Desa Tejorejo Jadi Percontohan Penguatan Ekonomi Bank Sampah Melalui Penerapan Teknologi CPR Berbasis IoT

Print Friendly and PDF



Desa Tejorejo Jadi Percontohan Penguatan Ekonomi Bank Sampah Melalui Penerapan Teknologi CPR Berbasis IoT

Kendal – majalahlarise.com - Desa Tejorejo, Kecamatan Ringinarum, Kabupaten Kendal, menjadi pusat perhatian setelah ditetapkan sebagai lokus kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) melalui program pemberdayaan Bank Sampah Kelompok Usaha Perempuan Kepala Keluarga (KU-PEKKA). Program ini menggandeng Mitra Sasaran masyarakat setempat dengan dukungan tranfer teknologi yang dimiliki Perguruan Tinggi dan dukungan dana Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kegiatan ini berangkat dari dua persoalan besar yang dihadapi Desa Tejorejo. Pertama permasalahan sampah harian yang mencapai 462,6–771 kilogram per hari, karena kebiasaan membuang sampah ke saluran irigasi dan drainase, sehingga memicu banjir dan berdampak pada kesehatan serta kualitas lingkungan yang rendah. Permasalahan kedua adalah sampah berjenis plastik atau PET menjadi PR besar bagi KU-PEKKA dalam Pengelolaan bank sampah.

Tujuan Program PKM di Desa Tejorejo mengutamakan: 1. Pengelolaan dan pemilahan sampah rumah tangga berjenis plastik PET melalui bank sampah dan. 2. Penerapan teknologi IoT Crusher Polystyrene Recycling, yakni alat pengolahan sampah berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat mengolah limbah plastik PET menjadi produk bernilai guna, sehingga terwujud kemandirian ekonomi KU-PEKKA.

Program ini sekaligus mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs), Asta Cita, serta Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi dalam penerapan teknologi tepat guna.

Ketua Tim, Dr. Retno Tri Nalarsih, S.T., M.T dari Universitas Veteran Bangun Nusantara, menjelaskan bahwa program ini telah memberi dampak positif bagi mitra Kelompok Usaha Perempuan Kepala Keluarga (KU-PEKKA) di Desa Tejorejo.

Berdasarkan pre test dan post test menunjukkan bahwa peningkatan aspek pengetahuan lingkungan yaitu kesadaran masyarakat terhadap kualitas lingkungan meningkat hingga 70 persen. 

Aspek produksi dan pengolahan sampah: keterampilan masyarakat dalam memilah sampah dan mengoperasikan alat dalam 3 minggu meningkat hingga 50 persen.

Aspek manajemen produksi: Melalui pendampingan dan pelatihan, etos kerja mitra dan rasa memiliki terhadap alat pengolahan semakin tinggi.

Dalam tahap uji coba pertama, alat peleleh plastik menghadapi kendala dalam mengolah jenis plastik PET. Namun, kelemahan ini justru menjadi pijakan penting bagi tim untuk mengembangkan inovasi berikutnya. “Setiap tantangan di lapangan selalu membuka ruang riset baru, agar alat yang digunakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Retno.

Melalui program ini, masyarakat Desa Tejorejo diharapkan tidak hanya mampu mengelola sampah secara berkelanjutan, tetapi juga menciptakan kualitas lingkungan terhadap katahanan bencana.

Program ini digagas oleh tim dosen dari Universitas Veteran Bangun Nusantara salah satu anggota adalah Yoppi Syahrial, SE., MM, kolaborasi dengan Dr. Ari Endang Jayati, ST., MT dari Universitas Semarang (USM). Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan masyarakat dalam menciptakan solusi inovatif bagi permasalahan sosial ekonomi di desa. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top