Undang Wisatawan dengan Tembang “KULINER KARANGANYAR”

Print Friendly and PDF

Jaka Rianto melatih tembang Jawa pada anak-anak.

Undang Wisatawan dengan Tembang “KULINER KARANGANYAR”

Karanganyar- majalahlarise.com -

Kulinere Karanganyar wus sumebar

Sate landak nyamleng enak ngga pinarak

Sate klinci kagem jampi ampun lali

Puhunge jalak tawa weton Demping empur nyunyur

Sepenggal lirik tembang Jawa “Kuliner Karanganyar” itu, sebuah gending lancaran dangdut slendro sanga, pertama kalinya diperdengarkan dalam pertunjukan wayang beber Sudalama pada tanggal 10 Nopember 2021 di Dukuh Demping, Kabupaten Karanganyar. Tembang itu digubah oleh dalang ISI Surakarta, Ki Jaka Rianto.

Tembang “Kuliner Karanganyar” melukiskan berbagai jenis jajanan kuliner di Kabupaten Karanganyar. Kuliner dimulai dari daerah  Palur menuju Tawangmangu. Ada bakso, wedangan, sate kelinci, puhung (ketela) dan lain-lain. Tembang ini bertujuan untuk menarik lebih banyak wisatawan mendatangi wilayah Karanganyar yang indah pemandangannya dan lezat-lezat kulinernya.

Jaka Rianto menuturkan tembang Kuliner Karanganyar dimaksudkan untuk mengundang wisatawan melalui lagu Jawa, agar berbondong-bondong berkunjung ke kota sejuk yang kaya masakan tradisional di lereng Gunung Lawu.

Antusiasme anak-anak dalam belajar menyunging wayang.


Selain itu, Jaka Rianto juga menciptakan tembang lancaran “Demping”, sebuah tembang yang melukiskan keadaan Dukuh Demping, Desa Anggrasmanis, Jenawi, Karanganyar. Kondisi tanah Dukuh Demping sangat subur makmur, sehingga masyarakat tidak kekurangan kebutuhannya. Sandang dan makanan berlebih, walaupun berada di lereng Gunung Lawu. Tanah yang berbukit dengan tanaman hijau rindang membuat indah asri untuk dipandang. Kehidupan sosial masyarakat tampak guyup rukun dengan berbagai situs dan ritual Jawa kuno yang tetap lestari hingg kini.

Pementasan wayang beber tersebut merupakan puncak kegiatan pengabdian masyarakat ISI Surakarta yang bertajuk Bina Kreasi Wayang Sukuh sebagai Seni Unggulan Dukuh Demping Karanganyar.

Kegiatan pengabdian tersebut diawali dengan pelatihan menyungging wayang beber dan pelatihan tembang-tembang Jawa serta pelatihan mendalang wayang beber bagi anak-anak dan pemuda. Akhir dari pelatihan-pelatihan itu, dikemas dalam sebuah pementasan wayang beber Sudamala dengan dalang muda Shihab dan sinden muda Maharani, pemuda setempat.

Dalang Shihab dan sinden Maharani mementaskan wayang beber Sudamala.

Narasumber pelatihan terdiri 3 orang dosen ISI Surakarta yaitu Jaka Rianto dosen Prodi Pedalangan, Sri Marwati dosen Prodi Kriya Seni, dan Bagong Pujiono dosen Prodi Teater. Penggerak budaya di Karanganyar, Yona Arthea, juga ambil bagian dalam pemberdayaan warga Demping tersebut. 

Kegiatan pelatihan wayang beber menjadi pengetahuan baru bagi warga Dukuh Demping, dan selaras dengan “Tinthir”, sebuah tugu yang berdiri kokoh di simpang lima pedukuhan itu.

Mangku Jito, tokoh adat Dukuh Demping, mengatakan Tugu Tinthir sebagai mercusuar, hanyalah sebuah simbol, patok pengetahuan. Tinthir itu penerangan, pelita kecil semoga mampu menerangi kehidupan ini, dan semoga kita selalu mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang terbaik untuk hidup di muka bumi ini. (Sofyan)


Baca juga: Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Univet Gelar Expo Bazar Kewirausahaan "Kuliner Gaul Di Masa Pandemi Covid-19"


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top