KEKEJAMAN ASWATAMA AKIBAT DENDAM YANG TIADA AKHIR

Print Friendly and PDF

KEKEJAMAN ASWATAMA AKIBAT DENDAM YANG TIADA AKHIR


Oleh: Prof. Dr. Bani Sudardi

Guru Besar Fakultas Ilmu budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta 


Prof. Dr. Bani Sudardi


       Pada akhir-akhir ini kita mendapatkan satu kabar yang menyebar melalui media sosial. Kabar yang pertama adalah Roy Surya dan kawan-kawan yang menuduh ijazah mantan presiden kita Joko Widodo sebagai ijazah palsu. Tak pelak beberapa lembaga resmi segera membantah isu tersebut didukung dengan data-data. Namun demikian ketika kelompok tersebut tetap pada pendiriannya bahwa ijazah Joko Widodo atau Jokowi yang lulusan fakultas kehutanan UGM sebagai ijazah palsu. Yang muskil lagi, bahwa ketiga orang tersebut sebenarnya belum pernah melihat ijazah asli yang saat ini disimpan oleh pemiliknya yang sah. Perdebatan di dunia maya seperti debat kusir berlarut-larut dan berlarat-larat seperti tidak ada akhirnya. 

       Secara hukum, kasus tuduhan ijazah palsu kepada Pak Jokowi sebenarnya sudah selesai karena sudah ada pernyataan dari Lembaga resmi yang mengeluarkan ijazah yaitu Universitas Gadjah Mada dan pemeriksaan dari kepolisian, namun debat kusir masih juga berlangsung seru mewarnai laman-laman media sosial dan media masa. 

       Belum reda kasus ijazah pak Jokowi, muncul gugatan baru dari seorang tokoh masyarakat bernama Subhan Pala. Gugatan ditujukan kepada anaknya Pak Jokowi yang saat ini menduduki jabatan sebagai wakil presiden Republik Indonesia. Tujuannya pada hakikatnya sama, bahwa ijazah wapress Gibran adalah palsu atau tidak memenuhi syarat. Kasusnya sudah masuk ke meja pengadilan dengan tuntutan ganti rugi yang luar biasa yaitu 125 trilyun.

       Apapun alasannya, dengan gampang seseorang bisa menafsirkan bahwa motif gugatan kepada pak Jokowi maupun kepada Pak Gibran, alasannya adalah sama. Ada rasa kecewa dan dendam. Kita tahu bahwa dalam pemilihan presiden baik di masa pak Jokowi maupun di masa Pak Prabowo, banyak orang yang merasa kecewa karena jagonya tidak dapat menang. Itu adalah suatu hal yang wajar, namun seharusnya kekalahan dalam demokrasi itu diterima dengan legowo karena pada hakekatnya pemilihan dalam demokrasi hanyalah merupakan satu batu lompatan untuk menuju cita-cita bersama dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang diidam-idamkan. Namun demikian, konsep di atas merupakan satu konsep ideal yang tidak dapat setiap masyarakat atau kelompok masyarakat menerimanya. Menurut hemat saya bahwa tuntutan seperti itu memang bukan suatu kebetulan tetapi suatu bentuk dendam akibat kekalahan. Dalam sejarah Indonesia, memang baru kali ini penguasa kepresidenan terpilih dari keluarga yang sama. Yang pertama Pak Jokowi berhasil menjadi Presiden dua periode, sedangkan yang kedua pak Gibran berhasil menjadi wakil presiden. Ini adalah kedudukan yang bisa membuat orang-orang memiliki semangat untuk menduduki jabatan kepresidenan kebakaran jenggot. Mereka lalu mencari celah untuk memukul Pak Jokowi dan anak-anaknya, salah satunya dengan tuntutan ijasah palsu. Secara hukum hal tersebut wajar dan boleh, cuma tentu saja pengadilan tidak bisa didikte untuk memenangkan salah satu pihak. Prosesnya akan berjalan cermat, lambat, dan berdasarkan data-data yang ada. Bukan berdasar kemauan yang ada. 

       Kalau kita hubungkan dengan cerita wayang, maka kondisi seperti ini seperti cerita dalam lakon Aswatama Nglandak. Dalang lain menyebut Aswatama Gangsir. Intinya, setelah perang besar Mahabharata sebagai sahabat setia Duryudana, Aswatama merasa sakit hati dan dendam kepada Pandawa. Sakit hati tersebut pertama disebabkan karena orang tua Aswatama yang bernama Gurui Besar Durna gugur di medan laga dengan cara yang sangat naif. Krisna tahu bahwa Durna adalah seorang yang sakti mandraguna. Karena itu untuk mengalahkan Durna, Krisna mengambil strategi psikologis. Bimasena disuruh membunuh seekor gajah yang bernama Istitama. Setelah gajah tersebut berhasil dibunuh maka prajurit Pandawa bersorak-sorak bahwa Istitama sudah tewas. Di telinga Durna suara itu seperti terdengar "Aswatama sudah tewas". Hidup Durna dipersembahkan untuk anaknya, karenanya kalau anaknya sudah meninggal Durna merasa hidupnya sudah sia-sia. Durna segera meletakan senjata dan Drestajuma yang sudah lama menaruh denda segera mendatangi Durna untuk memenggal kepalanya. 

       Aswatama menaruh dendam yang amat sangat kepada Pandawa. Ia berjanji untuk menghabisi Pandawa dan anak-anak. Kalau dalam bahasa pedalangan disebut sebagai "tumpes sakcindhile abang" atau dibunuh hingga anak-anak bayi.

       Aswatama sudah tidak memperhatikan lagi nilai-nilai kesatria dan kepahlawanan. Ia akan menyerang dengan tindakan "memukul dari belakang". Maka pada malam hari dia masuk bertindak seperti seekor landak yang membuat lubang di dalam tanah kemudian muncul di perkemahan para Pandawa. Yang pertama kali dicari adalah Drestajuma satria yang telah membunuh bapaknya. Ia kemudian mencari para Pandawa. Maka ditemukannya 5 sosok yang sedang tidur yang wajahnya mirip dengan para Pandawa, maka 5 orang itu segera dibunuhnya bersama-sama. Sosok tersebut ternyata adalah anak-anak Pandawa yang dalam Mahabharata disebut Pancakumara. Selanjutnya iya masuk ke perkemahan putri. Maka ditemuinya Srikandi dan Drupadi yang sedang menjaga bayi Parikesit. Tanpa sungkan-sungkan wanita tersebut dihabisi bersama wanita-wanita yang ada di dalam kemah para Pandawa. Karena ada keributan, bayi Parikesit yang sedang tidur nyenyak tiba-tiba dan menangis keras. Ketika Aswatama akan membunuh bayi tersebut, maka kaki bayi tersebut menendang keris pulanggeni yang memang sengaja ditaruh di situ untuk menjaga keselamatan bayi. Keris sakti tersebut kemudian melesat ke mata Aswatama. Duratmaka Aswatama kemudian kesakitan dan melarikan diri. Ini adalah cerita wayang gagrak Ngayogyakarta. Banyak versi dan sanggit pada adegan ini cerita.

       Dalam versi India, Aswatama tersebut mendapat kutuk sehingga menjadi pengembara buta dan berpenyakit kulit yang sangat bau karena nanahnya serta hidup abadi dalam penderitaanya.Hidupnya dijauhi manusia sepanjang masa.

TANCEP KAYON

       Dendam dapat membawa manusia kepada tindakan yang kadang-kadang sulit dipahami. Dendam menjadikan manusia melupakan tujuan hidupnya untuk memayu hayuning bawana. Tindakan Aswatama yang di luar batas kemanusiaan dengan membunuh wanita dan orang-orang tidur sudah melepaskan kodratnya sebagai ksataria. Pada hakikatnya, Aswatama sudah kehilangan keutuhan harga dirinya. 


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top