MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN DI SD

Print Friendly and PDF

MODEL DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN DI SD

Oleh : Puji Astuti, S.Pd

SDN Tempuran 01, Bringin, Semarang Jawa Tengah

Puji Astuti, S.Pd


       Proses pendidikan yang berlangsung di sekolah adalah proses interaksi dari beberapa komponen pendidikan yaitu guru, peserta didik, kurikulum, media dan sumber belajar. Tujuan dari pembelajaran berupa pencapaian kompetensi, penguasaan materi, dan pengembangan minat dan bakat. Pembelajaran di sekolah dasar masih menerapkan teacher oreinted dimana guru masih menjadi pusat aktivitas pembelajaran sehingga interaksi antara guru dan peserta didik terjadi hanya satu arah yang mengakibatkan peserta didik menjadi pasif dalam pembelajaran. Para pendidik termasuk guru hendaknya mempunyai pemahaman yang akurat tentang siapa peserta didik, potensi, kemampuan, karakteristik dan sifat-sifatnya, kelebihan dan keterbatasannya, atas dasar pemahaman tersebut, pendidik dengan penuh kesadaran menetapkan arah yang akan dicapai, menyiapkan bahan yang akan dipelajari, memilih model pembelajaran dan cara menilai kemajuan peserta didik yang tepat. Pembelajaran seperti ini menunjukkan suatu kegagalan, karena sebagian besar peserta didik tidak mengetahui betul apa yang sedang mereka pelajari. Apabila diberi tugas oleh guru peseta didik tidak menekuni mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru tersebut tetapi mereka hanya bermain-main dan bercanda dengan temannya.

       Belajar merupakan suatu proses yang diikuti dengan adanya perubahan pada diri seseorang, hal ini disebabkan oleh adanya pengalaman. Selain itu belajar merupakan hal yang komplek, karena di dalamnya terjadi interaksi antara peserta didik dan guru. Peserta didik yang belajar diharapkan dapat mengalami perubahan dalam hal pengetahuan, pemahaman, sikap, tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu dan perubahan-perubahan tersebut sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan. Anthony Robbins (dalam Trianto, 2009:15) mendefinisikan belajar sebagai proses menciptakan hubungan antara pengetahuan yang sudah dipahami dan pengetahuan yang baru. Dari definisi ini dimensi belajar memuat beberapa unsur, yaitu: (1) penciptaan hubungan, (2) pengetahuan yang sudah dipahami, dan (3) pengetahuan yang baru. Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu prilaku, pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Bruner berpendapat bahwa Belajar dengan penemuan adalah belajar untuk menemukan (learning by discovery is learning to discovery). Bruner memakai model pembelajaran yang disebutnya discovery learning, dimana peserta didik mengorganisasi bahan yang dipelajari dengan suatu bentuk akhir (Dalyono, 2009:49). Model discovery adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43). 

       Discovery learning merupakan model pembelajaran penemuan yang dilakukan oleh siswa. Dalam pembelajaran ini siswa menemukan sendiri sesuatu hal yang baru bagi mereka. Discovery learning dapat membantu siswa dalam proses pembelajaran. Model discovery learning yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pembelajaran tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri sehingga menemukan sendiri penyelesaian dalam pembelajaran. Discovery learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Discovery berupa masalah yang diperhadapkan kepada peserta didik semacam masalah yang direkayasa oleh guru. Akan tetapi prinsip belajar yang nampak jelas dalam discovery learning adalah materi atau bahan pelajaran yang akan disampaikan tidak disampaikan dalam bentuk final akan tetapi siswa sebagai peserta didik didorong untuk dapat mengidentifikasi apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan mencari informasi sendiri kemudian mengorgansasi atau membentuk (konstruktif) apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk akhir.

       Adapun sintaks pembelajaran model pembelajaran Discovery menurut Arends (2008) sebagai berikut :

a. menyampaikan tujuan yang akan dipelajari, mengelompokkan dan menjelaskan prosedur discovery, serta guru menyampaikan aturan dalam model pembelajaran dengan penemuan.

b. guru menyampaikan suatu masalah secara sederhana 

c. peserta didik memperoleh data eksperimen. Guru mengulangi pertanyaan pada peserta didik tentang masalah dengan mengarahkan peserta didik untuk mendapat informasi yang membantu proses penemuan.

d. peserta didik membuat hipotesis dan penjelasan guru membantu peserta didik dalam membuat prediksi dan mempersiapkan penjelasan masalah

e. analisis proses penemuan, guru membimbing peserta didik berfikir tentang proses intelektual dan proses penemuan serta menghubungkan dengan pelajaran lain.

       Bahwa pembelajaran menggunakan model discovery learning dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar peserta didik.

       RPP yang tepat sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan menggunakan desain ASSURE dan penerapan model pembelajaran discovery learning yang diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik yaitu misal belum memahami materi prasyarat ciri-ciri dan manfaat kenampakan alam serta ciri-ciri sosial budaya, dilanjutkan dengan pembuatan tujuan pembelajaran dengan mengukur kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan yang ingin dicapai, setelah diseleksi materi yang digunakan adalah kenampakan alam, sosial dan budaya dengan menggunakan media cetak LKS, dan strategi pembelajaran berkelompok dengan model pembelajaran discovery learning.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top