Petani Tembakau Boyolali Keluhkan Cuaca dan Harga, APTI Gelar Silaturahmi Pasca Panen

Print Friendly and PDF

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Boyolali menggelar silaturahmi pasca panen di salah satu rumah makan di Boyolali, Sabtu (15/11/2025).


Petani Tembakau Boyolali Keluhkan Cuaca dan Harga, APTI Gelar Silaturahmi Pasca Panen

Boyolali – majalahlarise.com - Ratusan petani tembakau Boyolali yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Boyolali menggelar silaturahmi pasca panen di salah satu rumah makan di Boyolali, Sabtu (15/11/2025). Kegiatan ini dihadiri pengurus APTI, perwakilan petani dari sejumlah kecamatan, serta Dinas Pertanian Boyolali.

Ketua APTI Boyolali, Nanang Teguh Sambodo, mengatakan pertemuan tersebut menjadi ajang tukar pengalaman mulai dari proses tanam hingga masa purna panen. Menurutnya, salah satu persoalan utama petani tahun ini adalah kondisi cuaca yang menyulitkan proses penjemuran tembakau.

Nanang meminta kepala desa yang memiliki lapangan atau tempat terbuka untuk membantu petani dari wilayah atas yang kesulitan menjemur tembakau. Selain itu, ia juga mendorong pemerintah menyediakan open pengering (oven tembakau) sebagai solusi saat terjadi hujan mendadak.

“Selama ini petani hanya mengandalkan sinar matahari. Kalau ada bantuan open pengering, biaya bisa ditekan dan kualitas lebih stabil,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Boyolali, Suyanto, menyampaikan pihaknya mencatat sejumlah masukan petani, terutama terkait kebutuhan bantuan, kepastian harga, dan jaminan pasar. Ia mengakui harga tembakau saat ini cenderung menurun meski tingkat konsumsi masih tinggi.

Suyanto menawarkan pola kemitraan sebagai solusi jangka panjang. Dengan adanya MoU, petani akan mendapatkan kepastian harga dan standar kualitas sejak awal. “Kami sudah menjajaki komunikasi dengan beberapa perusahaan. Kemitraan yang profesional menjadi langkah paling tepat,” katanya.

Ia juga menyinggung turunnya anggaran TKD yang berdampak pada suplai pupuk dan bantuan lainnya. Meski begitu, Dinas Pertanian berupaya mencari terobosan agar petani tidak terbebani.

Selain itu, Suyanto mengimbau petani mulai melakukan diversifikasi usaha tani, mengingat kecenderungan harga tembakau yang terus melemah dari tahun ke tahun.

“Kami berharap pengembangan tembakau tidak diperluas terlalu besar untuk sementara waktu. Alternatif usaha tani perlu diperhatikan,” ujarnya.

Pertemuan ini diharapkan menjadi awal koordinasi lanjutan antara pemerintah daerah dan petani untuk memperkuat keberlanjutan produksi tembakau Boyolali. (Ags/ Sofyan)


Baca juga: Seru, Puluhan Siswa SD Muhammadiyah I Ketelan Surakarta Ikut Mainkan dan Tonton Animasi Wayang


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top