Dosen Univet Laksanakan PKM Pemanfaatan Limbah Jamu Sebagai Bahan Biofertilizer Pembuatan Pupuk Organik

Print Friendly and PDF

Dosen Fakultas Pertanian, Ir. Catur Rini Sulistyaningsih, MM saat memaparkan materi dihadapan kelompok tani Rukun Makaryo. 
Tim Dosen Univet saat foto bersama dengan kelompok tani Rukun Makaryo. 

Dosen Univet Laksanakan PKM Pemanfaatan Limbah Jamu Sebagai Bahan Biofertilizer Pembuatan Pupuk Organik

Karanganyar-Dosen Fakultas Pertanian Univet Bantara Sukoharjo, Ir. Catur Rini Sulistyaningsih,  M.M, Ir Catur Budi Handayani, MP melaksanakan program  kemitraan masyarakat pemanfaatan limbah jamu sebagai bahan biofertilizer pembuatan pupuk organik di kelompok tani Rukun Makaryo, Desa Pereng, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar.  Jum'at (26/4/2019).

"Program kemitraan masyarakat ini bekerjasama dengan CV. Joglo Kresna Wisnu (JKW) usaha jamu di Nguter Sukoharjo memanfaatkan limbah jamu padat maupun kering menggandeng kelompok tani Rukun Makaryo untuk pembuatan pupuk organik yang digunakan pada pertanian organik," ungkap Dosen Fakultas Pertanian, Ir. Catur Rini Sulistyaningsih, MM dihadapan anggota kelompok tani Rukun Makaryo.

Lebih lanjut dikatakannya, ide program kemitraan ini dari ada permasalah mitra yakni limbah CV. JKW belum ditangani secara optimal, limbah yang berupa limbah padat apabila tidak ditangani dapat menyebabkan pencemaran lingkungan,  dan produksi jenis jamu tradisional berbahan dasar tanaman obat-obatan.

"Permasalahan dari mitra tani diantaranya kesulitan mendapatkan bahan baku yang digunakan untuk pembuatan starter MOL yang berupa limbah jamu, peralatan yang digunakan untuk pembuatan pupuk organik masih  sangat sederhana, produk pupuk yang dihasilkan kurang mencukupi karena lahan pertanian sangat luas," paparnya.

Kemudian, wanita yang juga menjabat Kepala Humas dan Kerjasama Univet ini menerangkan limbah jamu berasal dari pembuatan jamu tradisional yang berbahan dasar tanaman obat-obatan.

"Teknik pengolahan jamu tersebut secara umum dapat dibagi menjadi dua metode pengelolaan yaitu pengelolaan secara fisika dan biologi. Limbah jamu yang berupa limbah padat dari sisa proses pengelolaan jamu mengandung berbagai mikroba. Sehingga limbah jamu tersebut mudah mengalami proses dekomposi atau pembusukan," terangnya.

Teknik pembuatan biostarter, menurut Catur Rini Sulityanungsih diawali dari persiapan mikroba dan media yang digunakan diantaranya rummino bacillus, sacharomyces, cereviceae, azotobacter, tetes tebu, media protein dan limbah jamu yang didapat dari penampungan limbah jamu.

"Cara pembuatan biostarter yaitu setelah bahan-bahan microba maupun media yamg akan digunakan siap, maka bahan-bahan itu dicampur dengan perbndingan tertentu dan menunggu proses pemeraman selama 14 hari dengan pengadukan setiap hari setiap pagi dengan proses anaerob," katanya.

Sedangkan proses pembuatan pupuk tahapan yang dilakukan dengan mencampur limbah jamu, rumen sapi, kecambah, bekatul, kunir, tetes tebu dan kotoran ternak sapi.

"Fermentasi secara alami aerob selama satu bulan dengan menggunakan starter mikroba," ungkapnya.

Sementara itu,  Ketua Kelompok Tani Rukun Makaryo, Paiman Hadi S menuturkan pembuatan pupuk menggunakan limbah jamu ini bisa dilaksanakan anggota kelompok tani. Selain itu memberikan manfaat tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi tanah tercukupi zat yang diperlukan tanah menggunakan pupuk organik.

"Tanah lebih sehat begitu pula manusia terbebas dari racun zat kimia yang dibawa oleh tanaman pangan. Berharap semua petani dapat beralih menggunakan pupuk organik. Selain murah juga menyuburkan tanah," ujarnya.

Pihaknya juga berterimakasih kepada Dosen Univet yang memberikan wawasan dan ilmunya sehingga petani di Desa Pereng, Kecamatan Mojogedang semakin maju. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top