PENERAPAN PEMBELAJARAN DIFERENSIASI

Print Friendly and PDF

PENERAPAN PEMBELAJARAN DIFERENSIASI 


Oleh: Yuliana Nur Hidayah, S.Pd

SDN 3 Ngadipiro, Nguntoronadi, Wonogiri Jawa Tengah 


Yuliana Nur Hidayah, S.Pd


       Kurikulum Merdeka sangat identik dengan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik, begitu juga dengan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik. Guru memfasilitasi peserta didik sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap peserta didik mempunyai karakteristik yang berbeda, sehingga tidak diberi perlakuan yang sama dalam proses pembelajaran. Dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi guru harus mempersiapkan pembelajaran dengan berbagai perlakuan dan tindakan yang berbeda untuk setiap peserta didik. Tujuan dibuatnya penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pembelajaran diferensiasi pada kurikulum merdeka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif serta cenderung menggunakan analisis. Hasil dari penelitian ini yaitu diferensiasi proses mengacu kepada cara guru dalam mengajak peserta didik untuk masuk ke dalam kegiatan pembelajaran dan menemukan pengetahuan mereka secara mandiri dalam proses tersebut. Guru dituntut untuk menyiapkan pertanyaan pemantik, materi yang menarik, serta menantang agar peserta didik menikmati proses yang disajikan oleh guru. Karakteristik pembelajaran berdiferensiasi antara lain adalah lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik. Peserta didik tidak harus menerima pembelajaran di dalam kelas dengan guru sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi bisa dilakukan di luar kelas dengan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar secara maksimal.

       Pembelajaran berdiferensiasi adalah cara atau upaya yang dilakukan guru untuk memenuhi kebutuhan dan harapan murid. Hal ini sejalan dengan pendapat Tomlinson (2000), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran dikelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap siswa. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut. Secara sederhana pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid (Kusuma, & Luthfah, 2020:11). Adapun tujuan pembelajaran berdiferensiasi menurut Marlina (2019: 8) sebagai berikut.

1. Untuk membantu semua siswa dalam belajar agar guru bisa meningkatkan kesadaran terhadap kemampuan siswa, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh seluruh siswa.

2. Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa agar siswa memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tingkat kesulitan materi yang diberikan.

3. Untuk menjalin hubungan yang harmonis antara guru dan siswa karena pembelajaran berdiferensiasi meningkatkan relasi yang kuat antar guru dan siswa.

4. Untuk membantu siswa menjadi pelajar yang mandiri. 

5. Untuk meningkatkan kepuasan guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi.

       Menurut Schöllhorn pembelajaran diferensial adalah model pembelajaran motorik yang dicangkokkan pada pentingnya variabilitas gerakan dan berakar pada teori sistem dinamis gerakan manusia. Pembelajaran berdiferensiasi sejalan dengan filosofi pemikiran pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan belajar mandiri adalah proses di mana individu mengambil inisiatif, dengan atau tanpa bantuan orang lain, dalam mendiagnosis kebutuhan belajar mereka, merumuskan tujuan, mengidentifikasi sumber daya manusia dan materi untuk belajar, memilih dan menerapkan strategi pembelajaran yang sesuai, dan mengevaluasi hasil pembelajarannya. Pada akhirnya siswa akan bisa belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pada kelas yang menerapkan pembelajaran diferensiasi, pembentukan kelompok akan bersifat fleksibel, di mana siswa yang memiliki kekuatan dalam bidang tertentu akan bergabung dan bekerjasama dengan teman-temannya yang lain. Siswa yang kuat dalam suatu bidang belum tentu memiliki kekuatan yang sama dalam bidang lain. Misalnya, mungkin siswa tersebut akan memiliki kekuatan dalam memahami suatu bacaan, belum tentu dalam menulis, ia akan bisa menulis dengan ejaan yang benar atau menuliskan kalimat dengan tepat atau bisa juga mengalami kelemahan dalam berhitung dan lain-lain. Siswa harus terlibat secara aktif dalam pembelajaran tersebut baik secara individual ataupun kelompok.

       Menurut Suryosubroto (1996: 72) keaktifan siswa dapat terlihat dari: berbuat sesuatu untuk memahami materi pelajaran dengan penuh keyakinan, mempelajari, memahami, dan menemukan sendiri bagaimana memperoleh situasi pengetahuan merasakan sendiri bagaimana tugas- tugas yang diberikan oleh guru kepadanya, belajar dalam kelompok, mencoba sendiri konsep-konsep tertentu, mengkomunikasikan hasil pikiran, penemuan dan penghayatan nilai-nilai secara lisan atau penampilan. Dengan demikian, keberhasilan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi tergantung pada peran guru dalam mengelola pembelajaran.

       Pembelajaran berdiferensiasi adalah cara atau upaya yang dilakukan guru untuk memenuhi kebutuhan dan harapan murid. Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap siswa. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukanlah sebuah roses pembelajaran yang semrawut.

       Secara sederhana pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Adapun tujuan pembelajaran berdiferensiasi menjalin hubungan yang harmonis antara guru dan siswa karena pembelajaran berdiferensiasi meningkatkan relasi yang kuat antar guru dan siswa.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top