GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Berawal dari Iseng Kala Pandemi, Gembong Bonsai Wonogiri Kini Jadi Jujugan Kolektor hingga Transaksi Ratusan Juta Rupiah
Berawal dari Iseng Kala Pandemi, Gembong Bonsai Wonogiri Kini Jadi Jujugan Kolektor hingga Transaksi Ratusan Juta Rupiah
WONOGIRI – majalahlarise.com - Pandemi Covid-19 yang melanda beberapa tahun silam ternyata membawa berkah tersendiri bagi sebagian orang yang jeli melihat peluang. Salah satunya adalah Gembong, pemilik Gembong Bonsai yang berlokasi di Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Bermula dari sekadar hobi untuk mengisi waktu luang, kini ia sukses mengembangkan budidaya bonsai dengan nilai transaksi yang fantastis.
Gembong menuturkan, perjalanan bisnisnya dimulai pada pertengahan masa pandemi. Saat itu, ia memulainya dengan budidaya cangkok sederhana.
"Maksudnya kita bicara dari awal saya mulai dari hobi, terus budidaya, sampai sekarang. Pertama mulai budidaya itu pertengahan pandemi. Semua memang saya mulai dari kecil-kecilan," ungkap Gembong saat ditemui di galerinya.
Sebagai pemain baru kala itu, Gembong mengakui banyak kendala yang dihadapi, terutama kegagalan dalam menanam. Namun, prinsip "belajar dari kegagalan" menjadi kuncinya. Ia banyak menimba ilmu dari media sosial dan rekan sesama penghobi.
"Kalau kendala ya pasti ada, tanaman kan pasti ada kendalanya. Cuma kita bisa belajar sendiri atau tanya ke teman-teman. Kalau gagal, berarti kita belajar dari sebelumnya," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa komunitas bonsai memiliki ikatan persaudaraan yang sangat kuat. Hal ini memudahkannya dalam belajar dan memperluas jaringan, bahkan hingga ke luar kota seperti Surabaya. "Orang bonsai itu kan luas-luas, akrab-akrab. Jadi pengennya cari persaudaraan yang banyak. Belajar dari situ sangat mudah sekali," tambahnya.
Meski sempat memiliki hingga 30 jenis varian pohon di awal usahanya, kini Gembong lebih selektif. Ia memutuskan untuk fokus pada jenis pohon yang memiliki pertumbuhan cepat dan peminat stabil, yakni Waru dan Sancang.
"Kalau sekarang saya petani, jadi mengikuti alur yang lagi rame apa. Saya juga bisa bedakan yang cepat (tumbuh) itu yang mana. Jadi saat ini saya cuma Waru sama Sancang saja," jelasnya.
Menurutnya, kecepatan pertumbuhan pohon sangat dipengaruhi oleh media tanam, perawatan, dan suhu lingkungan. Ia mencontohkan pohon Waru yang bisa tumbuh pesat dalam satu tahun jika dirawat dengan tepat, berbeda dengan jenis Serut yang cenderung lebih lambat di lokasi budidayanya.
Berbicara mengenai harga, Gembong menegaskan bahwa bonsai adalah seni pohon hidup yang tidak memiliki patokan harga baku layaknya kendaraan bermotor. Semakin tua, semakin berkarakter, dan semakin sering berprestasi di pameran, harganya akan terus melambung.
"Kalau bonsai itu enggak ada patokan harga. Ada yang pohon besar murah, ada yang kecil mahal. Tergantung gerak, karakter tua, dan perawatannya," paparnya.
Di galeri Gembong Bonsai, harga yang ditawarkan sangat bervariasi mengikuti segmen pasar. Mulai dari bahan cangkokan seharga puluhan ribu rupiah, hingga pohon jadi (matang) yang mencapai ratusan juta rupiah.
"Saya melayani keseluruhan. Ada yang cangkokan, ada yang Rp10 juta, sampai Rp175 juta juga ada. Tergantung konsumen," kata Gembong.
Bahkan, ia kerap dipercaya menjadi perantara (broker) untuk mencarikan bonsai kelas kontes bagi para kolektor dengan nilai transaksi fantastis. "Ada yang minta tolong carikan bon (bonsai) yang sudah berprestasi, ada yang sampai Rp500 juta, Rp150 juta, atau Rp70 juta. Itu sering," pungkasnya.
Bagi Anda yang tertarik melihat koleksi atau belajar mengenai bonsai, Anda dapat mengunjungi galeri Gembong Bonsai di wilayah Manyaran, perbatasan Wonogiri dan Sukoharjo. (Danu)
Baca juga: Ekspansi ke Pusat Kota, LKP I-ON Gelar Prompt Magic Class Tandai Soft Launching di Wonogiri
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...


Tidak ada komentar: