Rektor UMS Harap Spirit Ramadhan Tetap Terjaga

Print Friendly and PDF

Dosen dan karyawan beserta keluarga saling bersalam-salaman dalam acara silaturahmi dan halal bi halal keluarga besar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Rektor UMS Harap Spirit Ramadhan Tetap Terjaga

SUKOHARJO-majalahlarise.com-Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar halal bihalal yang diikuti civitas akademika bersama keluarganya, Sabtu (23/6/2018) bertempat di Auditorium Muhammad Djazman.
     Acara bertajuk “Silaturahmi dan Halal Bihalal Keluarga Besar UMS” itu dihadiri ribuan orang yang terdiri dosen dan karyawan bersama keluarganya.
     Dalam sambutannya, Rektor UMS Dr. Sofyan Anif, M.Si berharap spirit Ramadhan yang telah usai akan memberi implikasi positif bagi kinerja dan karya keluarga besar UMS.
     “Ramadhan sudah kita lalui, sekarang kita lanjutkan dengan saling mempererat silaturahmi dan kerjasama. Semoga spirit Ramadhan tidak hilang menguap begitu saja tetapi bisa menghadirkan implikasi makin positif dalam karya dan kinerja ke depan,” ungkapnya.
     Tampak hadir pula mantan Rektor UMS, lalu Ketua BPH Dahlan Rais dan para sesepuh.
     Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hajriyanto Y Thohari yang didaulat memberikan ceramah halal bihalal menguraikan pentingnya silaturahmi dan makin berkurangnya momentum silaturahmi bagi warga Muhammadiyah.
     “Bagi masyarakat Indonesia Hari Raya Idul Fitri adalah hari raya paling besar. Di Jazirah Arab, Ramadhan hanya ditutup saling mendoakan agar ibadah kita diterima Allah SWT. Kemudian makan-makan. Di Tanah Air, dilanjutkan dengan tradisi silaturahmi, sungkeman, pertemuan keluarga dari berbagai daerah serta halal bihalal. Ini hal yang positif dan tidak ada salahnya dirawat meski harus dimaklumi ada sebagian yang tidak sependapat dengan halal bi halal,” ungkap Hajriyanto.
     Ditambahkan Hajriyanto, dalam masyarakat Jawa, Idul Fitri biasa disebut dengan Riyaya dan diperingati dengan tradisi syawalan yang intinya adalah momentum saling silaturahmi di antara warga masyarakat.
     Hajriyanto menyebut, peringatan Hari Raya Idul Fitri dengan tradisi syawalan kemudian halal bi halal, adalah kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
     “Hari Raya Idul Fitri adalah hari raya paling ramai, paling kolektif, paling simbolik, paling nasionalistik, paling umum,” katanya.
     “Paling ramai, karena dirayakan dengan melibatkan banyak pihak. Tidak ada hari raya di Indonesia yang sebesar dan seheboh hari raya lebaran Idul Fitri. Kemudian paling kolektif, ini dirayakan berbagai kalangan. Semua unsur masyarakat merayakan baik anak-anak, dewasa, orang tua, masyarakat desa, perkotaan,” katanya.
     Tak hanya itu, lanjut Hajriyanto, Idul Fitri juga paling nasionalistik. “Karena hari raya ini dinikmati dan dirayakan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Bukan hanya dirayakan orang Islam saja tetapi juga penganut agama lain. Misalnya orang Kristen juga ikut ziarah, ikut mudik, ikut halal bi halal dan seterusnya. Bukan hanya orang jawa, tapi juga orang Sunda, orang Padang, orang Ambon dan suku-suku lain di tanah air,” paparnya.
     Dengan kekayaan makna yang terkandung dalam Hari Raya Idul Fitri di tanah air tersebut hendaknya bisa memberikan kontribusi bukan hanya untuk pribadi umat muslim yang selesai menjalankan ibadah Ramadhan tetapi juga menjadi kontribusi positif bagi persatuan dan kesatuan bangsa dengan semangat silaturahminya.
Acara halal bi halal keluarga besar UMS ditutup dengan doa dan diakhiri saling bersalaman di antara mereka yang hadir. (Dea/Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top