Seminar Nasional “The Future of Creative Work” Tekankan Pentingnya Adaptasi Seniman di Era Teknologi

Print Friendly and PDF

Seminar Nasional bertajuk “The Future of Creative Work: Skill Apa yang Membuat Seniman Relevan 10 Tahun ke Depan?”


Seminar Nasional “The Future of Creative Work” Tekankan Pentingnya Adaptasi Seniman di Era Teknologi

Surakarta - majalahlarise.com - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta sukses menggelar Seminar Nasional bertajuk “The Future of Creative Work: Skill Apa yang Membuat Seniman Relevan 10 Tahun ke Depan?” Kegiatan yang berlangsung di Gedung SBSB Kampus 2 ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kesiapan mahasiswa dan pelaku seni menghadapi disrupsi teknologi, khususnya perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI) di Era Society 5.0.

Ketua BEM, Alung Mangku Buana, dalam sambutannya menyampaikan dunia seni harus bersiap menghadapi perubahan cepat yang ditimbulkan oleh teknologi.

“Seminar ini adalah ikhtiar kami untuk membekali mahasiswa serta masyarakat seni agar bersiap-siap terhadap perubahan dan gempuran teknologi di era 5.0. Tujuannya adalah menjaga keberlanjutan peran seniman dalam ekosistem ekonomi kreatif Indonesia,” ungkapnya.

Narasumber pertama, Dr. Mikke Susanto, S.Sn., M.A., kurator nasional dan Dosen Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, membawakan materi bertema “Seni Kontemporer Berbasis Teknologi 5.0”. Ia menggambarkan Society 5.0 sebagai era ketika seni tidak lagi dipahami hanya sebagai objek visual, melainkan sebagai sistem interaktif yang menyatu dengan jejaring sosial dan algoritma digital.

Dalam paparannya, Dr. Mikke menguraikan delapan tren global yang akan membentuk masa depan seni, seperti Generative AI, Immersive XR, Blockchain & NFT, hingga BioArt. Ia mengatakan karya seni masa depan bersifat interaktif, kolaboratif, dan generatif menghadirkan pengalaman yang membuat penonton terlibat aktif dan memungkinkan karya untuk terus berkembang.

Narasumber kedua, Ian Perman (Ianoncent), Visual Artist dan Ilustrator Profesional dengan pengalaman lebih dari 13 tahun, memberikan sudut pandang berbeda yang berfokus pada mentalitas dan kesiapan individu seniman.

Dengan perjalanan karier yang dimulai dari teknik drawing tradisional hingga menjadi ilustrator digital, Ian menerangkan teknologi, termasuk AI, bukanlah ancaman.

“Kita tidak perlu takut dengan AI. Justru, AI dan teknologi lainnya harus kita jadikan alat untuk berkembang, bukan untuk ditakuti,” tegasnya.

Ian menambahkan di balik semua inovasi, penguasaan fundamental skill tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan.

“Teknologi bisa mempermudah, tetapi rasa dan jiwa karya lahir dari pemahaman dasar seni yang kuat. Tanpa fondasi ini, karya akan terasa hampa,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi, ketangguhan mental, serta personal branding untuk dapat bersaing di industri kreatif yang terus berubah.

Seminar nasional ini menyimpulkan seniman Indonesia harus memiliki kemampuan untuk merangkul dua kutub sekaligus: menguasai teknologi mutakhir tanpa meninggalkan akar dan nilai fundamental seni. Adaptasi menjadi kata kunci, bukan ketakutan. Dengan kombinasi keduanya, seniman akan mampu bertahan, berkembang, bahkan menjadi pelaku kreatif berpengaruh dalam ekosistem seni masa depan. (Mas Is/ Sofyan)


Baca juga: Gubernur Jateng Tegaskan Trans Jateng Bukan Bisnis, Fokus pada Pelayanan Publik


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top