PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MEMBUAT TEKS CERITA SEJARAH

Print Friendly and PDF

PENDEKATAN KONTEKSTUAL DALAM PEMBELAJARAN MEMBUAT TEKS CERITA SEJARAH

Oleh: Dra. Sri Lestari Handayani 

Guru Bahasa Indonesia SMA Pancasila 1 Wonogiri Jawa Tengah

Dra. Sri Lestari Handayani


       Pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di masa pamdemi Covid-19 mengacu kepada regulasi yang ditetapkan bersama oleh empat Menteri yang tertuang dalam SKB empat Menteri tentang pelaksanaan pembelajaran di masa pandemi Covid-19. Sejalan dengan itu, secara khusus Kementerian Agama juga mengeluarkan panduan tentang pembelajaran di masa pandemi Covid-19 yang disebut Kurikulum Darurat (Dirjenpendis, 2020). Pembelajaran dilaksanakan secara online yaitu menggunakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pelaksanaan Pembelajaran jarak Jauh (PJJ) sama dengan pembelajaran tatap muka biasanya, hanya saja media yang digunakan berbeda. Guru harus dapat memilih media dan pendekatan yang tepat untuk menyampaikan materi. 

       Berdasarkan hasil pengamatan dengan peserta didik di SMA Pancasila 1 Wonogiri diperoleh informasi bahwa pelajaran Bahasa Indonesia memerlukan konsentrasi yang tinggi dan dianggap menguras tenaga terutama pada materi menulis teks. Dengan demikian pada materi membuat teks cerita sejarah ini, guru memilih pendekatan yaitu pendekatan kontekstual.

       Pendekatan kontekstual  mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang melalui pencarian hubungan masuk akal dan bermanfaat. Melalui pemaduan materi yang dipelajari dengan pengalaman keseharian peserta didik  akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Peserta didik akan mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru yang belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuannya.  

       Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005:109).  Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami. Pertama,  CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, materi yang dipelajarinya itu akan bermakna secara fungsional dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak akan mudah terlupakan. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, CTL tidak hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL tidak untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata. 

       Pendekatan CTL dalam PJJ sangat menarik dan membantu peserta didik yang semula tidak berani membacakan hasil pekerjaan mulai berani, selain itu juga membuat peserta didik berani bertanya tanpa takut atau merasa malu. Peserta didik merasa lebih senang dalam mengikuti PJJ dan dapat menghasilkan karya teks kemudian dipresentasikan. Dengan demikian pendekatan CTL dapat dijadikan terobosan baru untuk membuat peserta didik merasa nyaman dan senang dalam mengikutinya di kelas maya. 


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top