Fullmoon Discuss ke-7, Mengupas Tuntas Monumen sebagai Landmark Sosial Budaya Masyarakat dan Ekspresi Personal dalam Karya Seni

Print Friendly and PDF

Fullmoon Discuss #7 diselenggarakan oleh Jurusan Kriya ISI Solo, dikemas dalam rangkaian Festival Pasca Penciptaan #2.


Fullmoon Discuss ke-7, Mengupas Tuntas Monumen sebagai Landmark Sosial Budaya Masyarakat dan Ekspresi Personal dalam Karya Seni

Solo – majalahlarise.com - Fullmoon Discuss #7 kembali hadir dengan pembahasan yang mendalam dan relevan dengan dunia seni. Diskusi rutin yang biasanya diselenggarakan oleh Jurusan Kriya ISI Solo, kali ini dikemas dalam rangkaian Festival Pasca Penciptaan #2. Festival ini dihelat oleh Pascasarjana ISI Solo yang bekerja sama dengan Kementrian Kebudayaan Indonesia. Bertempat di Halaman Teater Besar, Kampus ISI Solo, acara ini sukses menarik perhatian ratusan mahasiswa S1, S2, S3, dosen, serta pemerhati seni dari Solo, Bali, dan Jogja.

Dipandu oleh Chairol Imam M.Sn sebagai moderator, diskusi ini mengangkat tema besar "Proses Kreatif Karya Seni" dengan fokus utama pada perdebatan antara ekspresi personal dan ekspresi komunal. Tiga pembicara ahli dihadirkan untuk memaparkan pandangan mereka, yang didasarkan pada karya-karya yang turut dipamerkan dalam festival.

Dr. Aries BM, seorang seniman dan Dosen Kriya ISI Solo, memaparkan secara mendalam karyanya yang berjudul “Monumen Kreweng”. Ia menyoroti bagaimana monumen, alih-alih hanya menjadi simbol kekuasaan atau narasi sejarah sepihak, seharusnya berfungsi sebagai landmark yang merepresentasikan realitas sosial budaya masyarakat.

Aries berpendapat selama ini, monumen cenderung memposisikan masyarakat hanya sebagai pengamat, bukan sebagai subjek. Kebanyakan monumen yang ada dibangun untuk merefleksikan kepentingan rezim atau figur politik tertentu. Melalui karyanya, Aries BM ingin mengembalikan fungsi monumen sebagai wadah ekspresi komunal, di mana masyarakat terlibat aktif dan merasa memiliki. Konsep "Monumen Kendi Pancawara" yang ia ciptakan, misalnya, menunjukkan bagaimana benda budaya sehari-hari dapat diangkat menjadi objek monumental yang harmonis dan membangun ikatan identitas kultural. Menurutnya, sebuah karya seni monumen yang bermartabat harus mampu merefleksikan masyarakatnya secara mendalam, memberikan pengalaman kolektivitas, dan keindahan yang bermakna.

Di sisi lain, Dr. Fajar Apriyanto, seniman dan Dosen Fotografi ISI Jogja, membawa audiens menyelami dunia ekspresi personal melalui karya fotografinya. Ia memaparkan proses kreatif di balik karyanya yang bercerita tentang pengalaman pribadi akan kehilangan sosok ibu.

Fajar menggunakan pendekatan semiotika dan psikoanalisis untuk mengungkap lapisan makna tersembunyi. Foto potret dirinya dari masa kanak-kanak hingga dewasa yang ditempelkan pada manekin menjadi metafora visual yang kuat. Dalam karyanya, objek fotografi berfungsi sebagai punctum, yaitu elemen yang secara personal dan otentik menusuk perasaan penonton. Melalui pendekatan ini, Fajar menunjukkan bagaimana trauma dan pengalaman emosional yang tak disadari dapat diekspresikan secara artistik, memberikan pemahaman baru tentang kedalaman jiwa manusia.

Hendra Himawan, M.Sn, Kurator dan Dosen Seni Patung ISI Solo, memberikan kesimpulan yang menarik. Ia menggarisbawahi karya Dr. Aries BM dan Dr. Fajar Apriyanto mewakili dua kutub ekspresi yang berbeda dalam seni ekspresi komunal dan ekspresi personal namun keduanya saling melengkapi.

Menurut Hendra, ekspresi komunal dalam seni mencerminkan identitas, nilai, dan kehidupan bersama suatu kelompok, sementara ekspresi personal adalah curahan perasaan dan pengalaman unik seorang individu. Keduanya penting, di mana ekspresi personal memberikan keaslian, sementara ekspresi komunal memperkuat identitas budaya. Ia menegaskan bahwa patung publik, seperti karya Aries, memiliki fungsi ganda sebagai cermin dan media pewarisan nilai. Sementara itu, karya Fajar menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi sarana personal untuk memanifestasikan pengalaman batin, baik yang bersifat tragis maupun komedi, membantu seniman memahami diri sendiri dan memberikan pengalaman emosional kepada penonton.

Diskusi ini memperkaya pemahaman tentang berbagai pendekatan dalam proses kreatif seni. Dengan melihat monumen tidak lagi hanya sebagai objek statis, tetapi sebagai representasi dinamis dari masyarakat, dan memahami bahwa ekspresi diri yang paling personal pun dapat menjadi karya seni yang universal. (Sofyan)


Baca juga: Mahasiswa UIN Jakarta Luncurkan Program Pembuatan NIB Gratis untuk UMKM di Mojopuro, Jatiroto 


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top