Tim PKM Univet Bantara Motori UMKM Tempe Wonogiri Modernisasi Produksi Menggunakan Mesin Pengupas Kedelai

Print Friendly and PDF


Dokumentasi operasional pengupas kedelai manual dan mesin.


Tim PKM Univet Bantara Motori UMKM Tempe Wonogiri Modernisasi Produksi Menggunakan Mesin Pengupas Kedelai

WONOGIRI – majalahlarise.com - Langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional dan menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai bergerak dari lini paling bawah. UMKM Tempe Cap “Melati”, sebuah usaha produktif berbasis masyarakat yang berlokasi di Desa Purwosari, Kecamatan Wonogiri, resmi melakukan modernisasi sistem produksi guna mengamankan pasokan pangan kaya protein bagi anak-anak sekolah di wilayah tersebut.

Perubahan besar ini dimotori oleh Ir. Mathilda Sri Lestari, ST, M.Sc, Dr. Ir. Darsini, ST, M.Si, Nur Ani, S.KM, M.K.K.K tim dosen dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) melalui penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG). Dukungan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.

Menjawab Tantangan Rantai Pasok Program MBG

Kebijakan strategis pemerintah dalam menggulirkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menuntut kesiapan rantai pasok (supply chain) yang stabil, higienis, dan berkapasitas besar. Tempe pilihan utama karena kaya protein nabati, fundamental bagi pertumbuhan, status gizi, dan perkembangan kognitif anak.

UMKM Tempe Cap “Melati” memegang peran vital sebagai pemasok resmi produk tempe untuk kebutuhan gizi program MBG di wilayah Ponpes Al Huda Wonogiri. Permintaan pasokan komoditas ini melonjak tajam dalam jumlah besar setiap minggunya. Hal ini memaksa dapur produksi lokal untuk segera keluar dari jebakan metode tradisional demi menjaga keberlanjutan suplai.

 

Alat non mesin untuk mengelupas kulit kedelai yang saat ini digunakan oleh mitra.


Berjuang Keluar dari Metode Manual 

Sebagai pelaku usaha mikro di Desa Purwosari, pemilik dan operator produksi UMKM Tempe Cap “Melati” selama ini mengandalkan otot dan peralatan nonmekanis sederhana. Pada tahap pelepasan kulit kedelai setelah direbus, pekerja harus mengupasnya secara manual.

Metode konvensional ini sangat melelahkan, menguras waktu, dan membatasi jumlah keluaran produksi. Keterbatasan fisik tenaga kerja menjadi titik lemah yang membuat mereka kesulitan memenuhi tenggat waktu pengiriman pasokan komoditas yang tinggi. Intervensi teknologi menjadi satu-satunya jalan keluar untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperbaiki efektivitas operasional harian mereka. Melalui sinergi akademisi dan pelaku usaha ini, UMKM Tempe Cap "Melati" kini bertransformasi menjadi mitra hilirisasi pangan yang tangguh, siap menggaransi kebutuhan protein anak bangsa secara berkelanjutan.

Hasil pengujian teknologi membuktikan keunggulan mutlak sistem otomatis ini dibandingkan metode lama: Waktu Proses: Memproses 2,5 kg kedelai kini hanya butuh 54,22 detik, memangkas waktu manual yang mencapai 96,66 detik (hemat 43,92%). Kapasitas Per Jam: Melejit pesat dari 93,10 kg/jam secara manual menjadi 166,00 kg/jam menggunakan mesin. Efisiensi Kerja: Produktivitas melonjak 78,71% menjadi 2,77 kg/menit. Proses pembilasan kulit ari pun ikut terakselerasi menjadi 2,65 menit/kg saja. (Sofyan)




Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top