Mapala Arcapada Unisri Menilik Dasar Perut Bumi Kaligesing

Print Friendly and PDF

Kegiatan Spesialisasi caving MAPALA ARCAPADA angkatan 27 GAMA ADHIRAJASA.


Mapala Arcapada Unisri Menilik Dasar Perut Bumi Kaligesing

Solo- majalahlarise.com -Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta melepas 7 anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Arcapada untuk melaksanakan spesialisasi angkatan Gama Adhirajasa. Dari anggota muda yaitu Elia Dwi Wahyuno, Phaleria Javanica, Suci Prastika dan dari Anggota penuh ada Panji Kurniawan, Agil Haryo Saputro, Waffa Salimatul Muslimah, Shellya Agustina.

Ketua pelaksana Spesialisasi Caving, Elia Dwi Wahyuno menyampaikan tujuan kegiatan ini sebagai pemantapan materi susur gua, sebagai bentuk dan pelaksanaan serangkaian pendidikan Anggota Muda Mapala Arcapada.

Kegiatan spesialisasi tersebut diikuti sebanyak 3 anggota muda dan 4 pembimbing. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6-11 Juni 2023 yang dilaksanakan di Desa Donorejo kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.

A.nggota muda yaitu Elia Dwi Wahyuno, Phaleria Javanica, Suci Prastika dan dari Anggota penuh ada Panji Kurniawan, Agil Haryo Saputro, Waffa Salimatul Muslimah, Shellya Agustina.


Baca juga: Jangan Beri Ruang Bagi Pelaku Bullying

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah TPGV (Teknik Penelusuran Goa Vertikal), mereka melakukan ekso goa terlebih dahulu di kawasan karst Kaligesing agar mengetahui dimana letak goa tersebut. goa yang mereka ambil untuk penerapan materi TGV yaitu Luweng Temanten, Luweng Sibodak, Luweng Ngobaran. Kenapa disebut Luweng Temanten? Konon katanya pada dahulu kala ada suatu perjodohan tetapi sang perempuan tidak setuju akan perjodohan tersebut, maka sang perempuan memberi syarat ke sang lelaki bahwa dia akan mau menikah dengannya jika sang lelaki mau di pitani (mencari kutu di kepala) di pinggir sebuah luweng, tetapi sang lelaki memiliki firasat buruk bahwa dia akan di dorong kedalam luweng tersebut, maka dari itu sang lelaki berinisiatif untuk mengikat kain sindurnya ke kain sindur perempuan, agar waktu dia di dorong ke luweng sang perempuan akan ikut terjatuh ke luweng tersebut. Dari situlah luweng tersebut dinamakan Luweng Temanten. Luweng Temanten sendiri memiliki ke 2 pitch yaitu interence ke pitch 1 memiliki kedalaman 31,13 Meter dan pitch 1 ke pitch 2 memiliki kedalaman 11,25 Meter, di dalam Luweng temanten hanya terdapat ornament mati. untuk keadaan di dalamnya berair dan cukup berlumpur, interence memiliki lubang yang sempit dan pitch 1 ke pitch 2 juga memiliki lorong yang sempit serta di dalam pitch 2 memiliki ruang yang sempit dan cukup untuk sekitar 4 0rang saja.

Penerapan materi TPGV selanjutnya kami menggunakan luweng Sibodak, bisa disebut Sibodak karena luweng tersebut berbentuk bodak atau biasa di sebut lumbung padi. Luweng sibodak hanya terdapat 1 pitch yang memiliki kedalaman 29 Meter, di dalam Luweng Sibodak terdapat chamber besar, di dalamnya terdapat ornament berupa stalaktit, stalakmit, dan ada juga stalaktit dan stalakmit yang hampir menjadi pilar. Untuk keadaan di dalam luweng yaitu berlumpur dan lumayan berair dengan biota kelelawar, tikus , dan katak.

TPGV selanjut yaitu di luweng Ngobaran. Asal usul nama Ngobaran sendiri konon katanya ada seorang kyai yang bernama Kyai Hajar yang telang berumur 156 tahun, dikarenakan bosan hidup di dunia maka dia mengumpulkan kayu ditempat itu lalu membakarnya, dan setelah kayu itu terbakar dan apinya sudah membesar lalu kyai itu membakar dirinya sendiri, maka dari itu luweng tersebut dinanamankan Ngobaran. Selain menerapkan materi TPGV di luweng Ngobaran, kami juga melakukan praktik Vertikal Rescue dengan menggunakan metode Counter Weight dan instalasinya menggunakan sistem “M”. untuk kedalamannya sendiri itu sekitar 15 Meter dari pitch 1 sampai pitch 3.

"Lalu di hari selanjutnya kami melakukan Pemetaan Goa Horizontal di Goa Sikantong. Asal usul nama Sikantong belum banyak yang tau dan ada juga warga yang tau namun enggan untuk menceritakannya. Kami mengunakan grade 3C untuk memetakan goa Sikantong. Dalam goa ini terdapat banyak sekali lorong dan juga beberapa chamber, untuk keadaan goanya sendiri keadaannya berair karena di depan mulut gua ada sungai, disana juga terdapat beberapa biota yaitu ikan, udang kodok, serta kelelawar," terang Elia Dwi Wahyuno. (Sofyan)

Baca juga: Menembus Atap Wonogiri, Spesialisasi Mapala Arcapada UNISRI



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top