Wayang Beber Babad Majapahit Pentas Peringatan Hari Wayang Dunia

Print Friendly and PDF

Pentas Wayang Beber Babad Majapahit oleh grup kesenian Mahesa Sura dari Dukuh Paras, Pacet, Kabupaten Mojokerto. 

Wayang Beber Babad Majapahit Pentas Peringatan Hari Wayang Dunia

Solo-majalahlarise.com-Grup kesenian Mahesa Sura dari Dukuh Paras, Pacet, Kabupaten Mojokerto Jawa Timur tampil dalam peringatan Hari Wayang Dunia ke-5 di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Selasa (5/11/2019).

Wayang beber yang dipergelarkan ini mengangkat lakon Jayakatong Mbalela, yaitu mengisahkan cerita pembangkangan Jayakatong dari Gelang-Gelang terhadap kekuasaan Raja Singasari, dimana Panji Sesura Dyah Wijaya menjadi panglima pasukan kerajaan Singasari.

Lakon ini merupakan bagian wayang beber Babad Majapahit yang dikembangkan di Dukuh Paras. Kisah Babad Majapahit dalam 4 gulung wayang beber, masing-masing sepanjang 4 meter.

Grup Mahesa Sura Dukuh Paras bekerjasama dengan SMAN 1 Pacet mengembangkan wayang beber yang berbeda dengan wayang beber di Pacitan dan Wonosari, karena mengangkat kisah pendirian kerajaan Majapahit, di bawah binaan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

“Visualisasi ornamen wayang beber Paras Mojokerto bersumberkan pada relief candi-candi peninggalan Majapahit yang tersebar di Trowulan dan sekitarnya, warna bata merah pun menjadi inspirasi bagi pewarnaan wayang beber yang didominasi warna merah," ungkap Ranang, dosen ISI Surakarta.

Lakon Jayakatong Mbalela dimainkan dua dalang muda dari Pacet, Ki Adhim dan Ki Haris, bersama pengrawit 6 orang. Selain itu, didamping sinden 2 orang, Indah dan Risma. Mereka tampil diantara dalang-dalang kondang dan terpilih se-Indonesia, seperti Ki Manteb Soedarsono, Ki Untung Wiyono, Ki Dr Trisno Santoso, dan Ki Joko Riyanto. Pementasan keduanya cukup sukses karena disaksikan lebih dari 100 penonton di Gedung Teater Kecil ISI Surakarta.

Dalang berserta kru Mahesa Sura sejumlah 17 orang dipimpin Aris Setiawan. Kelahiran wayang beber Dukuh Paras semakin melengkapi keberadaan kesenian bantengan di dukuh tersebut.

“Kekhasan pementasan wayang beber Paras Mojokerto ini adalah terdapat adegan  bantengan dalam pembukaan pergelaran wayang, selain itu di dalamnya juga disisipi adegan bantengan, sehingga lebih teatrikal dan mampu menghidupkan suasana”, ujar Arif Setiawan. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top