Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISH Univet Bantara Dapat Pembekalan Manajemen Krisis PR di Era Media Sosial

Print Friendly and PDF

Wakil Dekan FISH Univet Bantara, Dr. Betty Gama, M.Si., dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan.


Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISH Univet Bantara Dapat Pembekalan Manajemen Krisis PR di Era Media Sosial

SUKOHARJO – majalahlarise.com - Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) menggelar kegiatan kuliah praktisi untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan di bidang Public Relations (PR), Selasa (16/12/2025). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–12.00 WIB di ruang kelas tersebut mengangkat tema “Manajemen Krisis PR di Era Media Sosial dan Disinformasi”.

Kuliah praktisi ini menghadirkan Septina Fadia Putri, S.H., praktisi Public Relations sekaligus PR Marcomm Lor In Group Solo, yang membagikan pengalaman langsung menangani krisis komunikasi di industri hospitality dan pariwisata.

Wakil Dekan FISH Univet Bantara, Dr. Betty Gama, M.Si., dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan, menjelaskan pentingnya pengayaan pengetahuan praktis bagi mahasiswa.

Pemateri Septina Fadia Putri saat menyampaikan materi healing crisis marketing communication.


“Apa yang telah disampaikan oleh Bapak dan Ibu dosen tentu masih banyak kekurangannya. Semoga dengan tambahan pengetahuan dari pemateri Septina Fadia Putri ini akan memperkaya pengetahuan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti relevansi tema yang diangkat, khususnya dalam konteks isu-isu krisis yang tengah menjadi perhatian publik.

“Topik yang akan disampaikan ini healing crisis marketing communication, yang tampaknya sedang booming di Indonesia. Apalagi jika dikaitkan dengan dampak bencana seperti banjir di Sumatera. Ini menjadi tantangan besar bagaimana krisis ditangani dan dikomunikasikan dengan solusi yang tepat,” tambahnya.

Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Public Relations, Adhika Prasetya Kusharsanto, S.Sos., M.M., mengatakan peran strategis PR dalam menjaga citra dan reputasi organisasi.

“Tugas PR adalah menjaga agar perusahaan tetap memiliki citra yang baik. Ketika ada krisis, bagaimana mengatasinya dengan tepat agar proses bisnis tetap berjalan dan berdampak pada kesejahteraan karyawan,” jelasnya.

Adhika juga membagikan pengalaman pribadinya saat menangani krisis di dunia penerbitan yang sempat menjadi kasus nasional. Menurutnya, penanganan krisis membutuhkan langkah tegas dan komunikasi yang kredibel, seperti penarikan produk serta konferensi pers bersama pihak berwenang.

“Dari situ kita belajar, krisis harus ditangani cepat, terbuka, dan bertanggung jawab,” ungkapnya.

Dalam paparannya, Septina Fadia Putri menjelaskan krisis di era digital memiliki karakter yang berbeda dibandingkan masa sebelum media sosial berkembang pesat.

“Sekarang semuanya bisa viral dalam hitungan menit. Jejak digital itu permanen, sulit dihapus. Semua orang bisa menjadi saksi digital karena setiap orang punya kamera dan platform media sosial,” jelasnya.

Ia menguraikan empat jenis krisis di era digital, yakni product issue, service failure, PR misstep, dan external threat seperti hoaks dan rumor. Untuk menghadapi kondisi tersebut, Septina menjelaskan pentingnya respons cepat dalam golden hour atau 60 menit pertama sejak krisis muncul.

“Respon cepat, jujur, dan transparan adalah kunci. Fokus pada solusi, gunakan kanal yang tepat, serta pastikan pesan konsisten di semua platform,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tahapan praktis penanganan krisis, mulai dari menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih, memberikan penjelasan situasi secara empatik, hingga menunjukkan komitmen perbaikan.

“Jangan mendiamkan krisis dengan harapan akan hilang sendiri. Itu justru memperbesar masalah,” tegasnya.

Terkait pemulihan reputasi pascakrisis, Septina mengatakan proses tersebut bersifat jangka panjang.

“Pemulihan reputasi itu maraton, bukan sprint. Harus dilakukan berkelanjutan, konsisten, dan didukung upaya membangun citra positif melalui media serta influencer,” ujarnya.

Kegiatan kuliah praktisi ini mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa Ilmu Komunikasi FISH Univet Bantara. Selain memperkaya wawasan teoretis, kegiatan ini dinilai memberikan gambaran nyata tentang tantangan dan strategi Public Relations dalam menghadapi krisis di era media sosial dan disinformasi yang kian kompleks. (Sofyan)


Baca juga: Jawa Tengah Sumbang 57 Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top