Pemanfaatan Tanaman Tin Jadi Produk Bernilai Ekonomis

Print Friendly and PDF


Ketua Posdaya Lancar Barokah Dusun Norogo, Jarno menunjukan produk hasil olahan daun dan buah tanaman Tin.

Pemanfaatan Tanaman Tin Jadi Produk Bernilai Ekonomis

Sukoharjo-majalahlarise.com-Tanaman Tin yang biasanya tumbuh di Negara Timur Tengah, kini bisa dibudidayakan di Indonesia. Selain buahnya bermanfaat bagi kesehatan daunnya pun bisa dijadikan produk herbal seperti sabun mandi, parfum, obat gosok, teh, obat masuk angin.

Pemanfaatan tanaman Tin menjadi produk bernilai ekonomi ini dilakukan oleh Dosen Fakultas Pertanian Univet Bantara Sukoharjo yaitu Prof. Dr. Ali Mursyid Wahyu Mulyono, M.P, Ir. Joko Setyo Basuki, M.P, Ir. Sri Sukaryani, M.Si, Afriyanti, S.TP, M.Sc melalui program Desa Mitra IbDM Agrobisnis eko wisata di Desa Pokoh Kidul Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri yang dilaksanakan selama 3 tahun.

Prof. Dr. Ali Mursyid WM, M.P mengatakan tahun pertama sudah dilaksanakan penguatan kapasitas mitra untuk bisa mengelola tanaman Tin dengan baik melalui penerapan argo teknologi termasuk teknologi pendukung, teknologi pupuk, teknologi pestisida berbasis organik.

"Kita lakukan pembimbingan, pelatihan pada mitra membuat pupuk organik, pestisida nabati, asam amino perangsang dan pemacu tumbuh tanaman. Tahun pertama berjalan lancar," ungkapnya. Kamis (6/9/2018) di Kampus setempat.

Lebih lanjut dikatakan, tahun kedua dilaksanakan aspek produksi dan penjualan berbasis tanaman Tin. Sedangkan tahun ketiga menjadikan desa Pokoh Kidul menjadi desa kunjungan wisata argobisnis tanaman Tin.

"Jenis produksi berbasis daun Tin berupa parfum, freshtin ekstrak daun tin, telontin, teh daun tin, sabun mandi. Berbasis buah tin berupa buah segar buah tin dan sirup tin," terangnya.

Ketua Posdaya Lancar Barokah dusun Norogo, desa Pokoh Kidul, Jarno menyampaikan tanaman Tin awalnya hanya diambil buahnya dibuat sirup dikerjakan secara manual. Setelah ada penemuan dari tim Univet daunnya bisa dimanfaatkan menjadi berbagai produk bisa dijual.

"Kami bekerjasama dengan komunitas Tin Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk pemberdayaan tanaman Tin. Harapan dari teman-teman komunitas Tin disini jadi sentra pemasaran hasil produk tanaman Tin. Selain itu mampu memiliki bahan baku sendiri untuk produksi olahan Tin," katanya.

Disinggung mengenai pemasaran produk, Jarno menuturkan pemasaran sementara masih melalui event pertemuan dari instansi pemerintah dan dosen Univet. "Kalau kami edarkan ke toko atau warung terkendala bahan baku masih terbatas. Mengenai harga jual tiap produk bervariasi dari harga Rp. 12.000 sampai 35.000 tergantung jenis dan ukurannya," jelasnya.

Sementara itu, Kadus Norogo, Sunarto menjelaskan kendala yang dihadapi pemeliharaan tanaman Tin di lahan bebas tanaman banyak yang mati karena musim kemarau kekurangan air.

"Kalau pengairan mengadalkan sumber air sumur tanah paling dangkal kedalaman 35 meter. Kalau pengairan PDAM biaya sangat mahal. Untuk kedepan kami menanamnya di polibag tidak di lahan bebas agar hemat air saat musim kemarau," ujarnya. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top