nanas, sebagai bahan yang masih memiliki nilai guna. Melalui pelatihan ini, kami mengajak warga untuk mengolahnya menjadi minuman fermentasi yang menyehatkan dan bernilai tambah,” tuturnya.

Pelatihan diikuti sekitar 20–30 peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga dan warga usia produktif di lingkungan setempat. Tim pengabdian turut melibatkan dosen Dr. Drs. Wijanarka, Dr. Dra. Susiana Purwantisari, dan Drs. Budi Raharjo, M.Si., serta mahasiswa UNDIP sebagai pendamping selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan diawali dengan penyuluhan interaktif mengenai potensi kulit nanas sebagai bahan baku fermentasi, konsep dasar pembuatan tepache, serta manfaat kesehatan dari minuman fermentasi yang mengandung bakteri asam laktat dan metabolit fungsional.

Dr. Dra. Susiana Purwantisari menjelaskan minuman fermentasi memiliki potensi dalam mendukung kesehatan pencernaan jika diolah dengan benar.

“Minuman fermentasi seperti tepache mengandung mikroorganisme yang bermanfaat. Jika prosesnya higienis dan tepat, produk ini bisa menjadi alternatif minuman sehat bagi keluarga,” jelasnya.

Materi disampaikan melalui leaflet dan demonstrasi visual yang mudah dipahami. Antusiasme peserta terlihat tinggi dengan banyaknya pertanyaan terkait waktu fermentasi, variasi bahan, hingga teknik penyimpanan yang aman.

Memasuki sesi praktik, peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk langsung membuat tepache dengan pendampingan tim. Proses yang dilakukan meliputi pemilihan dan pencucian kulit nanas, penambahan gula dengan rasio yang tepat, hingga pengaturan fermentasi menggunakan wadah non-reaktif.

Drs. Budi Raharjo, M.Si., menguraikan praktik langsung menjadi kunci keberhasilan pelatihan karena peserta dapat memahami proses secara menyeluruh.

“Dengan praktik langsung, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman membuat sendiri sehingga lebih percaya diri untuk mencoba di rumah,” katanya.

Seluruh kelompok berhasil menyelesaikan proses pembuatan tepache dengan baik. Produk yang dihasilkan menunjukkan aroma khas fermentasi awal yang sesuai dengan standar.

Kegiatan ini turut mengubah cara pandang peserta terhadap limbah dapur. Kulit nanas yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dipahami sebagai bahan yang memiliki nilai ekonomis dan manfaat kesehatan.

Salah satu peserta, Siti Aminah, mengaku mendapatkan wawasan baru dari pelatihan tersebut.

“Saya baru tahu kalau kulit nanas bisa diolah jadi minuman sehat. Saya ingin mencoba membuatnya di rumah dan membagikan ilmu ini ke tetangga,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, UNDIP berharap dapat menghadirkan model pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan yang aplikatif di bidang pangan dan lingkungan.

Dwi Retno Fatmawati menambahkan pendekatan teknologi tepat guna menjadi kunci dalam menjawab tantangan pengelolaan limbah rumah tangga.

“Kami berupaya menghadirkan solusi yang sederhana, murah, dan bisa langsung diterapkan masyarakat. Harapannya, kegiatan ini bisa berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan kesehatan warga,” pungkasnya.

Dengan pelatihan ini, UNDIP terus menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan inovasi yang tidak hanya berbasis riset, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas. (Sofyan)


Baca juga: Rute Epic dan Kental Budaya Bikin Takjub Pelari di Mangkunegaran Run 2026


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top