Dosen FIB UNS Hadiri Siaran Jagongan RRI Pro 4 Surakarta: Long Life Learning, Pendidikan Tidak Berhenti di Bangku Akademis

Print Friendly and PDF

Asep Yudha Wirajaya di Siaran Jagongan RRI Pro 4 Surakarta pada Kamis (30/4/2026).(Dokumentasi oleh Fadila Tessa A.)



Dosen FIB UNS Hadiri Siaran Jagongan RRI Pro 4 Surakarta: Long Life Learning, Pendidikan Tidak Berhenti di Bangku Akademis

Surakarta – majalahlarise.com - Mendekati suasana Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, Siaran Jagongan kali ini membawakan topik “Pendidikan Tiada Akhir”, sebagai pengingat pentingnya aspek pendidikan bagi setiap manusia.

Pendidikan perlu dimaknai secara luas, bukan hanya soal nilai, gelar akademis, dan ijazah. Pengalaman hidup juga memberikan pendidikan atau pengajaran, sampai akhir hayat manusia.

“Istilahnya Long Life Learning. Selama kita masih hidup, kita masih terus belajar untuk menjadi manusia yang memanusiakan manusia,” ungkap Asep Yudha Wirajaya, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus saat menjadi narasumber Siaran Jagongan pada Kamis (30/4/2026).

Sebagai seorang dosen yang mendalami kajian pernaskahan kuno, Asep Yudha juga menyampaikan fungsi naskah sebagai media pengajaran.

Fungsi pengajaran naskah salah satunya ditemukan pada naskah Kiai Sholeh Darat, guru spiritual Raden Ajeng Kartini yang menuliskan tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Jawa. Adapun judul naskahnya adalah Tafsir Faidh ar-Rahman.

Naskah tersebut ditulis oleh Kiai Sholeh Darat atas desakan Kartini agar masyarakat dapat memperoleh pengajaran dari Al-Qur’an dalam bahasa yang familier dan mudah dipahami. 

Melalui pengajaran tersebut, tepatnya dari kutipan Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 257, Kartini mendapatkan inspirasi untuk gerakan emansipasi perempuan yang populer dalam istilah “Habis Gelap Terbitlah Terang”. 

Asep Yudha juga menambahkan cara berproses menjadi pribadi yang selamat dan bahagia melalui pengajaran, tepatnya dengan mengambil pembelajaran dari pengalaman hidup masing-masing.

“Misalnya, apabila kita menjumpai realita tidak sesuai dengan ekspektasi dan merasakan penyesalan atau amarah akan hal tersebut. Lebih baik kita alihkan energi negatif itu menjadi energi positif untuk kebaikan diri.” Tutur Asep Yudha.

Manusia juga harus belajar untuk memaafkan versi dirinya di masa lalu agar dapat menjalani hidup dengan tenang dan membuka peluang-peluang baru.

Demikian sekilas mengenai Siaran Jagongan dengan topik “Pendidikan Tiada Akhir”. Esensi pendidikan atau pengajaran sejatinya dapat ditemukan melalui pengalaman-pengalaman hidup manusia. Selalu luruskan niat dan terus perbaiki langkah dengan belajar.

Penulis: Lutfia Hardiantari, Fadila Tessa Azilla, Natha Broto Pradipta

Dokumentasi: Fadila Tessa Azilla


Baca juga: Kuliah Praktisi Ilmu Komunikasi Univet Bantara, Mahasiswa Siap Terbitkan Dua Edisi Majalah Digital UNIVET POS





Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top