Ini Hasilnya SD Muhammadiyah PK Gelar Angket Efektivitas KBM Online

Print Friendly and PDF

Andi Arfianto, guru kelas V SD Muhammadiyah PK Kottabarat sedang memandu pembelajaran online.

Ini Hasilnya SD Muhammadiyah PK Gelar Angket Efektivitas KBM Online

Solo-majalahlarise.com-SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Surakarta menggelar angket daring terhadap orang tua siswa berkaitan dengan efektivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) secara online yang kini dilakukan sekolah tersebut. Kegiatan angket mengambil responden terhadap 480 orang tua siswa.

“Angket dilakukan  untuk mengetahui efektivitas kegiatan belajar mengajar secara online, sekaligus menjadi dasar pengambilan kebijakan pembelajaran online berikutnya” jelas Humas SD Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta, Muhamad Arifin di Solo, Senin (30/3/2020).

Arifin mengemukakan, dari jumlah tersebut, 74.7% atau 359 orangtua yang merespon. Dari data ini secara rinci kelas I sekitar 97.6%, kelas II sekitar 95%, kelas III sekitar 64.3%, kelas IV sekitar 64.7%, kelas V sekitar 63.2%, dan kelas VI sekitar 55.9%.

Lebih lanjut Arifin mengungkap, pertanyaan pertama tentang efektivitas kegiatan yang diadakan sekolah, sekitar 49% menyatakan sudah efektif. Sedangkan 38% menjawab cukup efektif. Kemudian 11,9% menjawab belum efektif.

Pertanyaan kedua, apakah siswa sudah mempunyai handphone (HP) sendiri, sekitar 31% menjawab sudah punya. Sedangkan 43% menjawab belum punya. Sisanya 25.6% menggunakan HP bersama saudara atau pinjem orang tua mereka.

Pertanyaan ketiga, dalam mengerjakan tugas apakah dengan pendampingan, sekitar 14.5% mengerjakan tugas dengan mandiri. Sedangkan 71.4% mengerjakan tugas dengan didampingi orang tua atau saudaranya. 14% mengerjakan tugas masih menunggu orang tua pulang dari kerja karena menggunakan HP orang tua.

Pertanyaan keempat, apa yang dilakukan setelah selesai mengerjakan tugas, sekitar 12.2% menjawab istirahat. Kemudian 23.9% lebih asyik main HP. Dan anak-anak lebih banyak melakukan aktivitas lain sekitar 63.7%.

“Dari data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran model daring sudah efektif, karena mayoritas siswa belum mempunyai HP sendiri, maka dalam mengerjakan tugas masih banyak yang didampingi karena menggunakan HP orang tuanya. Namun setelah selesai mengerjakan tugas lebih banyak akitifitas lain dan main HP dari pada istirahat,” ungkapnya.

Arifin melanjutkan bahwa sekolah selalu berupaya mengambil kebijakan berbasis data sehingga parameter ketercapaiannya menjadi jelas.

"Kami tidak ingin kebijakan sekolah sifanya satu arah hanya dari sekolah saja karena bisa jadi tidak nyambung dengan harapan orang tua, sehingga riset angket daring ini menjadi salah satu solusi untuk meminimalkan kesenjangan tersebut," pungkasnya. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top