GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Ramadhan sebagai Wacana Sosial dalam Manuskrip Kuno
![]() |
| Kegiatan diskusi tentang Ramadhan sebagai wacana sosial dalam manuskrip kuno di kantor RRI Surakarta. |
Ramadhan sebagai Wacana Sosial dalam Manuskrip Kuno
SURAKARTA - majalahlarise.com - Kajian mengenai Ramadhan dalam manuskrip kuno menjadi sorotan dalam diskusi yang digelar di Radio Republik Indonesia (RRI) Pro 4 memgenai kajian kebudayaan. Pada diskusi ini menghadirkan narasumber Dr. Asep Yudha Wirajaya S.S., M.Hum. (Dosen Sastra Indonesia UNS dan Ketua MANASSA), bersama mahasiswa filologi Rezty Putri Ariana Gunarso dan Lutfia Hardiantari, dengan Roy Rohim sebagai host.
Dr. Asep menjelaskan, manuskrip atau naskah kuno kini semakin terabaikan seiring perkembangan zaman. Selain peminat yang menurun, kualitas kertas yang mulai rusak juga mengancam kelestariannya.
“Kita bisa kehilangan pijakan keilmuan dari ilmu pengetahuan yang terkandung dalam naskah-naskah kuno,” ujarnya.
Beberapa naskah kuno yang membahas puasa juga dipaparkan. Misalnya, Serat Centini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan anggota tubuh dari dosa dan menjaga hati. Pendapat ini diadopsi dari pemikiran Al-Ghazali, menunjukkan tingginya literasi pada zaman dahulu.
Sementara itu, naskah Bustanus Salatin atau Tajussalatin abad ke-16, yang wajib dibaca calon raja, menekankan bahwa puasa tidak hanya ibadah individual tetapi juga momentum memperbanyak sedekah dan membangun kesadaran sosial. Kegiatan berbuka puasa bersama, menurut naskah ini, merupakan bentuk empati sosial dan latihan untuk membayar zakat mal, bukan sekadar zakat fitrah.
Dalam sejarah manuskrip, terdapat catatan menarik tentang Raja Balaputradewa yang meminta ulama dari Mekkah meski kerajaan Sriwijaya saat itu beragama Buddha. Hal ini menunjukkan toleransi tinggi masyarakat pada masa itu.
Dr. Asep juga menyebutkan perkembangan terbaru dalam pelestarian manuskrip, misalnya proses deasidifikasi kertas yang baru ditemukan pada awal 2000-an. Beberapa kutipan naskah menegaskan etika puasa: “Dan setidaknya orang mukmin menahan lidah untuk perbuatan yang sia-sia” (Tajussalatin) atau puasa memiliki tiga martabat, yakni bagi orang awam, menahan dosa, dan menahan hati untuk Allah (Serat Centini).
Diskusi juga membahas bahasa dalam manuskrip kuno. Puasa disebut dari kata upa dan wasa (Sansekerta), dan istilah sembahyang dipilih karena lebih dekat dengan budaya Jawa daripada kata salat. Dalam sastra, esensi ibadah sering disampaikan secara metaforis. Selain itu, naskah juga mencontohkan praktik sedekah, pengelolaan zakat, dan pentingnya keseimbangan antara penerima dan pemberi zakat agar tidak menimbulkan ketergantungan.
Mahasiswa filologi belajar mendigitalisasikan naskah agar bisa diakses publik, misalnya melalui Leiden Library atau British Library. Hal ini memungkinkan masyarakat luas mempelajari khazanah masa lalu dan melihat Ramadhan dari perspektif sosial dan etika hidup Jawa-Islam.
Ramadhan, sebagaimana tergambar dalam manuskrip kuno, bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi momentum untuk menahan diri dari perbuatan sia-sia, menjaga hati, dan meningkatkan kesadaran sosial. Dalam catatan naskah seperti Serat Centini dan Tajussalatin, puasa ditempatkan dalam kerangka etika hidup Jawa-Islam, di mana ibadah individu dipadukan dengan kepedulian terhadap sesama. Bagi generasi muda yang menelaah naskah-naskah ini, Ramadhan mengingatkan bahwa ibadah adalah jalan untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yang tidak hanya taat pada Tuhan, tetapi juga peka terhadap lingkungan dan peradaban di sekitarnya. Dengan membaca dan mempelajari manuskrip kuno, kesan Ramadhan tidak sekadar bersifat spiritual, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai sosial, budaya, dan intelektual yang mendalam.
Penulis: Putri Aulia Nur Fauziah, Lutfia Hardiantari, Rezty Putri Ariana Gunarso, Tiara Putri Maharani
Baca juga: Kajian Ramadhan Series ke-3 PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Digelar di RM Ayam San Sambi
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...

Tidak ada komentar: