SMPN 2 Giritontro Optimalisasi Peran Orang Tua Murid Menjadi Agen Belajar Untuk Menciptakan Masyarakat Pembelajar

Print Friendly and PDF

Guru sedang melakukan monitoring pembelajaran jarak jauh pada siswa SMPN 2 Giritontro.


SMPN 2 Giritontro Optimalisasi Peran Orang Tua Murid Menjadi Agen Belajar Untuk Menciptakan Masyarakat Pembelajar

Wonogiri- majalahlarise.com – SMPN 2 Giritontro melakukan optimalisasi perang orang tua murid menjadi agen belajar untuk menciptakan masyarakat pembelajar dengan teknik kolaborasi peran sekolah dan Pemerintah Desa Jimbar Kecamatan Pracimantoro. Ide menjadikan orang tua sebagai agen pembelajaran ini berasal dari diskusi yang didorong pada kegalauan yang hampir merata pada seluruh guru di sekolah. 

Hal itu disampaikan Kepala SMPN 2 Giritontro, Parman, S.Pd, M.Pd. Jumat (10/4/2020) terkait ide menjadikan orang tua sebagai agen pembelajaran. “Hampir semua orang tua mengeluh tentang banyaknya anak-anak yang mengabaikan tugas belajar mereka. Ketika dicari akar permasalahannya bertemu pada pangkal sebab bahwa anak terlalu banyak waktunya tersita asyik bermain HP. Tentu memang ada faktor-faktor lain yang turut menyertainya," ujarnya.


Dikatakannya, setiap guru diminta pendapatnya untuk mencari solusinya. Tentu banyak ide yang keluar, dengan thema pokok mengatasi persoalan tentang pemanfaatan HP ini agar lebih optimal kepada anak didik.

“Tahapan yang dilakukan yakni tahap sosialisasi. Sosialisasi awal diinisiasi oleh sekolah dengan berkunjung ke Pemerintahan Desa Jimbar dengan menawarkan kerjasama kegiatan. Kesepakatan itu dituangkan dalam MoU bersama,” terangnya.

Lebih lanjut dijelasnkan, sosialisasi berikutnya ditujukan kepada orang tua murid yang diinisiasi oleh Pemerintah Desa dan bertempat di kantor Desa. Hal ini bertujuan, bahwa gerakan ini tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah tetapi secara bersama anatar Pemerintah desa, Masyarakat Orang Tua dan Sekolah.

Peran sekolah melakukan penyuluhan kepada orang tua tentang Tugas dan Kewajiban orang tua dalam hal belajar anak-anaknya di rumah. Membuat instrument pengukuran keberhasilan kegiatan. Menentukan butir-butir kegiatan yang diukur secara berkesinambungan.

Peran pemerintah desa yaitu mengontrol kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan kegiatan menciptakan masyarakat pembelajar. Membuat catatan khusus yang terjadi selama kegiatan untuk didiskusikan dengan pihak sekolah atau orang tua murid.

Sedangkan peran orang tua murid yaitu melaksanakan perannya dalam mendampingi kegiatan belajar anak-anaknya dan keluarganya sesuai yang menjadi arahan sekolah dan pemerintah desa. Melaporkan permasalahan yang timbul kepada sekolah atau pemerintah desa selama tahapan kegiatan dilaksanakan.

“Sebagai ukuran keberhasilan kegiatan yaitu setiap rumah mematikan HP dan Televisi antara jam 18.00 - 21.00 WIB, selama tiga jam tersebut, terisi dengan aktivitas pembiasaan Ibadah, tertib makan malam, tertib belajar,” ungkapnya.

Keberhasilan berikutnya, terjadi komunikasi yang positif antara anggota keluarga dengan ukuran menurunnya intensitas komunikasi antar keluarga yang bernuansa marah. Perasaan nyaman pada anak-anak mereka dengan ukuran. Dalam memberikan nasihat tidak ada lagi unsur membandingkan dengan sesame anak tetangga. Lebih banyak menggunakan nuansa positif dalam memberi dan menerima nasihat antar keluarga. Ukuran tersebut secara sederhana telah disosialisasikan kepada orang tua.

“Mulai tumbuhnya pemanfaatan HP untuk mendukung aktivitas belajar, lebih mencari pemanfaatan vasilitas yang positif dan terkontrolnya pemanfaatan HP untuk bermain game pada durasi tertentu,” katanya. (Sofyan)






Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top