PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN IPS DENGAN PENDEKATAN TEORI SOSIAL LEARNING

Print Friendly and PDF

PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI PEMBELAJARAN IPS DENGAN PENDEKATAN TEORI SOSIAL LEARNING

Oleh: Pranichayudha Rohsulina, M.Pd dan Andarweni Astuti, M.M


Pranichayudha Rohsulina, M.Pd


Andarweni Astuti, M.M


       Pembelajaran IPS dewasa ini dianggap hanyalah pelajaran menghafal dan kurang bermakna, padahal pembelajaran IPS menurut  Permendiknas RI Nomor 22 tahun 2006 menegaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai.

       Sehingga banyak para ahli dan tokoh seperti Albert Bandura yang menemukan pertama kali Theory Social Learning ketika dia melakukan eksprimen yang dikenal dengan nama bobo doll, yang menunjukkan bahwa anak-anak meniru seperti perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya. Temuan teori Bandura ini bisa diterapkan oleh guru IPS dalam pembelajaran di kelas.

       Teori pembelajaran sosial adalah pembelajaran yang memanfaatkan teori belajar sosial. Artinya, dalam melakukan pembelajaran di sekolah guru menggunakan modeling atau observasi. Teori pembelajaran sosial adalah pembelajaran yang memanfaatkan teori belajar sosial. Artinya, dalam melakukan pembelajaran guru menggunakan modeling atau observasi. Hal itu bisa diterapkan di pembelajaran sehari-hari, di mana guru menjadi model percontohan bagi peserta didiknya yang mana sering juga kita dengar istilah guru itu digugu lan ditiru dalam bahasa jawa yang atinya guru itu didengarkan dan dijadikan percontohan. Adapun fase-fase yang harus dilalui untuk menerapkan teori pembelajaran sosial dalam pembentukan karakter adalah sebagai berikut.

1. Fase perhatian

       Pada fase ini, peserta didik akan memperhatikan model atau sesuatu yang mereka observasi. Hal yang akan diperhatikan biasanya hal-hal menarik, unik, terkenal, dan sesuai dengan minat mereka. Agar guru bisa menjadi pusat perhatian peserta didik, peran sekolah harus mampu memberikan isyarat-isyarat yang jelas dan mudah dipahami.

2. Fase retensi

       Fase retensi ini merupakan fase di mana peserta didik harus mampu mengingat hal-hal yang sudah mereka amati. Melalui pengamatan itulah diharapkan mereka mampu belajar dan mendapatkan hasil yang baik.

3. Fase reproduksi

       Pada fase reproduksi ini terjadi umpan balik yang nantinya bisa mengarahkan peserta didik pada perilaku yang diinginkan. Umpan balik ini tidak hanya ditujukan bagi hal-hal yang sudah benar, melainkan juga hal-hal yang tidak benar. 

       Guru harus bisa memberi masukan/nasihat atas perilaku yang salah atau kurang baik peserta didiknya sebelum perilaku tersebut tumbuh menjadi kebiasaan. Jika berhasil menerapkan hal itu, maka guru tersebut sudah menjalankan pembelajaran terbaiknya.

4. Fase motivasi

       Fase motivasi merupakan fase terakhir yang menandai keberhasilan teori pembelajaran sosial. Pada fase ini, peserta didik akan meniru hal-hal berkesan dari pengamatan yang mereka lakukan. Mereka beranggapan bahwa setelah meniru, akan muncul penguatan (reinforcement) dari dalam diri masing-masing. Contoh penguatan itu bisa diberikan dalam bentuk pujian, piala, nilai, dan lain-lain.



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top