Jenang Wingko Babat Bu Endang Pracimantoro Wonogiri, Bertahan Tiga Generasi dengan Rasa Legendaris

Print Friendly and PDF

 

Bu Tuminah bersama rekannya saat membuat jenang.
 


Jenang Wingko Babat Bu Endang Pracimantoro Wonogiri, Bertahan Tiga Generasi dengan Rasa Legendaris

Wonogiri — majalahlarise.com - Aroma santan kental yang dimasak perlahan sejak pagi hari menyelimuti sebuah dapur produksi sederhana di Pracimantoro, Wonogiri. Dari tempat inilah Jenang dan Wingko Babat “Bu Endang” lahir dan terus bertahan lintas generasi, menjaga rasa sekaligus tradisi kuliner warisan leluhur.

Usaha jenang dan wingko babat ini tidak sekadar bisnis rumahan. Di balik setiap adonan yang diaduk berjam-jam, tersimpan kisah ketekunan tiga generasi keluarga yang setia merawat cita rasa khas Jawa.

Bu Tuminah, salah satu pegawai senior yang telah bekerja selama 15 tahun, menguraikan perjalanan usaha tersebut. Saat ditemui di lokasi produksi, ia mengatakan usaha jenang Bu Endang sudah berjalan turun-temurun hingga generasi ketiga.

“Ini sudah lama sekali, Mas. Turun-temurun. Sekarang sudah generasi ketiga,” ujarnya sambil terus mengawasi adonan jenang yang mengepul.

Bu Tuminah menunjukkan jenang hasil buatannya.


Setiap hari, dapur produksi mulai aktif sejak pukul 07.00 WIB. Untuk sekali produksi, jenang dibuat sebanyak 20 kilogram dengan kebutuhan gula pasir mencapai 20 kilogram dan kelapa sekitar 35 butir. Kelapa tersebut diolah terlebih dahulu menjadi santan kental atau blondo sebelum dicampur bersama gula dan adonan tepung.

Proses pembuatan jenang membutuhkan ketelatenan ekstra. Setelah semua bahan dimasukkan, adonan harus terus diaduk tanpa henti hingga teksturnya kalis dan tidak lengket.

“Mulainya jam tujuh pagi. Matangnya bisa jam tiga sore atau jam empat. Tergantung apinya. Kalau kayunya basah karena habis hujan, bisa sampai jam setengah lima,” tutur Bu Tuminah.

Dalam sehari, produksi jenang dapat menghasilkan sekitar 75 loyang dengan ukuran beragam menyesuaikan pesanan. Harga pun bervariasi, mulai Rp25 ribu untuk ukuran kecil, Rp32 ribu untuk ukuran sedang, hingga Rp60 ribu untuk ukuran besar dan lebar.

Selain jenang, dapur ini juga memproduksi wingko babat yang tak kalah diminati. Untuk sekali produksi wingko, dibutuhkan sekitar 30 butir kelapa, 5 kilogram tepung, dan 3,5 kilogram gula. Harga wingko babat dipatok mulai Rp32 ribu per loyang.

Dari Pracimantoro, produk jenang dan wingko babat Bu Endang telah menjangkau berbagai daerah. Bu Tuminah menjelaskan pemasaran dilakukan melalui pedagang dan pesanan langsung via telepon atau WhatsApp.

“Diambil pedagang ke Kudus, juga ada pesanan ke Wates, Wonogiri kota, Jogja, Wonosari, Semarang, dan daerah lain. Nanti dikirim pakai mobil,” jelasnya.

Usaha ini juga menjadi sumber penghidupan warga sekitar. Biasanya terdapat enam orang karyawan dengan pembagian tugas masing-masing, mulai dari pengolah jenang, pembuat wingko babat, pemarut kelapa, hingga pengemasan. Meski saat ini sebagian karyawan sedang libur karena musim bertani, regenerasi tenaga kerja terus berjalan.

“Yang sudah sepuh banyak yang tidak kuat mengaduk jenang, jadi sekarang diganti generasi muda,” kata Bu Tuminah.

Di tengah gempuran makanan modern dan perubahan selera pasar, Jenang Wingko Babat “Bu Endang” tetap berdiri tegak dengan kekuatan tradisi. Ketekunan, konsistensi rasa, dan kesetiaan pada proses menjadi kunci utama usaha ini bertahan dan terus dicari lintas daerah.

Dari adonan sederhana dan bara api kayu, warisan kuliner Pracimantoro terus hidup, menghangatkan bukan hanya lidah, tetapi juga cerita tentang kerja keras dan ketulusan yang diwariskan dari generasi ke generasi. (Sofyan)


Baca juga: KRT HY Supardi Terima Penghargaan Tokoh Prestasi Nusantara 2026


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top