Seminar Nasional Komunikasi Politik di Era Digital

Print Friendly and PDF


Pembicara seminar nasional saat foto bersama Rektor Univet Bantara Sukoharjo dan panitia

Hindari Hoax Dalam Komunikasi Politik

Sukoharjo-majalahlarise.com-Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Univet Bantara Sukoharjo menggelar seminar nasional  bertajuk Komunikasi Politik di Era Digital. Seminar itu menghadirkan pemateri Prof. Dr. Hendri Subiakto Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Hukum, Prof. Perwito Guru Besar Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta,  Drs. Muh Toha, S.Sos, M.Si Anggota DPR RI Komisi III dan Drs. Bono Setyo, M.Si, Ketua Umum AKSIKOPTI. Kamis (13/12/2018) di Brothers Hotel Solo Baru.

Dalam penyampaian materi, Prof. Dr. Hendri Subiakto menjelaskan diera digital saat ini dalam berkomunikasi politik banyak berita bohong atau hoax di media sosial. Ciri hoax adalah menimbulkan kebencian dan kekhawatiran yang memunculkan sensitivitas dan aksi.

Hoax itu bisa muncul ketika teknologi memungkinkan semua orang bisa nyebar bisa membuat. Penyebar hoax bisa dilacak lewat emailnya ketika mendaftar dan nomor telepon.  Selain itu perilakunya dapat diketahui melalui big data. Itu yang membedakan media-media digital dengan media masa lalu. Perusahaan digital big data menjadi kekuatannya,” ujarnya.

Dikatakan pula, dalam berpolitik menggunakan big data tidak perlu lagi surve karena klik like mendukung salah satu kandidat masuk algoritma mendukung bisa dipilah dan itu real time.

Big data sangat penting karena kekuatan negara atau perusahaan tergantung data real time yang bisa digunakan untuk mengambil kebijakan, keputusan. Di Indonesia datanya ada di Amerika saat ini pemerintah diupayakan sedang dibuat regulasi menarik data-data itu di Indonesia,” katanya.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret Surakarta, Prof. Perwito menyampaikan budaya komunikasi menggunakan media baru spektakuler memiliki dampak lebih banyak digunakan untuk pemasaran politik. Dia mencontohkan diera tahun 70-an media cd room dan kaset menjadi media baru kala itu dan sekarang sudah dianggap tua yang digunakan untuk penyampaian pesan politik. 

Waktu beda, kebudayaan juga beda. Kebudayaan itu diwariskan ke generasi sekarang sampai kapanpun melalui sosialisasi dengan media baru,” ungkapnya.

Anggota DPR RI Komisi III, Drs. Muh Toha, S.Sos, M.Si mengatakan komunikasi digital menunjukkan popularitas bukan eksabilitas. Namun silaturahmi merupakan strategi efesien politik. Maka dalam komunikasi politik tidak boleh sembarangan harus sesuai tempatnya. 

Politik itu baik, santun, etis sesuai platfon partainya masing-masing mempunyai tata krama dan ungah-ungguh atau tata tertib berpolitik,” ujarnya. 

Sementara itu, Drs. Bono Setyo, M.Si, menjelaskan saat ini komunikaai politik hoax bagian dari strategi politik. Oleh sebab itu, akademisi yang hidup di perguruan tinggi melek pendidikan harus melakukan literasi media.

Hoax menjadi bagian budaya timur. Orang senang sekali membicarakan aib orang. Solusinya komunikasi bermatabat tokoh politik, hindari komunikasi politik dengan hoax, Jangan memilih tokoh yang hoax. Antisipasi selalu mencari kebenaran, dan selalu pakai logika,” terangnya. 

Di tempat yang sama, Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Dr. Ali Mursyid WM, MP mengatakan melalui seminar nasional diharapkan ketika berpolitik dapat berkomunikasi dengan baik sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku. Sehingga ketika menjadi politisi diawali proses komunikasi yang baik akan menjadi politisi yang baik. 

Ketua Pelaksana, Dr. Yoto Widodo menuturkan tahun 2019 merupakan tahun politik maka komunikasi politik sangat penting sekali terutama dikaitkan dengan pemilih pemula.  Sebab pemilih pemula golputnya sangat besar. 

Antisipasi golput dengan meningkatkan partisipasi politik pemilih pemula melalui sosialisasi komunikasi politik secara formal maupun non formal seperti melalui seminar,” katanya. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top