GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Meriah, 250 Penari Hidupkan “Banyuanyar Menari”
![]() |
| Sekitar 250 penari dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa, larut dalam gelaran “Banyuanyar Menari”. |
Meriah, 250 Penari Hidupkan “Banyuanyar Menari”
Boyolali – majalahlarise.com - Hujan yang mengguyur sejak pagi tak mampu meredam semangat ratusan penari di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel,Boyolali, Minggu (14/12). Sekitar 250 penari dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa, larut dalam gelaran “Banyuanyar Menari”, sebuah perhelatan budaya yang menghidupkan denyut tradisi desa.
Dibalut rintik hujan, para penari tetap tampil penuh energi membawakan tari Bergodo Lembu dan tari Kopi Barendo, dua tarian khas yang lahir dari keseharian warga Banyuanyar. Tepuk tangan penonton mengiringi setiap gerakan, seolah hujan justru menjadi saksi kuatnya kecintaan warga terhadap budaya lokal.
Pertunjukan dibuka oleh pemuda Desa Banyuanyar yang menampilkan tari Bergodo Lembu, tarian yang menggambarkan kedekatan masyarakat dengan ternak sapi perah. Penampilan berlanjut dengan tari Kopi Barendo yang dibawakan siswi-siswi SD bersama beberapa penari dewasa. Puncaknya, kembali ditutup dengan Bergodo Lembu oleh siswa SD Banyuanyar yang tampil penuh percaya diri.
Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari gerakan inovasi desa berbasis budaya dan pertanian.
"Banyuanyar Menari adalah upaya kami mengangkat budaya lokal yang tumbuh dari kehidupan masyarakat. Kami menciptakan tarian asli desa sebagai pondasi pelestarian budaya,” ujar Komarudin.
Ia menjelaskan, tari Bergodo Lembu terinspirasi dari potensi besar peternakan sapi perah di Banyuanyar. Saat ini, desa tersebut memiliki sekitar 1.650 ekor sapi perah yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.
"Kami juga mulai mengembangkan hilirisasi kampung susu, dari peternakan, pengolahan limbah, hingga produk susu. Di sektor pertanian ada kopi, jahe, dan madu,” tambahnya.
Sementara itu, tari Kopi Barendo menggambarkan semangat panjang masyarakat dalam mengelola kopi, dari masa lalu hingga kini, sebagai sumber penghidupan yang bernilai ekonomi.
Seluruh penari dalam acara ini merupakan warga asli Desa Banyuanyar, yang berasal dari tiga sekolah dasar di desa tersebut, serta kelompok pemuda dan masyarakat umum.
Salah satu penari cilik Bergodo Lembu, Rheyvan Aprian Ramadhan, mengaku telah berlatih selama satu hingga dua bulan bersama teman-temannya.
"Tariannya gampang kalau niat. Yang susah itu ngatur pola pas latihan, tapi seru,” katanya polos.
Hal senada disampaikan Bella Sita Kurniawati, penari Kopi Barendo. Ia menjelaskan bahwa tarian tersebut memiliki delapan gerakan utama yang melambangkan proses pengelolaan kopi.
"Mulai dari nanam, petik, sampai jemur kopi. Ini melambangkan keteguhan petani kopi sejak zaman Belanda,” tuturnya.
Tak hanya tarian, Desa Banyuanyar juga memperkenalkan batik khas desa bermotif kekayaan alam lokal seperti kopi, susu, jahe, madu, dan keris, sebagai simbol identitas sekaligus potensi ekonomi kreatif desa.
Melalui “Banyuanyar Menari”, desa ini menegaskan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga kekuatan untuk masa depan bahkan hujan pun tak mampu memadamkannya. (Ags/ Sofyan)
Baca juga: PPG Unisri Gelar Pelatihan Analisis Data Kualitatif dengan NVivo
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...

Tidak ada komentar: