Dari Gudang Logistik Menjadi Destinasi Seni, Wisata Keramik Wonogiri Menjaga Warisan Tembikar

Print Friendly and PDF



Dari Gudang Logistik Menjadi Destinasi Seni, Wisata Keramik Wonogiri Menjaga Warisan Tembikar

Wonogiri - majalahlarise.com - Di balik deretan keramik yang tersusun rapi, Wisata Keramik Wonogiri menyimpan cerita panjang tentang kreativitas, ketekunan, dan upaya menjaga warisan seni tradisional. Berdiri sejak akhir 2015, tempat ini bukan sekadar destinasi belanja, tetapi juga ruang hidup bagi seni tembikar yang kian langka.

Awalnya, Wisata Keramik Wonogiri hanyalah sebuah gudang drop off pengiriman keramik ke Papua. Barang yang menumpuk akibat kelebihan kapasitas gudang justru memantik ide sederhana namun visioner. Keramik-keramik tersebut kemudian ditata dan dipajang agar lebih mudah dilihat, hingga akhirnya berkembang menjadi outlet yang kini dikenal sebagai Wisata Keramik Wonogiri.

“Pada awalnya wisata keramik Wonogiri hanyalah gudang drop off untuk ke Papua. Karena overload barang, muncul ide untuk mendisplay keramik, dan dari situlah outlet ini terbentuk,” tutur Sartono, pemilik Wisata Keramik Wonogiri.

Memasuki area wisata, pengunjung langsung disambut beragam karya keramik dengan bentuk dan ukuran yang beragam. Mulai dari piring hias, pot tanaman, set tempat duduk, hingga guci-guci besar, semuanya dipamerkan dalam satu kawasan yang terasa hangat dan artistik. Setiap sudut menampilkan karakter kuat dari kerajinan tangan, bukan produk pabrikan massal.


Di balik keindahan itu, proses pembuatan keramik menyimpan tantangan tersendiri. Seluruh karya dibuat dengan keterampilan khusus oleh para perajin seni tembikar putar dan pelukis tembikar. Keahlian tersebut tidak diperoleh melalui pendidikan formal, melainkan dari proses belajar otodidak yang diwariskan secara turun-temurun.

“Pembuatan keramik ini membutuhkan keahlian khusus. Para perajin belajar secara otodidak dan keterampilan itu diturunkan kepada anak cucunya,” jelas Sartono.

Namun, ia mengakui keberlangsungan seni tembikar saat ini menghadapi persoalan serius. Minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional semakin menurun. Akibatnya, jumlah ahli tembikar putar dan pelukis tembikar semakin sedikit dan sulit ditemui.

“Sekarang ini minat generasi penerus semakin berkurang. Itu sebabnya para ahli seni tembikar putar dan pelukis tembikar menjadi sangat langka,” ungkapnya.

Meski demikian, Wisata Keramik Wonogiri tetap berupaya bertahan sekaligus memperkenalkan seni tembikar kepada masyarakat luas. Selain sebagai tempat penjualan, lokasi ini juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung yang ingin mengenal proses dan nilai seni di balik setiap karya.

Dari sisi harga, keramik yang ditawarkan cukup variatif dan dapat menjangkau berbagai kalangan. Produk dijual mulai dari Rp50 ribu untuk ukuran kecil hingga mencapai Rp6–7 juta untuk keramik berukuran besar dengan tingkat kerumitan tinggi.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke Wonogiri, Wisata Keramik Wonogiri menghadirkan pengalaman berbeda. Tidak hanya membawa pulang benda seni, tetapi juga cerita tentang ketekunan para perajin dan perjuangan menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. (Danu)


Baca juga: Milad 15 Tahun SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Perkuat Karakter dan Prestasi


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top