SEJARAH, SOLUSI PENANAMAN NASIONALISME DI ERA DIGITAL

Print Friendly and PDF

SEJARAH, SOLUSI PENANAMAN NASIONALISME DI ERA DIGITAL

Oleh: L. Isyaroh Mustaqima, S.Pd

Guru Sejarah SMA Negeri 1 Mijen, Demak Jawa Tengah 


L. Isyaroh Mustaqima, S.Pd


       Nasionalisme merupakan salah satu komponen penentu kemajuan suatu bangsa. Tanpa adanya nasionalisme keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa dapat terancam. Hal ini dikarenakan tingkat nasionalisme berpengaruh pada pandangan dunia terhadap martabat bangsa itu sendiri. Di dalam Kamus Besar bahasa Indonesia (KBBI) dinyatakan bahwa nasionalisme adalah kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu. Di dalam mewujudkan bangsa yang kuat maka diperlukan penanaman rasa nasionalisme kepada generasi muda Indonesia sejak dini. 

       Namun, seperti yang kita ketahui bahwa saat ini telah terjadi peluruhan rasa nasionalisme pada generasi muda Indonesia. Mereka seolah telah terbawa arus kemajuan teknologi dengan mengikuti tren yang bersumber dari luar negeri. Mereka mulai enggan dengan apa yang dimiliki bangsa Indonesia. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut tentunya akan berdampak pada lemahnya ketahanan nasional bangsa Indonesia sebab secara tidak sadar telah dijajah oleh generasi muda Indonesia sendiri baik secara fisik maupun mental.  Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha untuk memperkuat kembali rasa nasionalisme bangsa. Banyak cara yang dapat ditempuh dalam dunia pendidikan.  Salah satunya yaitu dengan memberikan pelajaran sejarah.

       Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan merupakan suatu alat yang dapat menjaga kelestarian budaya. Melalui pendidikan suatu bangsa akan mampu mengaktualkan nilai budaya bangsa. Tujuan yang hendak dicapai melalui pendidikan secara nasional, antara lain bahwa pendidikan nasional harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa nasionalisme, mempertebal semangat kebangsaan serta rasa kesetiakawanan sosial. Sementara itu, pembelajaran sejarah yang pada dasarnya belajar tiga dimensi waktu yakni masa lampau, sekarang, dan masa mendatang dapat memberikan motivasi serta semangat kepada peserta didik untuk lebih menghargai kehidupan di masa lampaui sekaligus masa depan.

       Penulis sebagai guru sejarah di SMA Negeri 1 Mijen, menerapkan pembelajaran sejarah yang mengajak peserta didik untuk turut aktif dalam pembelajaran. Biasanya, penulis menggunakan LCD untuk sekadar memutarkan video atau materi dalam bentuk power point. Tak jarang pula, penulis memanfaatkan media canva maupun media sosial untuk mempublikasikan hasil karyanya melalui media sosial. Melalui diskusi dalam kelompok-kelompok kecil dan memanfaatkan media sosial mereka, peserta didik diajak untuk mendalami materi dan mengaitkannya dengan kehidupan sekarang. Penulis membimbing peserta didik untuk membuat karya konten sejarah melalui media sosial mereka sekreatif mungkin. Dengan demikian, mereka akan lebih tertarik dalam mendalami materi. Sebab, gen Z adalah generasi yang serba digital. Di dalam menanamkan nasionalisme ini, penulis biasanya menekankan nilai-nilai nasionalisme pada sesi penyimpulan materi setelah diskusi kelompok selesai. Selain itu, peserta didik diminta untuk membuat refleksi pembelajaran secara rutin yang kemudian di portofolio untuk mengetahui perubahan nasionalisme pada dirinya.

       Memang, penanaman nasionalisme di zaman sekarang menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik. Dibutuhkan berbagai alternatif cara dan kerja sama dari semua pihak agar nasionalisme ini dapat kembali meningkat demi kepentingan negara. Mari bersinergi bersama membangun negeri melalui pembelajaran yang inovatif.

 


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top