Besek Bertransformasi: Inovasi Seni Hidupkan Kembali Kejayaan Anyaman Bambu Pentur

Print Friendly and PDF

Beragam produk anyaman.


Besek Bertransformasi: Inovasi Seni Hidupkan Kembali Kejayaan Anyaman Bambu Pentur

Surakarta - majalahlarise.com - Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi produk plastik, sinar harapan kembali muncul di Desa Pentur, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Desa yang sejak puluhan tahun dikenal sebagai sentra penghasil anyaman bambu ini kini kembali bergeliat berkat sentuhan inovasi dari Program Pengabdian Inovasi Seni Nusantara (PISN) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Selama bertahun-tahun, para perajin Pentur menghasilkan beragam produk anyaman mulai dari kepang, tampah, tebog, kalo, irig, tumbu, centak, senik, hingga kukusan. Namun, perubahan gaya hidup dan serbuan produk berbahan plastik membuat sebagian besar produk itu perlahan menghilang dari pasar. Kini hanya besek yang masih bertahan meski dengan beragam tantangan seperti desain monoton, bahan baku terbatas, dan persaingan harga.

Pada era kejayaan tahun 1990-an, ratusan perajin di Pentur aktif memproduksi besek dalam jumlah besar. Kini, sebagian besar dari mereka terutama para ibu rumah tangga harus berjuang menjaga tradisi di tengah menurunnya produktivitas.

Di momen krusial inilah ISI Surakarta hadir memberi energi baru. Dipimpin Dr. Sumarno, S.Sn., M.A., tim PISN menerapkan dua pendekatan strategis, yaitu modifikasi desain (iteratif) dan pengembangan produk. Pendekatan ini digagas untuk mengangkat kembali nilai tradisi sekaligus menjawab kebutuhan pasar modern.

“Pendekatan iteratif tidak mengubah akar tradisi. Kami justru berangkat dari kekuatan yang sudah dimiliki perajin yaitu besek lalu mengembangkan bentuk yang lebih efisien, mudah dibuat, hemat bahan, dan kompetitif," jelas Dr. Sumarno. 

Salah satu inovasi yang menjadi sorotan adalah pengembangan besek dengan elemen tali dari limbah batang kunyit. Material sederhana yang sebelumnya terbuang kini berfungsi sebagai aksen estetis sekaligus penguat struktur. Inovasi ini membuat besek tampil lebih menarik, ramah lingkungan, dan bernilai tambah.

Tak hanya memodifikasi besek, tim ISI juga membuka jalan bagi lahirnya produk baru. Salah satu karya yang banyak mendapat apresiasi adalah transformasi kukusan bambu menjadi tudung lampu artistik. Produk ini merangkai tradisi dengan nuansa kontemporer, menciptakan peluang pasar baru yang lebih luas.

“Ketika kukusan menjadi tudung lampu, kita tidak hanya menyelamatkan produk yang hampir punah, tetapi juga menghadirkan cerita baru bahwa warisan budaya bisa relevan dengan kebutuhan masa kini,” tutur 

Dr. Sumarno menambahkan tujuan kami sederhana mengembalikan martabat kerajinan anyam bambu Pentur dengan pendekatan desain yang relevan dan bernilai pasar.

Program pemberdayaan ini tidak berhenti pada pelatihan teknis. Ia menumbuhkan rasa percaya diri para perajin, memperkuat fondasi ekonomi desa, serta memulihkan kebanggaan terhadap tradisi yang nyaris memudar.

Melalui inovasi seni berbasis budaya, PISN ISI Surakarta berharap Desa Pentur kembali dikenal sebagai pusat kerajinan anyam bambu yang kreatif, adaptif, dan siap bersaing. Sebuah langkah kecil yang membuka peluang besar bagi para perajin, bagi budaya, dan bagi masa depan kerajinan Nusantara. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top