Dari Pekarangan Menuju Dunia, Kisah Sri Widodo dan Yoso Farm Bangun Kemandirian Pangan

Print Friendly and PDF



Dari Pekarangan Menuju Dunia, Kisah Sri Widodo dan Yoso Farm Bangun Kemandirian Pangan

KLATEN – majalahlarise.com - Bermula dari kepedulian sepasang suami istri terhadap kelestarian alam, Yoso Farm kini menjelma menjadi model percontohan pertanian terpadu (integrated farming) yang sukses. Tidak hanya menarik perhatian pemerintah, konsep kemandirian pangan yang diusung oleh Sri Widodo dan istrinya ini bahkan menarik minat pengunjung dari berbagai negara di Eropa.

Sri Widodo, sang pendiri Yoso Farm, menceritakan bahwa inisiatif ini lahir jauh sebelum ia menikah. Bersama sang istri, ia aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan, mulai dari penghijauan hingga aksi bersih-bersih sungai.

“Dari aktivitas itulah muncul pemikiran tentang bagaimana menjalani hidup yang berkelanjutan (sustainable living) dan ramah lingkungan. Kami memutuskan bahwa dalam berumah tangga nanti, konsepnya harus sejahtera namun tidak merusak alam,” ungkap Widodo saat ditemui di kediamannya, baru-baru ini.


Yoso Farm menerapkan konsep homesteading, di mana sebuah rumah tangga berusaha memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Widodo menjelaskan tujuannya bukan sekadar menanam, melainkan menciptakan sistem pertanian terpadu di pekarangan sendiri.

“Kami membangun kebun pangan dengan integrasi empat komponen utama: pertanian, perikanan, peternakan, dan pengolahan limbah. Semuanya berputar dalam satu siklus,” jelasnya.

Penerapan konsep zero waste (nihil sampah) menjadi kunci utama operasional Yoso Farm. Limbah dari satu sektor menjadi input bagi sektor lainnya, sehingga persoalan sampah rumah tangga dapat diselesaikan secara mandiri di rumah tanpa membebani lingkungan luar.


“Kami ingin mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan sekaligus membuktikan bahwa kebutuhan pangan rumah tangga bisa diusahakan sendiri dari pekarangan,” tambah Widodo.

Membangun ekosistem ini bukan tanpa tantangan. Widodo mengakui bahwa pada awalnya, seluruh operasional mulai dari beternak, bertani, hingga mengolah limbah dikerjakan hanya berdua bersama sang istri. Namun, seiring tingginya antusiasme publik, Yoso Farm kini mulai memberdayakan warga sekitar.

“Sekarang karena animo masyarakat yang datang semakin tinggi, kami melibatkan tetangga. Ada Mas Lidayo yang mengurus kebun, ada Mbak Duti, serta adik-adik yang membantu administrasi. Jadi dampaknya juga dirasakan oleh lingkungan sekitar,” ujarnya.

Keunikan dan keberhasilan sistem yang dibangun Yoso Farm ternyata terdengar hingga ke mancanegara. Widodo menyebutkan bahwa banyak pengunjung asing yang datang secara pribadi untuk belajar dan melihat langsung sistem pertanian terpadu ini.

“Pengunjung dari luar negeri lumayan banyak, kebanyakan dari Belanda, Swiss, dan Prancis. Mereka datang atas nama pribadi, bukan instansi, karena ingin melihat bagaimana konsep ini dijalankan,” tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga mulai melirik Yoso Farm sebagai mitra strategis. Berbagai dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya, kerap melibatkan Widodo dalam sosialisasi program lingkungan.

“Kami sering diundang untuk sosialisasi agar konsep Yoso Farm ini bisa diimplementasi oleh masyarakat luas. Harapannya sederhana, agar masyarakat bisa mandiri pangan dan berdikari,” pungkas Widodo.

Kehadiran Yoso Farm menjadi bukti nyata bahwa langkah kecil dari pekarangan rumah dapat membawa dampak besar bagi ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan, sekaligus menjadi inspirasi global. (Danu)


Baca juga: Pemprov Jateng Kucurkan Rp 16,6 Miliar Hibah Pendidikan Tinggi Sepanjang 2025


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top