Workshop Jurnalistik Foto dan Foto Jurnalistik Prodi Ilmu Komunikasi FISH Univet Bantara, Tingkatkan Skill Fotografi Jurnalistik Mahasiswa

Print Friendly and PDF

Narasumber Ari Kristiono (Pemimpin Redaksi mettanews.id) saat menjelaskan materi jurnalistik foto dan foto jurnalistik. (foto: Sofyan) 

Workshop Jurnalistik Foto dan Foto Jurnalistik Prodi Ilmu Komunikasi FISH Univet Bantara, Tingkatkan Skill Fotografi Jurnalistik Mahasiswa

Sukoharjo- majalahlarise.com -Mahasiswa semester 5 Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo mengikuti workshop jurnalistik foto dan foto jurnalistik untuk media mengangkat tema "Siapa itu Jurnalistik Foto? dan Foto Jurnalistik seperti apa yang layak untuk dipublikasikan pada media". Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ari Kristiono (Pemimpin Redaksi mettanews.id). Bertempat di ruang kuliah gedung FISH lantai 2. Rabu (20/12/2023).

Dekan FISH Univet Bantara, Dr. Yoto Widodo, M.Si dalam sambutan sekaligus membuka workshop menyampaikan ucapan terimakasih kepada narasumber yang berkenan membagikan ilmunya untuk membekali mahasiswa terkait ilmu fotografi jurnalistik.

"Ketrampilan fotografi ini sangat penting bagi mahasiswa sebagai bekal setelah lulus menjadi sarjana memiliki nilai tambah ketrampilan tentang membuat foto yang baik dan benar terkait foto berita dan berita foto," ungkapnya.

Baca juga: Unisri Tandatangani Kerja Sama dengan 19 Mitra

Di tempat yang sama, dosen pengampu mata kuliah jurnalistik media foto, Dr. Joko Suryono mengatakan workshop ini sebagai proses pembelajaran mata kuliah jurnalistik media foto tercapai pencapaian pembelajaran maksimal. Karena mata kuliah ini istimewa diampu oleh dua praktisi dan satu dosen akademisi. Selain itu mahasiswa memiliki pengetahuan pengambilan gambar foto yang memiliki daya cerita yang kuat.

"Proses pembelajaran yang dilaksanakan itu teori, praktik, teori, praktik lalu hasilnya di review. Dari hasil praktik mahasiswa memiliki dua karya jurnalistik yaitu jurnalistik berita dan jurnalistik foto," ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, dalam workshop ini narasumber memberikan review dari hasil karya mahasiswa. Sehingga mahasiswa mengetahui kekurangan dan hal-hal yang harus ditambahkan, diperbaiki dari karya foto jurnalistik dan beritanya.

"Kita harapkan kalau mahasiswa nanti memiliki keinginan untuk mengembangkan diri dibidang jurnalistik bisa membuat komunitas bidang jurnalistik yang mengarah pada peningkatan skill dan ketrampilan. Barang kali sudah profesional bisa jadi wirausaha media," harapnya.

Sementara itu, narasumber Ari Kristiono dalam pemaparan materi dan review hasil karya foto jurnalistik mahasiswa menjelaskan berbagai hasil karya foto jurnalistik hasil bidikannya ketika meliput berita. Dalam melakukan pemotretan pasti banyak foto gagal yang dihasilkan itu hal yang biasa.

"Foto yang bagus terpampang di media itu pasti banyak foto yang gagal diperolehnya karena itu suatu proses yang harus dilakukannya," ujarnya.

Dijelaskan pula, ketika seorang memotret bencana ada etika yang harus dipegang menyikapi liputan bencana. Dicontohkan ketika liputan hanya memotret kaki korban bencana saja sudah cukup. Selain itu dalam liputan harus memberikan pesan positif.

"Foto lengkap kerusuhan tahun 1998 tentang pedihnya korban. Kita saat itu menjadi wartawan netral dan memberikan pesan positif dari narasumber yang berkompeten menjadi produk berita yang bermutu. Membangun jurnalistik yang sehat untuk kemaslahatan bersama," jelasnya.

Pihaknya juga berpesan kepada peserta workshop bekerja seorang wartawan harus menyimpan semua foto didokumentasikan minimal dalam dua hardisk. Menyimpan foto lama itu laku harganya tinggi.

"Foto bernilai itu berbicara tanpa caption. Jangan membuang foto gagal karena suatu saat foto nantinya akan berguna di waktu yang tepat," tuturnya.

Dalam diskusi kelompok dilakukan review oleh narasumber Ari Kristiono terkait foto jurnalistik dan jurnalistik foto hasil karya tugas mahasiswa sejumlah 12 karya.

"Keberhasilan dari memperoleh data kuncinya adalah berteman sebanyak-banyaknya. Sebelum melakukan liputan seorang wartawan harus melakukan perencanaan foto apa yang akan diambil terkait berita. Penulisan caption foto menggunakan huruf berbeda dengan isi dan memberikan kredit foto siapa yang memotret," tuturnya. (Sofyan)

Baca juga: Guru Cerdas Berkarakter dan Cakap Artificial Intelligence di Era Digital


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top