KU-PEKKA Desa Tejorejo Kendal Perkuat Ekonomi Perempuan Melalui Bank Sampah Berbasis IoT Crusher Polystyrene

Print Friendly and PDF

 



KU-PEKKA Desa Tejorejo Kendal Perkuat Ekonomi Perempuan Melalui Bank Sampah Berbasis IoT Crusher Polystyrene

Kendal - majalahlarise.com - Upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan sampah semakin mendapat perhatian serius. Di Desa Tejorejo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, Kelompok Usaha Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (KU-PEKKA) berhasil menginisiasi penguatan ekonomi berbasis Bank Sampah dengan dukungan teknologi IoT Crusher Polystyrene Recycling.

Program ini lahir dari hasil kolaborasi tim dosen dan mahasiswa perguruan tinggi, yakni Dr. Retno Tri Nalarsih, S.T., M.T., Dr. Ari Endang Jayati, S.T., M.T., dan Yoppi Syahrial, S.E., M.M.. Inisiatif ini mendapat dukungan penuh pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia tahun 2025 dengan anggaran sebesar Rp39.427.000.

Ketua KU-PEKKA, Suharti, menuturkan bahwa selama ini sampah hanya dipandang sebagai masalah lingkungan. Namun dengan hadirnya teknologi crusher polystyrene, sampah plastik jenis styrofoam dapat dihancurkan dan diolah menjadi bahan baku baru yang bernilai ekonomis.

“Bagi kami, ini bukan hanya soal kebersihan lingkungan, tetapi juga peluang untuk menambah penghasilan. Perempuan kepala keluarga di desa bisa berdaya, mandiri, dan lebih sejahtera melalui usaha daur ulang,” ungkapnya.



Tidak berhenti pada teknologi, program ini juga dilengkapi dengan berbagai kegiatan pendampingan. Tim dosen dan mahasiswa mengadakan pelatihan produksi, strategi green economy, hingga green marketing. Tujuannya agar hasil daur ulang tidak sekadar diproduksi, tetapi juga mampu menembus pasar dan memberi keuntungan nyata.

“Kami mendampingi masyarakat agar bisa memasarkan produk daur ulang dengan cara yang ramah lingkungan sekaligus mengikuti tren pasar berkelanjutan,” jelas Dr. Retno Tri Nalarsih.

Dari total anggaran, sekitar 80 persen dana telah terserap untuk mendukung kegiatan produksi, pelatihan, hingga pengembangan mesin. Salah satu tindak lanjut yang sedang dikembangkan adalah mesin pemanas dengan regulator lebih besar serta penyediaan bahan cair yang masih sementara dilakukan secara manual.

Inovasi ini juga menyasar wilayah pesisir, seperti Sendang Sekucing, Kecamatan Rowosari, yang sangat membutuhkan solusi pengelolaan sampah akibat aktivitas masyarakat dan pariwisata.

Kepala Desa Tejorejo, Murtijoso, mengapresiasi langkah KU-PEKKA yang dinilai mampu menjawab dua persoalan sekaligus, yakni pengelolaan lingkungan dan peningkatan ekonomi keluarga.

Sementara itu, Ketua RT Tejorejo, Mustaghfiroh, menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam program ini cukup tinggi karena adanya kesadaran bersama akan pentingnya kebersihan dan pemberdayaan ekonomi lokal.

Selain tim dosen, sejumlah mahasiswa juga aktif terlibat, antara lain Silvia Angraini, Isnaini Nurhidayah, Selvi Alfauzian, Andra Refala Wibawa, dan Cornelius Bintang. Mereka membantu proses pelatihan, dokumentasi, hingga evaluasi program.

Tak hanya itu, tim kreator mahasiswa yang terdiri dari Dhanica, Kareena, Sapta, dan Saka berperan penting dalam pembuatan konten publikasi dan media kreatif, sehingga keberhasilan program ini dapat disebarkan lebih luas ke masyarakat.

Dengan adanya dukungan teknologi, pendampingan berkelanjutan, dan keterlibatan lintas pihak, program Bank Sampah berbasis IoT Crusher Polystyrene di Desa Tejorejo diharapkan menjadi model pengelolaan sampah terpadu yang mampu meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan kepala keluarga sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Inovasi ini menjadi bukti bahwa sampah bisa berubah menjadi emas ketika dikelola dengan ilmu, teknologi, dan semangat gotong royong,” tutup Dr. Ari Endang Jayati. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top